Logo

Kasus Super Flu di Indonesia Meningkat, Ini Pesan Gubernur Khofifah

Reporter:,Editor:

Jumat, 09 January 2026 04:30 UTC

Kasus Super Flu di Indonesia Meningkat, Ini Pesan Gubernur Khofifah

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa saat diwawancarai, Jumat, 9 Januari 2026. Foto: Januar.

JATIMNET.COM, Surabaya - Kasus Super Flu atau virus influenza A (H3N2) secara global menunjukkan tren peningkatan. Bahkan, saat ini ditemukan varian baru subclade K di sejumlah negara Asia termasuk di Indonesia.

Berdasarkan pemeriksaan dari 88 sentinel ILI SARI di seluruh Indonesia yang diperiksa di laboratorium kesehatan masyarakat serta laboratorium rujukan berstandar biosafety level 3 (BSL-3), hingga akhir Desember tercatat total 62 kasus di delapan provinsi termasuk Jawa Timur (Jatim).

“Kami ingin menegaskan kepada masyarakat bahwa virus influenza A (H3N2) subclade K tidak berbahaya dan tidak mematikan. Di Jawa Timur, kondisi ini masih terkendali dengan baik,” kata Gubernur Jatim khofifah Indar Parawansa, Jumat, 9 Januari 2026.

Menurutnya, munculnya varian subclade K merupakan hal yang wajar dalam perkembangan virus influenza. Pemantauan ilmiah juga terus dilakukan oleh para ahli.

“Oleh karena itu, masyarakat tidak perlu panik, namun harus tetap waspada dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS)” lanjutnya.

Meskipun terkendali, ia menjelaskan, pengamatan virus tersebut terus dilakukan. Salah satunya melalui site sentinel Influenza Like Illness (ILI) di Puskesmas Dinoyo Kota Malang dan Severe Acute Respiratory Infection (SARI) di RSUD dr Saiful Anwar Kota Malang.

"ILI didefinisikan sebagai penderita dengan demam kurang lebih 38°C yang disertai batuk dan gejala timbul kurang dari 10 hari, sedangkan SARI merupakan sindrom pernapasan akut berat," jelasnya.

BACA: Kemkes Tegaskan Gejala Super Flu Serupa Flu Musiman, Penderita Diimbau Pakai Masker

Hasil tersebut secara rutin dikirim ke Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat (BBLKM) Surabaya. Kemudian, diteruskan ke Balai Besar Laboratorium Biologi Kesehatan (Biokes) Jakarta untuk pemeriksaan Whole Genome Sequencing.

Berdasarkan hasil pemeriksaan, tercatat 18 kasus positif dengan waktu pengambilan spesimen pada September-November 2025. Mayoritas kasus ditemukan pada kelompok usia anak dan remaja, dengan proporsi yang seimbang antara laki-laki dan perempuan.

"Seluruh temuan ini menjadi dasar bagi Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk terus memperkuat kewaspadaan dini, terutama melalui pemantauan kasus ISPA di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan,” katanya.

Terkait penemuan tersebut, Pemprov Jatim melalui Dinas Kesehatan telah melakukan berbagai langkah antisipatif, mulai dari pemantauan rutin surveilans ILI-SARI, koordinasi intensif dengan Kemenkes RI dan BBLKM Surabaya.                                                                                                    

Tak hanya itu, Pemprov Jatim juga secara rutin memantau Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR) mingguan serta pelaporan hasil pemeriksaan spesimen melalui aplikasi NAR sebagai bagian dari upaya deteksi dini berbasis data.

Di sisi lain pembaruan dan refreshing kepada petugas kesehatan terkait penanganan ISPA terus dilakukan, guna memastikan layanan kesehatan tetap responsif.

Edukasi dan promosi kesehatan kepada masyarakat juga terus digencarkan melalui penerapan etika batuk dan PHBS. Vaksin influenza, khususnya bagi kelompok berisiko seperti balita dan individu dengan daya tahan tubuh rendah, menjadi langkah pencegahan penting yang perlu diperhatikan.

"Meskipun di Jatim terkendali, saya mengajak masyarakat untuk disiplin menerapkan etika batuk dan perilaku hidup bersih dan sehat. Penggunaan masker, terutama di kerumunan dan ruang tertutup, sangat dianjurkan," katanya.

"Ke depan, kami akan menerbitkan Surat Edaran kewaspadaan ISPA sebagai bagian dari upaya pencegahan. Dengan langkah ini, kami berharap kewaspadaan dapat diperkuat tanpa menimbulkan kepanikan di tengah masyarakat," pungkasnya.