Selasa, 22 September 2026 00:00 UTC

Ilustrasi: Siap Berkendara Aman. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Rutinitas sebelum naik motor sering dianggap sepele karena sepeda motor sudah menjadi bagian dari keseharian. Tinggal memakai helm, menyalakan mesin, lalu berangkat. Padahal, beberapa pemeriksaan sederhana dapat membantu pengendara menemukan masalah sebelum berada di tengah lalu lintas.
Posisi sepeda motor dalam mobilitas masyarakat memang sangat besar. Sebagai gambaran, Statistik Transportasi Jawa Barat 2024 mencatat 23,35 juta sepeda motor dari total 27,10 juta kendaraan bermotor. Proporsinya mencapai 86,14 persen.
Besarnya penggunaan tersebut membuat kebiasaan kecil sebelum berkendara semakin relevan. Motor yang digunakan setiap hari membutuhkan perhatian bukan hanya ketika servis berkala tiba.
Rutinitas Sebelum Naik Motor Dimulai dari Kondisi Kendaraan
Pemeriksaan tidak harus berubah menjadi ritual teknis yang panjang. Pengendara bisa memulainya dengan melihat kondisi ban, memastikan tidak tampak terlalu kempis, retak, atau memiliki benda asing yang menempel.
Berikutnya, perhatikan rem, lampu utama, lampu rem, sein, dan klakson. Spion juga perlu berada pada posisi yang memberikan pandangan belakang secara memadai sebelum perjalanan dimulai.
Kebiasaan ini terasa sederhana, tetapi konteks keselamatan di jalan tidak bisa diremehkan. Pusiknas Polri mencatat 144.578 kasus kecelakaan lalu lintas sepanjang 2024, dengan kerugian materiil sekitar Rp278,98 miliar. Tabrakan depan-belakang menjadi jenis yang paling sering tercatat, mencapai 19.996 kasus.
Data Korlantas pada periode berbeda juga menunjukkan tingginya keterlibatan kendaraan roda dua. Hingga 5 Agustus 2024, IRSMS mencatat 79.220 kecelakaan, sementara sepeda motor mendominasi kendaraan yang terlibat dengan porsi 76,42 persen.
Angka tersebut bukan berarti setiap kecelakaan dapat dicegah hanya dengan mengecek motor. Namun, kondisi kendaraan dan kesiapan pengendara tetap menjadi bagian penting dari perjalanan yang lebih aman.
Jangan Berangkat Saat Tubuh Belum Benar-Benar Siap
Motor yang sehat belum cukup apabila pengendaranya sedang tidak siap. Mengantuk, terburu-buru, kurang konsentrasi, atau tubuh terlalu lelah dapat memengaruhi respons ketika menghadapi situasi mendadak.
Korlantas pernah mencatat gagal menjaga jarak sebagai penyebab kecelakaan terbanyak selama Operasi Ketupat 2024, sebanyak 1.117 kasus. Kelalaian terhadap lalu lintas di depan tercatat 956 kasus, sedangkan melampaui batas kecepatan mencapai 397 kasus. Kelelahan fisik juga disorot karena dapat menurunkan konsentrasi.
Karena itu, satu menit sebelum berangkat dapat dipakai untuk menilai kondisi diri. Bila mata terasa berat atau konsentrasi buyar, perjalanan sebaiknya tidak dipaksakan seperti kondisi normal.
Pengendara juga perlu mempertimbangkan cuaca dan durasi perjalanan. Rute yang panjang membutuhkan kesiapan berbeda dibanding perjalanan lima menit menuju minimarket.
Helm dan Perlengkapan Bukan Sekadar Formalitas
Helm kadang baru dicari setelah mesin motor menyala. Kebiasaan seperti ini membuat perlengkapan keselamatan terasa sebagai pelengkap, bukan bagian utama dari persiapan.
Korlantas Polri menekankan penggunaan helm berstandar SNI serta perlengkapan seperti sarung tangan dan jaket sebagai bagian dari keselamatan dan kenyamanan pengendara roda dua.
Helm juga perlu terpasang dengan benar, bukan sekadar berada di kepala. Tali pengikat harus terkunci dan ukurannya tidak terlalu longgar sehingga mudah bergeser.
Jaket, celana panjang, sarung tangan, serta alas kaki tertutup dapat memberi perlindungan tambahan terhadap paparan lingkungan dan gesekan. Perlengkapan tersebut tetap harus dipilih dengan mempertimbangkan kenyamanan agar tidak mengganggu gerak.
Kebiasaan menaruh perlengkapan di lokasi yang mudah dijangkau juga membantu. Pengendara tidak perlu terburu-buru mencari sarung tangan atau helm ketika sudah terlambat berangkat.
Barang Bawaan Perlu Ikut Diperiksa
Persiapan motor bukan hanya urusan mesin dan perlengkapan tubuh. Barang bawaan juga dapat memengaruhi kenyamanan ketika berkendara.
Tas sebaiknya tertutup dan terpasang stabil. Barang yang menggantung pada setang atau mudah bergeser dapat mengganggu kontrol, terutama ketika pengendara melakukan pengereman atau bermanuver.
Benda penting seperti ponsel juga lebih aman disiapkan sebelum perjalanan. Atur navigasi dan tujuan ketika motor masih berhenti sehingga perhatian tidak terpecah saat kendaraan sudah bergerak.
Kebiasaan ini semakin penting karena persoalan keselamatan lalu lintas masih besar. Data terbaru yang disampaikan Korlantas pada Juni 2026 mencatat 158.508 kejadian kecelakaan selama 2025, meningkat sekitar 5 persen dibanding 150.906 kejadian pada 2024.
Keselamatan akhirnya bukan hanya perkara mahir mengendalikan kendaraan. Kemampuan mengurangi distraksi dan mempersiapkan perjalanan ikut menentukan kualitas berkendara.
Dua Menit Persiapan Bisa Menjadi Kebiasaan Harian
Rutinitas sebelum naik motor dapat dibuat sederhana agar realistis dilakukan setiap hari. Mulailah dari kondisi tubuh, lanjutkan dengan ban, rem, lampu, spion, helm, dan barang bawaan.
Tidak semua masalah kendaraan terlihat melalui pemeriksaan singkat. Servis berkala dan pemeriksaan teknis tetap dibutuhkan sesuai kondisi serta rekomendasi pabrikan.
Namun, rutinitas harian memberi kesempatan untuk mengenali perubahan kecil. Ban yang terlihat berbeda, rem terasa tidak biasa, atau lampu mati bisa diketahui sebelum perjalanan semakin jauh.
Di tengah tingginya ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan roda dua, budaya berkendara aman tidak selalu membutuhkan langkah rumit. Rutinitas sebelum naik motor justru bisa dimulai dari dua menit yang dilakukan secara konsisten sebelum meninggalkan rumah.
