Logo

Teman Banyak, Mengapa Anak Muda Masih Merasa Sepi?

Ratusan nama bisa tersimpan di ponsel, tetapi manusia tetap membutuhkan seseorang yang benar-benar hadir.
Reporter:,Editor:

Minggu, 25 October 2026 13:00 UTC

Teman Banyak, Mengapa Anak Muda Masih Merasa Sepi?

Ilustrasi: Bertemu Tanpa Sibuk Layar. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Pertemanan anak muda hari ini mungkin menjadi yang paling terkoneksi sepanjang sejarah. Pesan dapat dikirim kapan saja, percakapan berlangsung dalam grup, foto teman muncul setiap hari, dan seseorang bisa mengetahui kegiatan orang lain tanpa pernah bertemu.

Namun, koneksi digital yang sangat padat tidak otomatis membuat seseorang merasa dekat dengan orang lain. Persoalan ini semakin penting karena Indonesia sedang didominasi penduduk usia produktif.

Hasil Sensus Penduduk 2020 dari Badan Pusat Statistik mencatat Generasi Z mencapai 27,94 persen penduduk Indonesia, sedangkan milenial 25,87 persen.

Dua generasi tersebut mencakup lebih dari separuh penduduk Indonesia. Cara mereka membangun hubungan sosial ikut menentukan wajah masyarakat dalam beberapa dekade mendatang.
 

Internet Membuat Kita Selalu Terhubung

Ruang pertemanan memang berubah sangat cepat. BPS mencatat 72,78 persen penduduk Indonesia telah mengakses internet pada 2024, meningkat dari 69,21 persen setahun sebelumnya.

Pada kelompok muda, keterhubungan digital jauh lebih kuat. Data BPS 2025 menunjukkan 96,50 persen penduduk usia 15–24 tahun telah memiliki keterampilan teknologi informasi dan komunikasi. Ponsel akhirnya bukan lagi sekadar alat komunikasi.

Di dalam satu perangkat terdapat ruang pertemanan, hiburan, sekolah, komunitas, permainan, video, musik, berita, hingga tempat mencari pasangan.

Bagi anak muda yang tinggal berjauhan, teknologi memberi manfaat besar. Teman lama tetap dapat berkomunikasi. Keluarga dapat saling melihat melalui panggilan video. Orang dengan minat khusus bisa menemukan komunitas yang sebelumnya sulit dijangkau.

Masalah muncul ketika koneksi digital mulai menggantikan hampir seluruh pertemuan nyata.


Kesepian Bukan Berarti Tidak Punya Teman

Kesepian sering disalahartikan sebagai keadaan ketika seseorang tidak mempunyai teman. Padahal, seseorang dapat berada di tengah banyak orang dan tetap merasa sendirian.

World Health Organization melaporkan sekitar satu dari enam orang di dunia mengalami kesepian. WHO juga memperkirakan kesepian berkaitan dengan sekitar 871.000 kematian setiap tahun atau sekitar 100 kematian setiap jam.

Masalah hubungan sosial bahkan cukup serius sehingga WHO membentuk Commission on Social Connection untuk mendorong perhatian global terhadap isolasi sosial dan kesepian. Kelompok muda termasuk yang perlu diperhatikan.

WHO mencatat kesepian paling banyak dilaporkan pada remaja dan orang dewasa muda. Sekitar 17–21 persen kelompok usia 13–29 tahun dilaporkan mengalami kesepian, dengan tingkat tertinggi ditemukan pada remaja.

Angka tersebut menunjukkan satu hal penting: kesepian bukan persoalan kecil yang cukup dijawab dengan menyuruh seseorang mencari lebih banyak teman. Yang dibutuhkan bukan hanya jumlah hubungan, tetapi kualitas hubungan.


Media Sosial Tidak Selalu Menjadi Penyebab

Mudah sekali menyalahkan media sosial. Namun, persoalannya tidak sesederhana itu. Teknologi dapat memperkuat hubungan ketika digunakan untuk mempertahankan komunikasi, membuat janji bertemu, berbagi pengalaman, menemukan komunitas, atau membantu seseorang ketika sedang membutuhkan dukungan.

Masalahnya terletak pada pola penggunaan. Seseorang bisa menghabiskan satu jam mengobrol dengan sahabat melalui video call dan merasa lebih dekat. Orang lain dapat menghabiskan waktu yang sama menggulir ratusan unggahan tanpa berbicara dengan siapa pun.

Aktivitasnya sama-sama berlangsung melalui layar, tetapi pengalaman sosialnya berbeda. Kebiasaan membandingkan kehidupan sendiri dengan potongan terbaik kehidupan orang lain juga dapat memengaruhi cara seseorang melihat dirinya.

Teman sedang berlibur. Orang lain memperoleh pekerjaan baru. Seseorang mengunggah pesta bersama kelompoknya. Sementara kita sedang duduk sendirian di kamar. Padahal, yang terlihat di layar hanyalah potongan kehidupan yang dipilih untuk ditampilkan.


Pertemuan Nyata Masih Sulit Digantikan 

Ada sesuatu dalam pertemuan langsung yang belum sepenuhnya dapat digantikan teknologi. Nada bicara, ekspresi wajah, gerak tubuh, sentuhan, jeda percakapan, hingga aktivitas yang dilakukan bersama membantu manusia membangun kedekatan. Karena itu, kegiatan sederhana tetap memiliki nilai besar.

Makan bersama tanpa terus memegang ponsel. Berjalan kaki dengan teman. Bermain bulu tangkis. Mengikuti kegiatan komunitas. Belajar bersama. Mengunjungi saudara. Bergabung dengan organisasi. Bahkan percakapan tanpa agenda tertentu dapat menjadi penting.

Hubungan sosial tidak selalu harus produktif. Tidak setiap pertemuan harus menghasilkan proyek, konten, foto, atau unggahan. Kadang, duduk selama satu jam dan berbicara tentang hal biasa sudah cukup untuk mempertahankan sebuah persahabatan.


Organisasi Bisa Menjadi Ruang Pertemanan

Sekolah dan keluarga memiliki peran penting, tetapi ruang sosial anak muda tidak berhenti di sana. Organisasi, klub olahraga, kelompok seni, komunitas lingkungan, organisasi kepemudaan, kegiatan Kepramukaan, kelompok belajar, dan berbagai aktivitas sukarela dapat menjadi tempat membangun hubungan yang berbeda.

Di ruang seperti itu, seseorang bertemu orang lain melalui aktivitas bersama. Mereka bukan hanya saling mengikuti akun. Mereka mengangkat barang bersama, menyelesaikan tugas, berdebat, tertawa, menghadapi kesulitan, membuat kesalahan, lalu belajar memperbaikinya.

Interaksi semacam ini membentuk keterampilan sosial yang sulit dipelajari hanya melalui percakapan digital. Anak belajar mendengarkan. Ia belajar membaca situasi, menghadapi perbedaan karakter, menyampaikan pendapat, meminta maaf, menunggu giliran, dan bekerja bersama orang yang mungkin tidak selalu ia sukai. Itulah bagian penting dari kehidupan sosial.


Coba Mulai dari Satu Jam

Mengurangi kesepian tidak selalu membutuhkan perubahan besar. Satu kebiasaan sederhana dapat dicoba: menyediakan waktu khusus untuk benar-benar hadir bersama orang lain.

Satu jam makan malam tanpa ponsel. Satu sore berolahraga dengan teman. Satu kunjungan ke rumah saudara. Satu kegiatan komunitas setiap pekan. Atau sekadar menelepon seorang teman lama dan bertanya bagaimana kabarnya, kemudian benar-benar mendengarkan jawabannya. Tujuannya bukan memusuhi teknologi.

Internet telah memberi manusia kemampuan luar biasa untuk mempertahankan hubungan melintasi kota, negara, bahkan benua. Yang perlu dijaga adalah agar kemudahan terhubung tidak membuat kita kehilangan kemampuan untuk hadir.

Indonesia memiliki generasi muda yang sangat terkoneksi secara digital. Sebanyak 96,50 persen kelompok usia 15–24 tahun telah memiliki keterampilan TIK.

Namun, kehidupan sosial tidak dapat diukur dari jumlah kontak, pengikut, atau grup percakapan. Pada akhirnya, manusia membutuhkan manusia lain yang mau menyediakan waktu, mendengarkan, tertawa bersama, dan tetap berada di sana ketika layar sudah dimatikan.

Teman boleh banyak. Yang jauh lebih berharga adalah merasa benar-benar ditemani.