Sesepuh Gandrung Reuni, Sebut Generasi Sekarang Gandrung-gandrungan

Ahmad Suudi

Jumat, 31 Mei 2019 - 15:49

JATIMNET.COM, Surabaya – Berkerudung hitam dengan gamis putih panjang, Poniti (70) duduk bersama seniman lain dan budayawan di atas karpet aula Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi. Mereka menunggu waktu buka puasa bersama.

Saat berbicara suaranya masih lugas, kata-katanya selalu muncul tanpa keraguan. Berani berbicara pada semua orang bukti kuat mentalnya setelah melakoni tampil di panggung sebagai Gandrung.

Poniti menunggu kawan-kawan barunya yang juga diundang untuk bereuni melepas kangen. Kini belum ada generasi baru yang menjadi Gandrung asli, yang mampu menjadi Gandrung Terop.

Selain Poniti dari Singojuruh, hadir juga Dartik, Sunasih, Supinah, Saminten dan Siti dari Rogojampi.

BACA JUGA: Ratusan Pelajar Bawakan Tari Glipang Asli Probolinggo 

Mereka sepakat Gandrung yang sebenarnya adalah Gandrung Terop yang harus mampu menari dan nggending (menyanyi) semalaman di kondangan orang.

“Kalau enggak ya namanya Gandrung-gandrungan,” kata Poniti, Rabu 29 Mei 2019.

Jelang waktu berbuka, datang juga Gandrung Temuk mengenakan kerudung dan baju warna putih kembangan merah, semerah gincunya. Mereka semua langsung berpelukan, menanyakan kabar, dan cari posisi untuk ngobrol.

Mereka mengatakan pertemuan para Gandrung sangat jarang terjadi. Bahkan tidak ada yang ingat kapan terakhir kali mereka bertemu beramai-ramai. “Ngomongin lakon Gandrung,” jawab Temuk saat ditanya apa yang diobrolkan.

BACA JUGA: Bandung Peringati Hari Kartini dengan Menari Selama 21 Jam

Mereka mengaku prihatin pada regenerasi Gandrung Terop karena penari baru yang muncul tidak matang. Mereka hanya bisa menari, bernyanyi beberapa lagu berbahasa Osing dan tidak mau tampil semalam suntuk.

Produk Gandrung Sewu yang telah diselenggarakan sejak delapan tahun terakhir juga belum mampu membentuk seorang Gandrung Terop. Sebagian yang telah belajar nggending Gandrung beralih ke musik elektronik dan kehilangan cengkok Gandrungnya.

Poniti mengatakan tantangan berat jadi Gandrung Terop selain mampu menari dan nggending semalaman, harus bisa bersabar. Mereka harus terus tersenyum dan menghibur meski banyak pria tak sopan menggoda, dan mendapatkan stigma negatif dari sebagian masyarakat.

Dalam kesempatan ini, Poniti juga menemui budayawan Banyuwangi Hasnan Singodimayan (88), yang dulu mengamati kiprahnya sebagai Gandrung. 

BACA JUGA: Gebyar Seni Jawa Timur Meriahkan TMII

Hasnan mengatakan Poniti merupakan Gandrung yang paling cantik dan bersuara merdu. Dia mengaku minder saat akan Paju (menari berpasangan) bersama Poniti, karena banyak pesaing yang lebih ganteng, gagah, dan kaya.

“Saya kan nggak ganteng, gagah, dan kaya. Jadi tidak berani,” katanya.

Penulis novel Kerudung Santet Gandrung itu hanya memendam kekagumannya hingga diungkapkan kini di usia senja. Begitu juga Poniti yang mengaku dulu tak berani mendekati Hasnan, padahal menyimpan rasa kagum pada budayawan itu.

“Orangnya ganteng, budayawan, saya mau dekat nggak berani,” cerita pemilik album berjudul Rujak Nanas yang dirilis tahun 1976 itu.

Mereka berdua bersalaman, berpelukan dan berfoto bersama beberapa warga yang hadir di sana. Setelah berkali-kali saling pamitan, mereka kembali pulang ke rumah masing-masing.

Baca Juga

loading...