Karena Ribuan Kilo Sampah, Filipina Ancam akan Perangi Kanada

Dyah Ayu Pitaloka

Rabu, 24 April 2019 - 13:48

JATIMNET.COM, Surabaya – Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengancam “mendeklarasikan perang” melawan Kanada dalam minggu depan, jika negara itu tidak segera memindahkan sampah yang telah dikapalkan ke Manila.

Dalam ancaman yang disiarkan media miik negara dan dilaporkan oleh Press Kanada, Duterte mengatakan “memberikan peringatan kepada Kanada, jika sebaiknya mereka segera menarik sampah itu minggu depan atau saya akan menyiapkan pelayaran,”, dikutip dari Fox News, Rabu 24 April 2019.

“Saya akan mendeklarasikan perang melawan mereka. Saya akan menasehati Kanada bahwa sampahnya sedang dalam perjalanan. Siapkan penyambutan besar. Makan itu (sampah) jika kalian mau,” katanya. “Sampahmu akan pulang,”.

Manila mengatakan, jika kontainer itu berlabuh di Pelabuhan Kontainer Internasional Manila, dengan label mengandung sampah plastik daur ulang. Sedangkan, kontainer berisi berton-ton sampah rumah tangga, dikutip dari Bbc, Selasa 23 Aprill 2019.

BACA JUGA: Gempa Filipina, 11 Tewas dan Puluhan Terjebak Reruntuhan Gedung

Sampah itu dikirim ke Manila oleh perusahaan swasta asal Kanada, dan perusahaan penerimanya yang berbasis di Filipina.

Pada tahun 2013 dan 2014, Kanada mengapalkan ber ton-ton sampah dalam 103 kontainer ke Filipina, dan sejak saat itu, telah memaksa negara Asia Tenggara itu untuk membuangnya.

Ketika Perdana Menteri Kanada Justin Trudeu mengunjungi Manila di tahun 2015, ia mengatakan jika “Solusi Kanada” sedang dalam pembangunan, dan situasi itu tidak akan terjadi lagi,” menurut sebuah agensi berita.    

Sejak 2014, Filipina mengangkat isu ini terhadap pemerintahan Kanada.

BACA JUGA: Peringati Earth Hour, Alana Ajak Kurangi Sedotan Plastik

Filipina menyebut, sampah itu telah menyebabkan kemacetan di pelabuhan, dan menjadi ancaman pada kesehatan masyarakat.

Tahun 2016, pengadilan di Filipina meminta sampah untuk dikapalkan kembali ke Kanada, dengan biaya dari eksportir sampah, dikutip dari Bbc.

Pada tahun yang sama, Kanada menetapkan regulasi baru tentang pengapalan sampah berbahaya, untuk mencegah kejadian yang sama terulang kembali.

Awal tahun ini, koalisi kelompok peduli lingkungan di dua negara menulis kepada PM Kanada Justin Trudeu, meminta agar sampah dikembalikan kepada pengirimnya.

BACA JUGA: Aksi Ecoton Desak Australia Cegah Penyelundupan Sampah Plastik 

Kelompok kerja teknis gabungan dua negara saat ini meneliti “Spektrum utuh dari isu yang berkaitan dengan sampah, dengan menghasilkan resolusi berjangka waktu tertentu”, kata Lingkungan Kanada, Selasa.

Sampah global, dan tempat pembuangannya, telah menjadi isu yang terus membesar di dunia.

Cina memperkenalkan larangan "sampah asing," sebagai upaya untuk meningkatkan dunia industrinya sejak setahun lalu.

Jumlah plastik yang diambil Cina turun hingga 94 persen, antara 2016-2017, dan 2017-2018, sementara Malaysia, Turki, Polandia dan Indonesia, mengambil alih peran Cina.

BACA JUGA: Batok Kelapa Bisa Digunakan sebagai Bahan Dasar Beton Ringan

PBB mengatakan, proses pemungutan dan daur ulang sampah global dari sektor pasar membutuhkan anggaran hingga USD 410 miliar, "di luar sektor informal yang sangat luas,".

Baca Juga

loading...