Seperti Kartini, Perempuan Sekarang Jangan Takut Pintar

Khoirotul Lathifiyah

Kamis, 25 April 2019 - 09:55

JATIMNET.COM, Surabaya - Pandangan menikah jauh lebih penting dibandingkan pendidikan, disebut sebagai bagian dari budaya patriarki. Perempuan masa kini, seharusnya berani memiliki prinsip dan bertindak nyata pada pendidikan, seperti yang dilakukan R.A Kartini, 100 tahun lalu.

Dosen Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya Anita Lie mengungkapkan, saat ini masih terdapat pandangan, bahwa perempuan yang menempuh pendidikan tinggi akan susah bertemu jodoh.

"Kadang kan orang-orang berpikiran kalau perempuan pinter itu cowok-cowok takut mendekati," kata Anita saat diwawancarai usai Simposium Pemikiran R.A Kartini Dekonstruksi Gender dan Visi Misi Kesetaraan Perempuan 'Habis Gelap Terbitlah Terang' di Gedung A Unair B, Rabu 24 April 2019.

Padahal perempuan yang berpendidikan juga mampu menghormati laki-laki.

BACA JUGA: Pentingnya UU PKS untuk Kesetaraan Gender

Anita menegaskan agar semua perempuan tidak takut menjadi pintar dan juga terlihat cerdas.

Apalagi, beberapa penelitian menunjukkan bahwa kecerdasan anak paling banyak didominasi oleh tingkat kepintaran ibunya.

"Nah kita sebagai wanita harus ingat bahwa perempuan juga bisa santun, pintar dan cerdas tidak berarti sombong atau attitudenya tidak baik," kata dia.

Oleh karena itu, jangan terhalang dengan pandangan seperti itu, untuk bisa menjadi pintar dan cerdas, kata Anita.

BACA JUGA: Masih Ada Kesenjangan Pendidikan Antara Lelaki dan Perempuan

Ia mengimbau, agar perempuan era sekarang bisa bersikap seperti Kartini yang tangguh, cerdas, pintar, berani, namun tidak sombong, dan tetap sopan dan santun.

Menurutnya, seorang perempuan yang pintar dan cerdas harus bisa menciptakan lingkungan yang pintar. Seperti mengedukasi keluarganya, khususnya anak-anakya.

"Karena wanita harus ingat pada kodratnya, yakni melahirkan, menyusui dan pastinya untuk membangun dan mendidik karakter anak yang lebih baik," kata Anita.

Disamping itu, Dosen Universitas Airlangga Emy Susanti menyampaikan nilai budaya yang patriarki itu menyebabkan menikah lebih penting daripada menempuh pendidikan.

BACA JUGA: Bandung Peringati Hari Kartini dengan Menari Selama 21 Jam

"Nah saat ini yang perlu dilakukan adalah merevisi UU dan menetapkan usia 18 tahun baru bisa menikah, karena saat ini usia 16 tahun diperbolehkan," katanya.

Selain harus ada undang-undang, perempuan saat ini harus mempunyai pergaulan yang luas untuk memperoleh pengetahuan yang luas pula.

Menurutnya, perempuan harus mempunyai prinsip, dan juga melakukan tindakan untuk sebuah perubahan seperti R.A Kartini.

Baca Juga

loading...