Sebagian Kecil Sampah Plastik di Indonesia Bisa Didaur Ulang

Hari Istiawan

Senin, 29 April 2019 - 14:56

JATIMNET.COM, Jakarta - Direktur Eksekutif Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik Tiza Mafira mengatakan hanya sebagian kecil sampah plastik di Indonesia yang layak didaur ulang, sisanya dibiarkan menjadi tumpukan sampah.

Menurutnya, data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyatakan bahwa tahun 2016 hanya 11 persen sampah plastik yang didaur ulang dan baru 67 persen sampah kita yang diangkut.

“Banyak sampah plastik sekali pakai tidak memiliki nilai ekonomi yang tinggi dan kualitas daur ulangnya tidak baik,” katanya, Senin 29 April 2019.

BACA JUGA: Ditantang Perang Sampah Filipina, Ini Respons Kanada

Ia menyebutkan, yang bisa didaur ulang karena nilai ekonominya tinggi hanya botol PET saja, namun kalau kantung plastik atau sedotan itu tidak didaur ulang karena kualitasnya rendah dan tidak memiliki nilai ekonomi yang tinggi.

Tiza mengungkapkan, dari produksi plastik antara tahun 1950 sampai 2015, sekitar 60 persen atau 5 miliar ton dibuang ke lingkungan, 12 persen dibakar di insinerator dan hanya sembilan persen yang didaur ulang.

Di negara maju sekali pun, kata dia, seperti Amerika, Australia dan negara-negara di Eropa tidak ada yang mendaur sampahnya hingga 100 persen. Biasanya mereka menyelesaikan masalah sampah dengan mengimpor sampah plastik ke negara lain.

BACA JUGA: Karena Ribuan Kilo Sampah, Filipina Ancam akan Perangi Kanada

Karenanya, Tika berpandangan aturan pelarangan penggunaan plastik sekali pakai menjadi pilihan yang menarik bagi pemerintah daerah karena sudah banyak alternatif produk di pasaran yang lebih ramah lingkungan.

Selain itu kesadaran masyarakat tidak lagi menggunakan plastik sekali pakai dapat membantu mengurangi sampah-sampah tersebut.

Tas lipat sebagai ganti kantong plastik, kotak makan sebagai ganti styrofoam, dan sedotan bambu atau stainless steel sebagai ganti sedotan plastik, saat ini sudah marak dijual dimana-mana.

“Peraturan yang sifatnya melarang plastik sekali pakai sebenarnya tidak bertujuan membebani atau menghukum siapapun, malah justru terbukti mendorong perubahan perilaku konsumen menjadi perilaku yang lebih ramah lingkungan,” ujar Tiza.(ant)

Baca Juga

loading...