Resisten pada Pestisida, Jamur Ini Membasmi 99% Nyamuk Malaria 

Penelitian itu dilakukan di Burkina Faso.
Dyah Ayu Pitaloka

Jumat, 31 Mei 2019 - 11:47

JATIMNET.COM, Surabaya – Jamur Metarhizium pingshaense, yang secara genetik sering digunakan menghasilkan racun pada laba-laba, dapat membunuh nyamuk penyebar malaria dalam jumlah besar.

Percobaan yang bertempat di Burkina Faso itu, menunjukkan populasi nyamuk turun hingga 99 persen dalam 45 hari.

Peneliti mengatakan,  tujuan mereka bukan untuk membuat nyamuk tersebut punah, namun untuk mencegah penyebaran malaria.

Penyakit yang tersebar ketika nyamuk betina menghisap darah, membunuh lebih dari 400 ribu orang per tahun.

BACA JUGA: Dinkes Biak Tekan API Malaria Hingga 2,8 Persen

Terdapat 219 juta kasus malaria per tahun di dunia.

Peneliti dari Universitas Maryland Amerika Serikat, serta institut penelitian IRSS di Burkina Faso, pada awalnya mengidentifikasi jamur yang disebut Metarhizium pingshaense, yang secara alami menginfeksi nyamuk penyebar malaria, Anopheles, dikutip dari Bbc.com, Jumat 31 Mei 2019.

Tahap berikutnya adalah untuk memperbesar jamur.

“Jamur itu sangat lunak, kamu bisa merekayasa mereka secara genetik, dengan mudah,” kata Prof Raymond St Leger, dari Universitas Marylan kepada Bbc.

BACA JUGA: Siswa SMA Di Ponorogo Ciptakan Obat Nyamuk dari Daun

Jamur itu ditemukan menjadi racun, dalam spesies laba-laba berjaring corong di Australia.

Instruksi genetik untuk membuat racun ditambahkan ke dalam kode genetik jamur tersebut, sehingga akan memproduksi racun sendiri, setelah berada di dalam tubuh nyamuk.

“Laba-laba menggunakan siungnya untuk merobek kulit serangga dan menyuntikkan racun, kami mengganti siung laba-laba dengan Metharhizium,” kata Prof St Leger.

Hasil uji laboratorium menunjukkan, jamur yang telah dimodifikasi membunuh nyamuk lebih cepat, dan hanya membutuhkan sedikit spora jamur untuk membunuh nyamuk.

BACA JUGA: Berikut Delapan Jenis Tanaman yang Ampuh Usir Nyamuk

Tahapan berikutnya, adalah untuk menguji jamur dalam kondisi yang paling mendekati dunia nyata.

Sebuah desa seluas 6.500 meter persegi, lengkap dengan tanaman, pondok, sumber mata air dan makanan untuk nyamuk, didirikan di Burkina Faso.

Lokasi itu dikeliling dengan jaring ganda, untuk mencegah nyamuk lolos keluar.

Spora jamur dicampur dengan minyak wijen, dan disapukan pada seprai hitam berbahan katun.

BACA JUGA: Bagaimana Nyamuk Selamat Dari Air Hujan, Begini Penjelasannya

Nyamuk harus mendarat di atas seprai agar terpapar jamur mematikan.

Peneliti memulai eksperimen dengan menggunakan 1.500 nyamuk. Hasilnya, seperti yang dipublikasikan di Journal Science, menunjukkan angka yang melonjak ketika serangga dibiarkan sendiri.

Namun, ketika jamur beracun dari laba-laba digunakan, hanya tersisa 13 nyamuk setelah 45 hari.

“Jamur transgenik secara cepat mengurangi populasi nyamuk, hanya dalam dua generasi,” kata Dr. Brain Lovett, dari Universitas Maryland.

BACA JUGA: Teh Daun Kedondong Temuan Mahasiswa Malang Berkhasiat Cegah Kolesterol

Eksperimen juga menunjukkan jika jamur hanya berdampak spesifik pada nyamuk Anopheles saja, dan tidak pada lebah.

“Teknologi kami tidak bertujuan untuk membuat nyamuk punah, apa yang kami inginkan adalah untuk memecah transmisi malaria di sebuah area,” katanya.

Alat baru dibutuhkan untuk mengatasi malaria setelah nyamuk itu menunjukkan resistensi pada pestisida.

Badan kesehatan dunia (WHO) telah memperingatkan jika kasus ini meningkat di 10 negara di Afrika.

BACA JUGA: Fosil Bayi T rex Dijual Rp 41 Miliar 

“Bersih- ini adalah penelitian yang menarik,” kata Prof Michael Bonsall dari Universitas Oxford, memberikan komentar atas temuan itu.

“Prospek untuk mengontrol nyamuk menggunakan metode jamur sangat tinggi,”.

“Regulasi kemananan hayati yang proporsional dibutuhkan untuk menjamin kelangsungan hidup metode ini, dan pendekatan lain untuk mengontrol nyamuk menggunakan metode genetik tidak hilang, melalui pembatasan yang terlalu bersemangat,”.

Dr Tony Nolan, dari Sekolah Obat Tropis Liverpool menambahkan: “Hasil ini sangat memberi semangat,”.

BACA JUGA: Tandai Umur 100 Tahun Buyut Ini Maju Pileg

“Kami membutuhkan alat yang baru dan menambah metode kontrol yang ada, yang terdampak atas perkembangan resistensi insektisida,”.

Baca Juga

loading...