Pemakaman Dua Korban Selandia Baru, Mereka Pengungsi Suriah

Nani Mashita

Reporter

Nani Mashita

Rabu, 20 Maret 2019 - 12:59

JATIMNET.COM, Surabaya – Dua korban penembakan dua masjid di Christchurch, Selandia Baru, Khaled Mustafa (44) dan Hamza (16), akhirnya dimakamkan di Memorial Park Cemetery.

Kesedihan menyeruak di antara para petakziah yang mendoakan dua korban

Kedua korban merupakan ayah dan anak, dan ternyata baru pindah ke Selandia Baru tahun lalu dengan status pengungsi, tulis Reuters, Rabu 20 Maret 2019.

Keduanya menyelamatkan diri dari perang saudara di Suriah. Ironisnya, teror keji dari Brenton Tarrant merenggut nyawa keduanya di tempat pengungsian, beserta 48 korban lainnya.

BACA JUGA: Indonesia Kecam Aksi Penembakan di Masjid Christchurch

Ratusan pelayat berkumpul di pemakaman dekat Linwood Islamic Centre di Christchurch, salah satu dari dua masjid lokasi penembakan.

Tradisi Islam menyerukan agar jenazah dimakamkan sesegera mungkin, tetapi penguburan telah ditunda dikarenakan proses identifikasi.

Hal ini menyebabkan keluarga korban merasa frustasi.

Polisi sendiri sudah berhasil mengidentifikasi 21 korban dan akan segera menyerahkan jenazah kepada keluarga masing-masing. Ditargetkan, seluruh korban penembakan bisa teridentifikasi pada Rabu malam waktu setempat.

BACA JUGA: Aturan Membeli Senjata di Sembilan Negara

Kepala polisi Selandia Baru mengatakan badan-badan intelijen global, termasuk Biro Investigasi Federal AS dan orang-orang dari Australia, Kanada dan Inggris, sedang menyusun profil penembakan, Brenton Tarrant yang tinggal di Dunedin, South Island, Selandia Baru.

"Saya dapat meyakinkan Anda bahwa ini adalah penyelidikan internasional," kata Komisaris Polisi Mike Bush di sebuah konferensi media di ibukota Wellington.

Warga negara Australia itu sudah didakwa atas pembunuhan pada Jumat pekan lalu. Tarrant diagendakan menghadapi persidangan lagi pada 5 April dan diperkirakan akan menghadapi tuntutan baru.

BACA JUGA: Seniman ISI Yogyakarta Jadi Korban Penembakan di Selandia Baru

Soal proses identifikasi, Bush menjelaskan polisi harus menemukan bukti-bukti penyebab kematian para korban. Bukti tersebut akan dibawa ke pengadilan.

“Seseorang tidak bisa dihukum karena pembunuhan tanpa sebab kematian. Jadi ini adalah proses yang sangat kompeherensif yang harus diselesaikan dengan standar tertinggi,” jelasnya.

Tarrant menembaki ratusan jemaah salat Jumat di Masjid Al Noor pusat kota Christchurch dan Masjid  Linwood Ave.

Akibatnya, 50 orang meninggal dunia dan puluhan lainnya luka-luka. Hingga kini, 29 orang yang terluka masih dirawat di rumah sakit dan delapan di antaranya masih dalam perawatan intensif.

BACA JUGA: Teroris Christchurch Beli Senjata Online, Selandia Baru Ketatkan Aturan

Pemakaman Hamza, menyisakan duka bagi kawan-kawannya di Cashmere High School.

Selain Hamza, ada dua siswa yang tewas tertembak, yaitu Sayyad Milne dan alumni sekolah ini, Tariq Omar.

Sekitar 200 siswa berkumpul di auditorium sekolah dan mendengarkan pidato PM Selandia Baru, Jacinda Ardern soal kejamnya rasisme serta kebijakan barunya mengubah aturan kepemilikan senjata.

“Dampak dari serangan teror ini sangat kejam dan sulit bagi komunitas sekolah kami,” kata Kepala Sekolah Mark Wilson dalam sebuah pernyataan.

Baca Juga

loading...