Ngerandu Buko, Cara Kampung Papring Menunggu Berbuka Puasa

Ahmad Suudi

Senin, 20 Mei 2019 - 15:21

JATIMNET.COM, Banyuwangi – Warga Lingkungan Papring, Desa Kalipuro, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi, memiliki cara sendiri menunggu berbuka puasa. Tapi istilah yang mereka gunakan bukan ngabuburit , melainkan Ngerandu Buko atau menunggu puasa dalam bahasa Osing, Banyuwangi.

Ngerandu Buko dilakukan oleh beberapa kelompok musik kampung yang berkumpul untuk menghibur masyarakat. Warga terlihat antusias datang mengerumuni pertunjukan. Pertunjukkan yang disuguhkan di antaranya seni Kuntulan Sinar Jaya, Gamelan Margo Pati, dan Angklung Taman Baca Kampoeng Batara.

Pada kesempatan lain turut tampil juga hadrah Miftahul Jannah dan hadrah Sumber Dilem. Pertunjukan juga diwarnai aksi kocak pembawa acara dari pemuda karang taruna Laskar Papring.

“Kita membuat kegiatan untuk menunggu berbuka, sembari kampanye bahasa dan kesenian lokal. Di sini masyarakatnya etnik Osing dan Madura yang mayoritas sudah paham bahasa daerah masing-masing,” kata Pembina Kampoeng Batara, Widie Nurmahmudy, Minggu 19 Mei 2019.

BACA JUGA: 258 Siswa Ikuti Ekstrakurikuler Khusus Tinggal di Kampung

Kegiatan ini dilaksanakan setiap akhir pekan selama Ramadan atau empat kali dalam sebulan. Tempatnya juga berpindah-pindah. Tujuannya agar semakin banyak warga di perkampungan pinggir hutan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Banyuwangi Utara itu yang terjangkau hiburan.

Promosi kelompok seni juga disampaikan kepada warga agar dalam berbagai hajatan mengundang mereka sebagai penghibur.

Panggungnya berupa gelaran terpal di atas tanah, dengan background yang terbuat dari bambu, kayu dan selendang-selendang tari koleksi Kampoeng Batara. Meski acaranya sederhana, warga berbondong-bondong menonton hingga motor-motor mereka memenuhi halaman rumah sekitar lokasi acara.

ANTUSIAS. Warga menyaksikan acara yang disuguhkan berbagai kelompok kesenian sambil menunggu waktu berbuka puasa. Foto: Ahmad Suudi.

Sesi flashmob dengan bacaan sholawat serta iringan musik hadrah dan gamelan bergantian juga jadi sumber tawa warga yang menonton.

“Setiap tampil itu tema kita harus berubah. Tampilnya di kegiatan sosial untuk membangun desa, membangun lingkungan, dan menguji mental. Belajar berani di depan orang,” kata Tahayun Nadah (22) salah satu pembawa acara yang berpakaian seragam SD.

Kepada Jatimnet.com, Sastrawan Banyuwangi Antariksawan Jusuf mengatakan kata ngabuburit berasal dari Sunda. Kata terserbut, menurutnya, sudah digunakan banyak orang untuk istilah menunggu waktu berbuka puasa. Sementara di kamus Bahasa Osing Banyuwangi, belum ada istilah yang sepadan dengan istilah ngabuburit.

BACA JUGA: Kampoeng Batara Antar Anak Pelosok Menembus Impian

Kemudian sekitar tahun 2012, Paguyuban Sengker Kuwung Blambangan (SKB) yang dipimpinnya sepakat menggunakan Ngerandu Buko sebagai frasa yang digunakan untuk kegiatan yang dilakukan untuk menunggu berbuka. Ngerandu sudah ada dalam kamus Bahasa Osing, namun belum ada yang berupa frasa ‘Ngerandu Buko’.

"Kalau kita ke depan ingin memasukkan 'Ngerandu Buko' ke dala kamus bisa-bisa saja. Misalnya dari karya tulis atau sastra berbahasa Osing didapati kata 'Ngerandu Buko', bisa menjadi dasar dimasukkan ke kamus. Kalau sudah populer dan digunakan banyak orang akan diterima,” kata Antariksawan.

Ngerandu buko merupakan frasa yang sepadan dengan Ngantos Buko dalam Bahasa Madura, Ngerantos Buko dalam Bahasa Jawa kromo inggil, atau menunggu berbuka dalam Bahasa indonesia.

Baca Juga

loading...