Logo

Anak Makin Digital, Sudahkah Makin Siap Hidup?

Reporter:,Editor:

Jumat, 23 October 2026 00:00 UTC

Anak Makin Digital, Sudahkah Makin Siap Hidup?

Ilustrasi: Cakap Digital, Siap Hidup. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Anak muda Indonesia tumbuh dalam lingkungan yang sangat digital. Telepon genggam, internet, media sosial, video pendek, mesin pencari, hingga kecerdasan buatan semakin dekat dengan keseharian mereka.

Angkanya bahkan terlihat sangat meyakinkan. Badan Pusat Statistik mencatat 94,18 persen penduduk usia 15–24 tahun pada 2025 telah menguasai atau memiliki telepon genggam. Indikator keterampilan teknologi informasi dan komunikasi pada kelompok usia yang sama mencapai 96,50 persen.

Di tingkat nasional, konektivitas juga terus meluas. Survei APJII 2026 mencatat penetrasi internet Indonesia telah mencapai 81,72 persen atau sekitar 235 juta pengguna. Dua tahun sebelumnya, angkanya masih 79,5 persen atau sekitar 221 juta pengguna.

Namun, ada pertanyaan yang lebih penting daripada sekadar berapa banyak anak terkoneksi: apakah kedekatan dengan teknologi benar-benar membuat mereka lebih siap menghadapi kehidupan?


Terhubung Belum Tentu Berdaya

Memegang smartphone dan mampu mengoperasikan aplikasi adalah keterampilan dasar. Nilainya penting, tetapi belum cukup untuk menghadapi dunia yang berubah cepat.

Anak bisa sangat cekatan membuat video, mencari informasi, mengedit foto, atau menggunakan aplikasi berbasis AI. Namun, kemampuan tersebut berbeda dengan kecakapan menilai kebenaran informasi, memecahkan masalah, bekerja bersama orang lain, membuat keputusan, dan menghasilkan sesuatu yang bernilai.

Gambaran nasional menunjukkan ruang pengembangan itu masih besar. Indeks Masyarakat Digital Indonesia 2025 berada pada skor 44,53, naik 1,19 poin dibandingkan tahun sebelumnya. Indeks yang disusun Kementerian Komunikasi dan Digital tersebut melihat empat pilar, yakni infrastruktur dan ekosistem, literasi digital, pemberdayaan, serta pekerjaan.

Artinya, transformasi digital tidak selesai ketika masyarakat berhasil terkoneksi. Tantangan berikutnya adalah mengubah konektivitas menjadi kapasitas.


Ada Jarak antara Layar dan Dunia Nyata

Kontras yang menarik terlihat pada kelompok usia muda. Data BPS menunjukkan indikator keterampilan TIK penduduk usia 15–24 tahun pada 2025 mencapai 96,50 persen. Angka perempuan bahkan sedikit lebih tinggi, yakni 96,80 persen, sedangkan laki-laki 96,20 persen.

Namun, pada tahun yang sama, BPS mencatat 19,44 persen anak muda usia 15–24 tahun berada dalam kondisi NEET, yakni tidak sedang sekolah, bekerja, maupun mengikuti pelatihan.

Di Jawa Timur angkanya 16,76 persen. Sementara Jawa Barat mencapai 24,84 persen. Tentu tidak tepat menyimpulkan bahwa kemampuan digital menjadi penyebab kondisi NEET. Kedua indikator tersebut mengukur hal berbeda dan dipengaruhi banyak faktor.

Namun, ketika dibaca bersama, keduanya memberi pesan penting: akses dan kemampuan menggunakan teknologi tidak otomatis menjamin seseorang berhasil menemukan jalur pendidikan, pelatihan, pekerjaan, atau aktivitas produktif.

Inilah alasan pendidikan digital seharusnya bergerak melampaui kemampuan teknis. Anak tidak cukup diajari bagaimana menggunakan perangkat. Mereka perlu belajar untuk apa perangkat itu digunakan.

 

Tantangan Berikutnya Adalah Mengubah Konsumsi Menjadi Kreasi

Internet memberi anak akses terhadap pengetahuan yang dahulu sulit dibayangkan. Dalam beberapa detik, mereka dapat menemukan tutorial, membaca buku, mempelajari bahasa, melihat praktik bisnis, hingga berkomunikasi dengan orang dari negara lain.

Tetapi ruang digital yang sama juga menawarkan hiburan tanpa batas. UNICEF Indonesia melaporkan hampir seluruh anak di Indonesia menggunakan internet, dengan rata-rata penggunaan mencapai 5,4 jam per hari. Kajian UNICEF sebelumnya juga menemukan penggunaan internet anak banyak diarahkan untuk bersosialisasi dan hiburan.

Karena itu, perdebatan mengenai anak dan teknologi sebaiknya tidak berhenti pada persoalan membatasi screen time. Pertanyaan yang lebih produktif adalah: apa yang dihasilkan anak selama berada di depan layar?

Dua jam membuat desain, mempelajari bahasa asing, menyusun presentasi, mengembangkan proyek sosial, atau belajar pemrograman tentu memiliki karakter berbeda dibandingkan dua jam menggulir konten tanpa tujuan. Durasi penting. Namun, kualitas aktivitas digital juga perlu diperhatikan.
 

Sekolah Perlu Membawa Teknologi Kembali ke Kehidupan

Pendidikan masa depan tidak harus membuat anak semakin lama berada di depan komputer. Justru teknologi seharusnya menjadi jembatan menuju pengalaman nyata.

Anak dapat menggunakan internet untuk mencari persoalan lingkungan di sekitar rumah, kemudian turun melakukan observasi. Mereka bisa memakai spreadsheet untuk mengolah data sederhana, lalu mempresentasikan temuannya.

Mereka dapat mempelajari pemasaran digital, kemudian membantu usaha kecil membuat katalog produk. Mereka bisa menggunakan AI untuk mencari alternatif gagasan, tetapi tetap harus memeriksa fakta, berdiskusi, mengambil keputusan, dan mempertanggungjawabkan hasil akhirnya.

Di sinilah project-based learning, kegiatan lapangan, organisasi, kewirausahaan, kegiatan sosial, Kepramukaan, olahraga, seni, dan pengalaman hidup bersama mendapatkan relevansi baru.

Teknologi tidak ditempatkan sebagai tujuan pendidikan. Teknologi menjadi alat untuk memperbesar kemampuan manusia belajar, bekerja sama, berkreasi, dan menyelesaikan persoalan.

Pendekatan seperti ini juga membuat literasi digital terasa lebih nyata. Anak belajar bahwa informasi harus diverifikasi, privasi harus dijaga, AI memiliki keterbatasan, dan jejak digital membawa konsekuensi.
 

Orang Tua Tak Perlu Selalu Menjadi Polisi Gadget

Perubahan pendekatan juga dibutuhkan di rumah. Hubungan orang tua dan anak mengenai teknologi sering terjebak pada negosiasi waktu: berapa jam boleh bermain ponsel, kapan internet harus dimatikan, atau aplikasi apa yang dilarang.

Pengawasan tetap diperlukan, terutama untuk anak yang lebih muda. Risiko ruang digital memang nyata. UNICEF melaporkan hanya 37,5 persen anak dalam kajiannya pernah memperoleh informasi mengenai cara tetap aman saat daring. Sebanyak 42 persen mengaku pernah merasa tidak nyaman atau takut akibat pengalaman di internet.

Karena itu, keluarga membutuhkan percakapan yang lebih luas daripada sekadar larangan.

Orang tua bisa bertanya apa yang sedang dipelajari anak, siapa yang mereka ikuti, bagaimana mereka mengetahui sebuah informasi benar, karya apa yang pernah dibuat, atau keterampilan baru apa yang ditemukan melalui internet.

Percakapan semacam itu perlahan mengubah posisi teknologi. Gadget tidak lagi hanya dipandang sebagai sumber hiburan atau ancaman, tetapi sebagai alat yang harus digunakan dengan tujuan dan tanggung jawab.

Anak Indonesia hari ini mungkin merupakan generasi paling terkoneksi yang pernah kita miliki. Mereka tumbuh dengan akses terhadap pengetahuan, jaringan, dan teknologi yang jauh lebih luas dibandingkan generasi sebelumnya. Peluangnya luar biasa besar.

Namun, pekerjaan pendidikan tidak selesai ketika anak sudah cakap digital. Tantangan sesungguhnya adalah memastikan mereka juga mampu berpikir, bekerja bersama, mengambil keputusan, beradaptasi, menciptakan sesuatu, dan memberi manfaat bagi lingkungan.

Sebab masa depan tidak hanya membutuhkan generasi yang tahu cara menggunakan teknologi. Masa depan membutuhkan generasi yang tahu apa yang harus dilakukan dengannya.