Rabu, 21 October 2026 08:00 UTC

Ilustrasi: Bergerak Biar Bugar. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Olahraga tidak selalu membutuhkan gym atau perlengkapan mahal. Kadang, yang paling dibutuhkan hanyalah kemauan untuk mulai bergerak.
Anak muda sering dianggap sebagai kelompok paling aktif secara fisik. Mereka berada pada usia produktif, memiliki mobilitas tinggi, dan relatif lebih kuat dibandingkan kelompok usia lanjut.
Data justru menunjukkan gambaran yang perlu diperhatikan.
Badan Pusat Statistik mencatat hanya 31,64 persen pemuda Indonesia yang berolahraga dalam seminggu terakhir pada 2024. Artinya, sebagian besar pemuda belum tercatat melakukan aktivitas olahraga dalam periode tersebut.
Angkanya bahkan lebih rendah dibandingkan kelompok usia sekolah yang mencapai 57 persen. Pada kelompok anak, persentasenya mencapai 78,65 persen. Padahal Indonesia mempunyai sekitar 64,22 juta pemuda pada 2024. Jumlah itu setara sekitar seperlima penduduk Indonesia.
Ketika kelompok sebesar ini kurang aktif bergerak, persoalannya bukan lagi sekadar pilihan gaya hidup pribadi. Kebiasaan bergerak akan ikut menentukan kualitas kesehatan dan produktivitas masyarakat pada masa depan.
Semakin Dewasa, Aktivitas Fisik Justru Menurun
Ada pola menarik dalam data olahraga masyarakat Indonesia. BPS mencatat 33,23 persen penduduk berusia lima tahun ke atas melakukan olahraga dalam seminggu terakhir pada 2024. Namun, tingkat partisipasinya berbeda cukup jauh berdasarkan kelompok umur.
Pada kelompok anak, persentasenya 78,65 persen. Memasuki usia sekolah turun menjadi 57 persen. Pada kelompok pemuda tinggal 31,64 persen.
Setelah itu, penurunannya semakin tajam. Kelompok pra-lansia tercatat 12,91 persen, sedangkan lansia hanya 10,88 persen. Angka tersebut memberi gambaran bahwa bertambahnya usia cenderung diikuti berkurangnya kebiasaan berolahraga.
Salah satu penyebabnya mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Aktivitas fisik yang dahulu menjadi bagian dari permainan perlahan digantikan jadwal sekolah, kuliah, pekerjaan, perjalanan, dan waktu di depan layar.
Seseorang mungkin merasa sibuk sepanjang hari, tetapi kesibukan tidak selalu berarti tubuh banyak bergerak. Duduk di kendaraan, bekerja menggunakan laptop, mengikuti rapat, belajar di kelas, dan menggunakan ponsel merupakan aktivitas yang menyita waktu tanpa membutuhkan banyak gerakan tubuh.
Indonesia Mulai Lebih Aktif, tetapi Belum Cukup
Ada kabar positif dari Kementerian Pemuda dan Olahraga. Indeks Pembangunan Olahraga Indonesia pada 2024 mencapai 0,334 dalam skala 0 hingga 1. Angka tersebut naik 0,007 poin dibandingkan 2023 yang berada pada 0,327.
Pengukurannya cukup luas. Kemenpora melibatkan 20.010 responden yang tersebar di 38 provinsi, 246 kabupaten/kota, 588 kecamatan, serta 668 desa dan kelurahan. Indeks partisipasi olahraga masyarakat meningkat dari 0,254 pada 2023 menjadi 0,263 pada 2024.
Indeks kebugaran jasmani juga bergerak dari 0,179 menjadi 0,196 dalam periode yang sama. Pergerakannya memang positif. Namun, angka tersebut sekaligus menunjukkan bahwa masih tersedia ruang sangat besar untuk membangun masyarakat yang lebih aktif.
Kemenpora bahkan menemukan hubungan positif antara partisipasi olahraga dan kebugaran jasmani. Semakin baik partisipasi masyarakat, semakin terbuka pula peluang peningkatan kebugarannya. Pesannya sederhana: tubuh memang perlu digunakan untuk bergerak.
Olahraga Tidak Harus Dimulai dari Gym
Salah satu penghalang untuk mulai berolahraga adalah bayangan bahwa aktivitas fisik membutuhkan biaya. Ada sepatu khusus, pakaian olahraga, jam pintar, membership gym, suplemen, hingga berbagai perlengkapan yang kemudian membuat olahraga terlihat seperti bagian dari gaya hidup mahal. Padahal bergerak dapat dimulai tanpa sebagian besar benda tersebut.
Berjalan kaki adalah contoh paling sederhana. Naik tangga, bersepeda, jogging ringan, senam, bermain bulu tangkis, atau melakukan latihan menggunakan berat tubuh sendiri juga dapat menjadi pilihan.
Ruangnya pun tidak selalu harus berupa fasilitas olahraga khusus. Halaman rumah, lapangan kampung, taman kota, area sekitar kompleks, atau jalan lingkungan yang aman dapat menjadi tempat bergerak. Yang lebih penting adalah konsistensi.
Olahraga satu kali dengan intensitas tinggi kemudian berhenti berminggu-minggu sulit menjadi kebiasaan. Aktivitas sederhana yang dilakukan secara teratur justru lebih realistis dipertahankan dalam kehidupan sehari-hari.
Teman Bisa Membuat Olahraga Lebih Menyenangkan
Banyak orang berhenti berolahraga bukan karena tubuh tidak mampu, melainkan karena aktivitas tersebut terasa membosankan. Di sinilah unsur sosial dapat membantu.
Berjalan bersama teman membuat perhatian tidak hanya tertuju pada jarak. Bersepeda bersama komunitas menghadirkan tujuan sosial. Bermain bulu tangkis memberikan unsur permainan yang tidak terasa seperti latihan fisik formal. Bagi anak muda, pendekatan semacam ini penting.
Olahraga tidak harus selalu diposisikan sebagai kewajiban untuk mendapatkan bentuk tubuh tertentu. Bergerak juga dapat menjadi cara bertemu teman, menjelajah lingkungan, menikmati udara luar, atau sekadar memecah rutinitas. Kebiasaan kecil bahkan bisa dimulai dari janji sederhana.
Misalnya, berjalan 20 atau 30 menit bersama setelah kuliah. Bermain badminton seminggu sekali. Bersepeda pada akhir pekan. Atau memilih berjalan ketika jarak tujuan masih memungkinkan. Ketika aktivitas fisik menjadi kegiatan sosial yang menyenangkan, mempertahankannya sering terasa lebih mudah.
Jangan Tunggu Tubuh Meminta Perhatian
Masa muda sering membuat seseorang merasa memiliki cadangan energi tanpa batas. Kurang tidur masih terasa bisa ditoleransi. Duduk berjam-jam belum menimbulkan keluhan berarti. Berat badan mungkin masih stabil meski aktivitas fisik minim. Kondisi itu dapat menciptakan rasa aman yang semu.
Kebugaran tidak hanya berkaitan dengan penampilan. Tubuh yang bugar membantu seseorang menjalani aktivitas sehari-hari tanpa cepat lelah serta mempertahankan kemampuan fisik dalam jangka panjang.
Karena itu, kebiasaan bergerak sebaiknya dibangun ketika tubuh masih sehat, bukan baru dimulai ketika muncul masalah. Tidak perlu langsung menetapkan target ekstrem.
Mulailah dengan durasi yang realistis. Pilih aktivitas yang menyenangkan. Tentukan jadwal yang bisa dipertahankan. Bila satu jenis olahraga terasa membosankan, ganti dengan aktivitas lain. Yang perlu dibangun bukan identitas sebagai atlet, melainkan kebiasaan sebagai manusia yang aktif.
Indonesia memiliki lebih dari 64 juta pemuda. Jika semakin banyak dari mereka membangun kebiasaan bergerak sejak sekarang, manfaatnya akan jauh melampaui urusan olahraga.
Generasi yang lebih aktif berpeluang tumbuh menjadi masyarakat yang lebih bugar dan produktif. Dan semuanya dapat dimulai dari tindakan yang sangat sederhana: berdiri, keluar, lalu bergerak.
