Selasa, 22 September 2026 13:00 UTC

Ilustrasi: Jeda Sebelum Melaju. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Tubuh lelah saat naik motor tidak selalu datang dalam bentuk kantuk berat. Mata mulai sulit fokus, bahu terasa kaku, respons melambat, hingga berkali-kali menguap bisa menjadi tanda perjalanan sebaiknya tidak terus dipaksakan.
Persoalan ini penting karena sepeda motor menjadi bagian besar mobilitas masyarakat Indonesia. Data BPS mencatat sekitar 132,43 juta sepeda motor pada 2023. Jumlah tersebut jauh melampaui sekitar 18,29 juta mobil penumpang pada periode yang sama.
Sementara itu, persoalan keselamatan jalan masih serius. Korlantas Polri mencatat 158.508 kejadian kecelakaan lalu lintas sepanjang 2025, meningkat sekitar 5 persen dibandingkan 150.906 kejadian pada 2024.
Kelelahan tentu bukan penyebab seluruh kecelakaan. Namun, menjaga kondisi fisik dan konsentrasi merupakan faktor yang dapat dikendalikan setiap pengendara sebelum maupun selama perjalanan.
Tubuh Lelah Saat Naik Motor Bisa Muncul Perlahan
Kelelahan mudah diremehkan karena seseorang masih merasa mampu mengendarai motor. Padahal, kemampuan untuk tetap terjaga tidak selalu berarti konsentrasi berada pada kondisi terbaik.
Kementerian Kesehatan menjelaskan kurang tidur dapat menurunkan konsentrasi, produktivitas, dan kemampuan seseorang menjalankan aktivitas sehari-hari. Orang dewasa umumnya membutuhkan waktu tidur sekitar tujuh sampai delapan jam setiap hari.
Kebutuhan tidur tentu dapat berbeda antarindividu. Namun, perjalanan pagi setelah tidur terlalu sedikit layak mendapat perhatian, terlebih jika harus menghadapi kemacetan dan perjalanan panjang.
Tanda kelelahan juga tidak terbatas pada mata mengantuk. Tubuh dapat terasa berat, konsentrasi mudah pecah, pikiran melayang, atau pengendara mulai kesulitan mempertahankan perhatian terhadap lingkungan.
Korlantas Polri pada Agustus 2026 kembali mengingatkan masyarakat untuk tidak mengabaikan rasa lelah ketika berkendara. Pengendara dianjurkan mencari lokasi aman dan beristirahat apabila tubuh mulai menunjukkan kelelahan.
Panas Jalanan Dapat Menambah Beban Tubuh
Berkendara motor membuat tubuh berhadapan langsung dengan lingkungan. Sinar matahari, udara panas, perlengkapan tertutup, dan perjalanan panjang dapat menambah rasa tidak nyaman.
Kondisi ini semakin relevan pada musim kemarau. BMKG memprediksi puncak musim kemarau 2026 di sebagian besar wilayah Indonesia terjadi pada Agustus, sedangkan sejumlah wilayah lainnya mengalami puncak pada Juli atau September. Sebanyak 64,5 persen zona musim diprediksi mengalami sifat kemarau bawah normal atau lebih kering dibanding biasanya.
Cuaca panas juga meningkatkan kebutuhan tubuh menjaga keseimbangan cairan. Kementerian Kesehatan menganjurkan masyarakat mencukupi kebutuhan air dan tidak menunggu rasa haus ketika menghadapi cuaca panas.
Bagi pengendara motor, prinsipnya sederhana. Bawa air minum bila perjalanan cukup panjang dan manfaatkan waktu berhenti untuk minum, bukan mencoba melakukannya ketika kendaraan bergerak.
Namun, rasa sangat haus, lemah, pusing, atau kondisi tubuh yang terasa tidak biasa jangan sekadar ditutupi dengan minuman lalu langsung melanjutkan perjalanan.
Cari tempat aman untuk berhenti dan pulihkan kondisi terlebih dahulu. Bila muncul gejala berat atau kondisi tidak membaik, bantuan medis dapat diperlukan.
Istirahat Bukan Berarti Harus Menunggu Sangat Mengantuk
Ada kecenderungan menunda berhenti karena tujuan dianggap sudah dekat. Lima kilometer lagi terasa singkat, sehingga tubuh dipaksa bertahan.
Masalahnya, rasa lelah dapat memengaruhi perhatian terhadap kendaraan lain, lampu lalu lintas, kondisi jalan, dan perubahan situasi yang terjadi dalam hitungan detik.
Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 mewajibkan setiap pengemudi mengemudikan kendaraan secara wajar dan penuh konsentrasi. Penjelasannya mencakup kondisi ketika perhatian terganggu karena sakit, lelah, mengantuk, menggunakan telepon, atau mengonsumsi alkohol maupun obat tertentu.
Korlantas juga pernah mencatat kelelahan sebagai salah satu faktor yang ditemukan dalam kecelakaan selama Operasi Keselamatan Candi 2026. Dalam lima hari pelaksanaan operasi tersebut di Jawa Tengah, tercatat 169 kejadian kecelakaan.
Berhenti sejenak karena tubuh mulai lelah bukan bentuk perjalanan yang tidak efisien. Sebaliknya, keputusan tersebut memberi kesempatan kepada pengendara untuk kembali menilai apakah dirinya masih layak melanjutkan perjalanan.
Tempat berhenti juga harus dipilih dengan benar. Hindari berhenti sembarangan di tikungan, bahu jalan yang sempit, atau lokasi yang mengganggu arus kendaraan.
Kopi Tidak Menggantikan Tidur yang Cukup
Sebagian pengendara mengandalkan kopi ketika tubuh mulai mengantuk. Kafein memang dapat meningkatkan kewaspadaan untuk sementara, tetapi tidak menggantikan kebutuhan biologis terhadap tidur.
Food and Drug Administration Amerika Serikat menyebut konsumsi hingga 400 miligram kafein per hari pada kebanyakan orang dewasa umumnya tidak dikaitkan dengan efek negatif. Namun, sensitivitas dan kemampuan tubuh memetabolisme kafein berbeda pada setiap orang.
Angka tersebut bukan target konsumsi harian. Kandungan kafein juga berbeda-beda pada kopi, teh, minuman energi, maupun produk lainnya.
Bagi pengendara yang benar-benar kurang tidur, menambah kopi lalu memaksakan perjalanan bukan solusi utama. Tubuh tetap membutuhkan istirahat yang memadai.
Minuman energi juga tidak seharusnya menjadi alasan untuk mengabaikan tanda kelelahan. Rasa lebih terjaga tidak selalu berarti kemampuan mengambil keputusan dan bereaksi sudah sepenuhnya pulih.
Perjalanan Aman Dimulai Sebelum Mesin Dinyalakan
Mengurangi risiko kelelahan sebenarnya dapat dimulai sebelum naik motor. Tidur cukup, memperkirakan durasi perjalanan, dan tidak membuat jadwal terlalu mepet membantu mengurangi dorongan untuk terburu-buru.
Perlengkapan berkendara juga perlu nyaman digunakan. Helm, jaket, sarung tangan, celana panjang, dan alas kaki tetap penting, tetapi pilih ukuran serta material yang tidak mengganggu gerak.
Untuk perjalanan yang tidak rutin, pertimbangkan pula kemampuan tubuh. Rute satu jam membutuhkan kesiapan berbeda dibanding perjalanan harian selama sepuluh menit.
Jika tubuh sedang sakit, sangat mengantuk, atau terlalu lelah, pilihan terbaik bisa saja tidak mengendarai motor sendiri. Moda transportasi lain atau menunda perjalanan dapat menjadi keputusan yang lebih aman ketika memungkinkan.
Pada akhirnya, tubuh lelah saat naik motor bukan sinyal yang perlu dilawan demi beberapa menit lebih cepat sampai. Jalan raya menuntut perhatian, respons, dan keputusan yang terus bekerja sepanjang perjalanan.
Mengenali batas tubuh, mencukupi cairan, tidur dengan baik, serta berhenti di tempat aman ketika lelah merupakan kebiasaan sederhana. Tujuannya bukan membuat perjalanan lebih lambat, melainkan membantu pengendara tiba dengan kondisi yang lebih aman.
