Perang Dagang, Cina Balas Ancam AS Setelah Huawei Diblokir

Dyah Ayu Pitaloka

Jumat, 17 Mei 2019 - 12:28

JATIMNET.COM, Surabaya – Cina telah mengancam untuk membalas sanksi yang diberikan Amerika Serikat (AS), dalam bentuk upaya pembatasan perdagangan produk milik Huawei.

Sikap ini mengikuti Perintah Eksekutif yang dikeluarkan Trump pada Rabu, untuk memblokir produk Huawei di jaringan AS.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Cina, Lu Kang, mengatakan, Beijing menentang negara yang menerapkan sanksi unilateral atas perusahaan asal Cina, dan akan mengambil tindakan, dikutip dari Bbc, pada Jumat 17 Mei 2019.

Beijing menuduh Presiden Trump telah melakukan sabotase industri, dengan menggunakan keamanan negara “sebagai dalih untuk menekan bisnis asing”.

BACA JUGA: Amerika Serikat Deklarasikan Darurat Nasional Atas Serangan TI

“Kami meminta AS untuk menghentikan praktik ini dan menciptakan kondisi lebih baik untuk kerjasama bisnis,” kata Lu. Ia tidak menjelaskan bagaimana langkah Cina untuk membalas AS.

Konfrontasi atas Huawei datang mengikuti perang dagang antara AS dan Cina, dalam bentuk peningkatan tarif impor di dua negara.

Menulis untuk Evening Standart, Duta Besar Cina atas Inggris, Liu Xiaoming mengatakan, Cina tidak menginginkan perang dagang, namun “tidak takut akan perang jika memang diperlukan,”.

“Cina selalu terbuka untuk diskusi, namun Cina juga akan berperang hingga akhir, jika perang dagang pecah,” tulisnya.

BACA JUGA: Ogah Dituduh Jadi Intel Cina, Huawei Tanda Tangani Perjanjian

Sebelumnya pada Rabu, Trump menandatangani perintah eksekutif, yang melarang perusahaan AS untuk menggunakan produk telekomunikasi asing, yang diduga mengancam keamanan nasional.

Dalam perintah itu, tak disebut secara spesifik nama produk telekomunikasi asing yang dimaksut.

Menurut penyataan Gedung putih, perintah Trump bertujuan “melindungi AS dari musuh asing yang secara aktif dan meningkat, menciptakan dan mengeksploitasi kerentanan dalam infrastruktur dan pelayanan teknologi informasi dan komunikasi”.

Perintah itu memberikan wewenang pada Menteri Perdagangan, untuk “melarang transaksi yang berpotensi memiliki risiko tak bisa diterima terhadap keamanan nasional,” kata pernyataan itu.

BACA JUGA: Ditolak Amerika Serikat dan Australia, Huawei Diterima Inggris?

Huawei merespon peraturan itu dengan mengatakan, “Melarang Huawei untuk berbisnis di AS tidak akan membuat AS lebih aman ataupun lebih kuat”.

“Malahan, ini hanya akan membatasi AS terhadap alternatif yang lebih lemah namun lebih mahal, sehingga menyebabkan AS akan tertinggal dalam perkembangan 5G, dan akhirnya akan merugikan kepentingan perusahaan AS dan konsumennya,”.

Sementara pada pertemuan di London Selasa, Huawei menyatakan siap menandatangani perjanjian anti mata-mata dengan pemerintah, sebagai respon maraknya tuduhan ancaman terhadap keamanan nasional.

Baca Juga

loading...