Selasa, 22 September 2026 08:00 UTC

Ilustrasi: Bawaan Tetap Aman. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Barang bawaan di motor sering ditempatkan berdasarkan kemudahan, bukan keamanan. Kantong belanja digantung di setang, tas ditaruh di area kaki, sementara barang kecil diselipkan seadanya agar perjalanan terasa lebih praktis.
Kebiasaan itu perlu diperhatikan karena sepeda motor merupakan kendaraan dominan di Indonesia. Data BPS menunjukkan jumlah sepeda motor mencapai sekitar 132,43 juta unit pada 2023. Pada tahun yang sama, mobil penumpang tercatat sekitar 18,29 juta unit.
Motor memang praktis untuk mobilitas harian, tetapi ruang penyimpanannya terbatas. Karena itu, cara membawa barang perlu mempertimbangkan kestabilan kendaraan, keleluasaan pengendara, dan karakter barang yang dibawa.
Barang Bawaan di Motor Jangan Mengganggu Kendali
Setang sering menjadi tempat paling menggoda untuk menggantung barang. Posisi tersebut mudah dijangkau dan tidak membutuhkan waktu untuk membuka bagasi.
Namun, barang yang bergantung dan bergerak mengikuti laju motor berpotensi mengganggu keleluasaan pengendara. Terlebih jika ukurannya besar atau bebannya tidak seimbang antara sisi kanan dan kiri.
Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 mengatur bahwa sepeda motor tanpa kereta samping dapat membawa barang dengan ketentuan tertentu. Muatan tidak boleh melebihi lebar setang kemudi, tingginya maksimal 900 milimeter dari tempat duduk pengemudi, dan harus ditempatkan di belakang pengemudi.
Ketentuan tersebut memberi gambaran sederhana bahwa membawa barang menggunakan motor bukan aktivitas tanpa batas. Posisi dan dimensinya tetap harus mempertimbangkan fungsi dasar kendaraan.
Area kaki pada skuter matik juga sering berubah menjadi tempat barang. Ruang tersebut memang terasa praktis, tetapi pengendara tetap membutuhkan posisi kaki yang stabil dan bebas selama mengendalikan motor.
Jika motor menyediakan bagasi yang memadai, ruang tertutup tersebut umumnya lebih praktis untuk barang kecil yang sesuai kapasitas dan tidak sensitif terhadap kondisi penyimpanan.
Tas Harian Perlu Stabil Selama Perjalanan
Tas punggung menjadi salah satu pilihan paling umum untuk pekerja, pedagang, maupun masyarakat yang beraktivitas dengan motor. Bebannya ikut bergerak bersama tubuh pengendara.
Tas yang terlalu berat dapat membuat perjalanan terasa melelahkan, terutama jika durasinya panjang. Posisi tali yang longgar juga membuat tas lebih mudah bergeser ketika motor berbelok atau melewati permukaan jalan tidak rata.
Beban yang dibawa tubuh memang berkaitan dengan keluhan muskuloskeletal. National Institute for Occupational Safety and Health atau NIOSH menjelaskan bahwa faktor seperti gaya atau beban, postur tubuh, serta pengulangan aktivitas termasuk faktor risiko gangguan muskuloskeletal terkait pekerjaan.
Konteks berkendara tentu berbeda dengan aktivitas kerja yang diteliti dalam ergonomi. Namun, prinsip menjaga beban dan posisi tubuh tetap masuk akal diterapkan ketika membawa tas menggunakan motor.
Barang yang paling berat sebaiknya tidak dibiarkan bergerak bebas di dalam tas. Atur isi agar stabil dan hindari membawa barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan sepanjang hari.
Untuk perjalanan rutin, kebiasaan mengecek isi tas sebelum berangkat dapat mengurangi beban tanpa biaya apa pun. Charger cadangan, botol kosong, dokumen lama, atau benda lain sering ikut terbawa berhari-hari tanpa digunakan.
Membawa Barang Besar Memerlukan Pertimbangan Berbeda
Motor kerap menjadi solusi ketika seseorang perlu membawa kardus, galon kecil, barang belanjaan, atau paket. Kemampuan kendaraan kemudian terasa lebih besar daripada ruang yang sebenarnya tersedia.
Pada kondisi seperti ini, pertanyaan pertama seharusnya bukan sekadar apakah barang dapat dinaikkan ke motor. Pertimbangkan pula apakah pengendara masih bisa duduk normal, melihat spion, mengendalikan setang, dan menjaga keseimbangan.
Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2014 juga memberikan batas untuk angkutan barang dengan sepeda motor. Lebar muatan tidak boleh melebihi setang kemudi, tinggi maksimal 900 milimeter dari tempat duduk, dan barang ditempatkan di belakang pengemudi.
Barang yang terlalu besar untuk memenuhi batas tersebut lebih baik dibawa menggunakan kendaraan yang sesuai. Memaksakan satu perjalanan justru dapat mengurangi kemampuan pengendara menghadapi situasi mendadak.
Prinsip ini semakin relevan mengingat keselamatan jalan masih menjadi persoalan besar. Korlantas Polri mencatat 158.508 kejadian kecelakaan lalu lintas selama 2025, meningkat sekitar 5 persen dari 150.906 kejadian pada 2024.
Angka kecelakaan tersebut tentu berasal dari beragam penyebab. Data itu tidak berarti barang bawaan menjadi penyebab seluruh kejadian, tetapi menunjukkan pentingnya mengurangi faktor risiko yang berada dalam kendali pengendara.
Ponsel Jangan Berubah Menjadi Sumber Distraksi
Barang bawaan yang paling kecil justru dapat menciptakan gangguan besar. Ponsel mudah menarik perhatian melalui notifikasi, panggilan, pesan, atau petunjuk navigasi.
Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 mewajibkan pengemudi mengemudikan kendaraan dengan wajar dan penuh konsentrasi. Penjelasan undang-undang memasukkan penggunaan telepon atau menonton televisi maupun video yang terpasang pada kendaraan sebagai aktivitas yang dapat mengganggu konsentrasi.
Karena itu, tujuan navigasi sebaiknya ditentukan sebelum motor bergerak. Bila perlu membalas pesan penting atau mengubah rute, cari lokasi aman untuk berhenti terlebih dahulu.
Kebiasaan menyimpan ponsel juga dapat membantu mengurangi dorongan mengecek layar. Barang tersebut tidak harus selalu berada di posisi yang langsung terlihat selama perjalanan.
Pengendara juga perlu berhati-hati menaruh ponsel, power bank, atau perangkat elektronik di ruang penyimpanan yang panas. Ikuti rekomendasi produsen perangkat mengenai suhu penggunaan dan penyimpanannya.
Praktis Tidak Harus Mengorbankan Keamanan
Kelebihan sepeda motor memang terletak pada kepraktisan. Kendaraan ini mudah digunakan untuk perjalanan pendek, aktivitas harian, hingga membawa kebutuhan dalam jumlah terbatas.
Namun, praktis bukan berarti setiap ruang kosong harus diisi. Setang, area kaki, jok, dan tubuh pengendara memiliki fungsi yang berkaitan langsung dengan pengendalian kendaraan.
Sebelum berangkat, lihat kembali barang bawaan di motor. Pastikan tidak ada benda yang mudah jatuh, bergeser, menutupi pandangan, membatasi setang, atau mengganggu posisi tubuh.
Jika muatan terasa terlalu besar, membaginya menjadi perjalanan lain atau menggunakan moda yang lebih sesuai merupakan pilihan yang lebih masuk akal.
Pada akhirnya, mengatur barang bawaan di motor adalah bagian dari kebiasaan berkendara sehari-hari. Barang yang tertata membuat pengendara lebih leluasa memberikan perhatian kepada hal yang paling penting: jalan dan lalu lintas di sekitarnya.
