PAGI hari saat Matahari baru naik di atas Selat Bali, seperti biasa, Herfan Efendi (14) memainkan angklungnya membawakan lagu Ulan Andung-andung. Tanpa alat pengeras, suara angklung dari lagu yang dipopulerkan Emilia Contessa itu menyebar ke rumah-rumah, terbantu efek gema perbukitan dan hutan pinus.

Di kampung yang sepi di tepi area Perum Perhutani itu, teriakan orang bisa saja terdengar hingga beberapa kilometer. Alunan musik Fendi, sapaannya, memanggil kawan-kawan sekampungnya datang ke Kampoeang Baca Taman Rimba (Kampoeng Batara). Taman baca yang ada di Lingkungan Papring, Kelurahan Kalipuro, Kecamatan Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi, yang berjarak 15 kilometer dari pusat kota.

Langkah-langkah kecil anak-anak segera datang, beberapa naik motor meski masih SD, karena rumahnya jauh. Sebagian besar menggunakan seragam kaus berwarna biru turkis dengan rambut tersisir rapih, sedangkan wajah anak-anak perempuan lebih putih berlapis bedak tebal.

BACA JUGA: 258 Siswa Ikuti Ekstrakurikuler Khusus Tinggal di Kampung

Datang ke taman baca berjarak 100 meter dari hutan itu, mereka langsung mencari perlengkapan kesukaan masing-masing, bulutangkis, yoyo, kartu kuartet, buku cerita bergambar, kendang, kenong, dan egrang batok maupun bambu. Namun mereka segera menghentikan kesibukan masing-masing saat kegiatan bersama dimulai.

“Dulu malu, anaknya cuma sedikit, main-main sendiri. Nggak tahu kegiatan apa,” cerita Fendi saat awal mengikuti Kampoeng Batara pada tahun 2015.

Dia memang anggota pertama Kampoeng Batara bersama empat anak lain yang juga saudara dan tetangganya. Adapun pendiri Kampoeng Batara, Widie Nurmahmudy (40), juga masih pamannya sendiri. Di halaman rumah Widie dan Fendi, kegiatan anak-anak itu biasanya digelar.

Sobat cilik Kampoeng Batara bermain egrang bersama relawan Barisan Pemuda Adat Nusantara (BP Aman). 
 

Fendi berkeinginan kegiatan Kampoeang Batara diikuti lebih banyak kawan sehingga lebih asik bermain bersama. Diajaknya kawan-kawan di sekolah, serta menyusul mereka ke rumah-rumah. Hingga kini lebih dari 30 anak selalu bergabung setiap hari Minggu, di taman baca berslogan 'Belajar Cerdas Tanpa Batas' itu.

Kepada Jatimnet.com, Widie memutuskan membangun sebuah taman baca setelah melihat betapa tertinggal anak-anak di kampungnya. Banyak pemuda hanya lulus SD atau SMP. Mereka malu berkomunikasi dengan orang baru. Bahkan tidak tahu bahwa pohon yang tumbuh di dekat rumah mereka bernama Pohon Mahoni.

Akses masuk dan keluar dari kampung yang berada di ketinggian 1.000 meter dari permukaan laut itu memang sulit. Ditambah infrastruktur yang kurang dukungan dari pemerintah. Di Banyuwangi, Papring dikenal sebagai daerah pelosok yang sangat sulit dijangkau. Widie sendiri awalnya malu mengaku rumahnya di sana.

BACA JUGA: AMAN Banyuwangi Dorong Pariwisata Tak Menggerus Adat

“Dulu kalau ditanya rumahnya dimana, saya jawab Kalipuro. Kalaupun menyebut Papring suaranya saya kecilkan," kata Widie.

Lokasi pelosok kampung membuat penduduknya tidak percaya diri. Begitu pula dengan anak-anak. Jangankan bercita-cita menjadi dokter, pernikahan dini menjadi alur pasti kehidupan mereka, setelah tak bersekolah. Setelah lama tinggal di luar daerah, Widie mulai membongkar simpanan bukunya dan membuka sebuah taman baca.

Kadang dia meminta 'Sobat Cilik Batara' bercerita secara lisan dalam bahasa Jawa, Osing dan Madura. Atau jelajah hutan, mengenal jenis bambu, capung, pohon, disertai narasi pentingnya menjaga kelestarian alam. Permainan melatih kekompakan, konsentrasi dan kreativitas menjadi kegiatan variasi selain membaca buku.

Salah seorang relawan memimpin kegiatan anak-anak di taman baca Kampoeang Batara, Kalipuro, Banyuwangi.
 

“Kalau ada relawan, biasanya terserah (relawan), mau mengajak anak-anak ke mana. Kalau tidak, saya beri beberapa pilihan kegiatan biar anak-anak memutuskan bersama. Kasihan kalau dipaksakan, sudah enam hari mengikuti kurikulum sekolah,” ujar bapak 2 anak itu.

Kampoeng Batara diakui Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (Aman) sebagai salah satu sekolah adat meski berdiri secara mandiri. Buntutnya Widie meraih peghargaan sebagai inovator di bidang pendidikan dari Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas dalam malam penghargaan Hari Jadi Banyuwangi (Harjaba) tahun 2018.

Setelah tiga tahun menyemai kepercayaan diri dan semangat meraih cita-cita Sobat Cilik Batara, Widie ingin mengawal kelanjutan pendidikan formal hingga lulus SMA.

BACA JUGA: Setiap Tahun Ada Ribuan Pernikahan Janda Duda di Banyuwangi

Sebelumnya seorang Sobat Cilik Batara tak melanjutkan ke bangku SMP karena kurangnya dukungan orang tua. Hal itu yang melecut Widie untuk lebih dalam lagi mendampingi pendidikan sobat cilik.

"Dari pengalaman sebelumnya, besok harus dipastikan dia masuk sekolah, kebutuhan seragam dan alat tulis terpenuhi, dan orang tua didorong untuk terus mendukung," katanya lagi.

Bakat-bakat sebagian sobat cilik juga terus dikembangkan. Memainkan seperangkat alat musik tradisional, menari jaranan, misalnya Fendi yang sudah bisa memainkan puluhan lagu dengan angklung dan kendang. Sedikit bukti pembangunan karakter dalam diri Sobat Cilik Batara juga nampak pada Fendi.

Ketua kelas Kampoeng Batara itu selalu jadi sosok pemimpin bagi adik-adiknya. Siswa kelas 1 Mts Ibrahimy, Kalipuro, yang dulu kerap membentak anak-anak yang lebih kecil itu, sekarang lebih sering mengajak kawan-kawannya bergembira dan menegur dengan cara yang lebih menyenangkan.