Ngalap Berkah di Masjid Tertua di Surabaya

Masjid ini didirikan oleh Raden Sayyid Ali Rahmatullah atau Raden Rahmat (Sunan Ampel) ketika singgah dalam perjalanan dari Majapahit menuju Ampel Dento.
Baehaqi Almutoif

Sabtu, 11 Mei 2019 - 16:57

JATIMNET.COM, Surabaya – Bocah berusia tujuh tahun itu asik berlarian di pelataran Masjid Rahmat, di Jalan Kembang Kuning, Surabaya. Agus namanya, di tangannya tergenggam erat kupon untuk buka bersama yang diselenggarakan di masjid tertua di Surabaya ini.

Agus bermain bersama teman sebayanya sembari menunggu azan Magrib berkumandang di Masjid yang dibangun pada abad 14, saat Raden Rahmat atau Sunan Ampel singgah di kawasan itu ketika menuju Ampel Dento dari Kerajaan Majapahit.

Setiap hari di bulan Ramadan, masjid bersejarah ini selalu ramai pengunjung. Pengurus masjid pun menyediakan 500-600 nasi bungkus untuk para jemaah yang datang.

BACA JUGA: Suasana Ramadan di Masjid Cheng Hoo Surabaya

Ketua Yayasan Masjid Rahmat, Mansyur mengatakan sebagian nasi itu sumbangan dari masyarakat dan ada yang masak sendiri sektiar dua ratusan bungkus. "Masjid hanya menyiapkan 200 bungkus, sisanya sumbangan dari masyarakat,” katanya, Kamis 9 Mei 2019.

Salah satu keistimewaan masjid ini adalah keistiqamahan menjaga waktu azan ketika salat lima waktu. Sehingga tak heran jika masjid ini menjadi rujukan waktu salat bagi daerah-daerah di sekitarnya. Terutama waktu berbuka puasa seperti sekarang ini.

Mansyur hanya mengatakan tidak mengetahui bagaimana awalnya masjid ini bisa menjadi menjadi rujukan azan. Namun yang diketahuinya, masjid menggunakan waktu salat dari Kementerian Agama. Waktu itu selalu secara istiqamah dijaga hingga sekarang.

Mansyur menuturkan, sejarah pendirian masjid ini sangat panjang karena berdiri sejak era Majapahit hingga sekarang.

JELANG BERBUKA. Suasana menjelang buka puasa bersama di Masjid Rahmat, Jalan Kembang Kuning, Surabaya. Foto: Baehaqi

Kisahnya bermula dari perjalanan Raden Rahmat atau yang lebih dikenal Sunan Ampel dari pusat Kerajaan Majapahit di Kabupaten Mojokerto, ke Hujung Galuh atau Surabaya bagian Utara.

Tiba di kawasan Kembang Kuning, Raden Rahmat bertemu Wirosoeroyo, tokoh pemuka agama Hindu. "Sudah jadi kebiasaan orang zaman dahulu kalau ketemu sama tokoh selalu adu argumen. Sampai akhirnya Mbah Wirosoeroyo takluk tentang ketuhanannya," tuturnya.

Kemudian Wirosoeroyo memeluk agama Islam. Raden Rahmat pun lantas tinggal sejenak mengajarkan agama kepadanya. "Meski singkat, tapi bisa langsung menguasai banyak ilmu agama," ujarnya.

BACA JUGA: Berkunjung ke Masjid Tua Sewulan di Kabupaten Madiun

Wirosoeroyo kemudian menikahkan putri tunggalnya yang bernama Karimah. Usai melangsungkan pernikahan, Raden Rahmat pamit melanjutkan perjalanannya ke Ampel Dento.

Pagi hari sewaktu berangkat, tiba-tiba sudah berdiri musala dari sesek dan rumbai. Warga sekitar kaget karena tidak ada yang tahu siapa membangun. Tapi mereka mempercayai bahwa musala itu didirikan oleh Raden Rahmat, yang akhirnya dinamakan Masjid Tiban Raden Rahmat.

Kisah itu terus menjadi sejarah lisan hingga sekarang bagi masyarakat Surabaya dan sekitarnya.

IKTIKAF. Banyak warga dari luar kota yang melakukan iktikaf di dalam masjid ini terutama di malam-malam terakhir di bulan Ramadan. Foto: baehaqi

Bahkan pada malam terakhir Ramadan atau dikenal dengan malam-malam ganjil banyak tamu dari luar kota yang iktikaf, seperti Lamongan, Gresik, Malang, Pasuruan.

"Ngalap berkah. Selain itu juga para pejabat juga sering ke sini. Ada Pak Zulkifli Hasan kemarin itu," kata Mansyur.

Baca Juga

loading...