Suasana Ramadan di Masjid Cheng Hoo Surabaya

Salat Tarawih di masjid ini, jemaah bisa memilih ikut tarawih yang delapan atau dua puluh rakaat. Warga non Muslim juga diperbolehkan ikut buka puasa bersama setiap Senin dan Kamis.
Dyah Ayu Pitaloka

Sabtu, 11 Mei 2019 - 15:16

JATIMNET.COM, Surabaya – Menjelang Salat Tarawih dimulai, Dila Nuri mendadak pindah ke barisan salat Tarawih paling belakang, di Masjid Cheng Hoo, Jalan Gading, Surabaya. Bermukena putih, Dila menggendong bayi laki-laki, sambil menenteng tas berisi kebutuhan bayinya.

“Saya pindah ke belakang saja. Kalau anak saya rewel, saya ikut Tarawih delapan rakaat saja, sisanya saya tambah di rumah,” kata Dila, Kamis 9 Mei 2019.

Dila adalah satu dari ratusan jemaah salat Isya dan Tarawih di masjid milik Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo. Di masjid dengan atap bergaya pagoda segi delapan itu, ada dua imam yang memimpin salat Tarawih secara bergantian.

Satu imam salat delapan rakaat ditambah tiga rakaat witir, imam yang lain melanjutkan hitungan Tarawih hingga 20 rakaat, ditambah tiga rakaat witir.

BACA JUGA: Tarawih di Mall, Antara Ibadah dan Belanja

“Saya biasanya memang 20 rakaat, ikut di sini delapan rakaat kalau anak sedang rewel saja,” kata perempuan asal Nyamplungan, kawasan Ampel, Surabaya itu.

Dila berjajar dengan jemaah perempuan lain, di lapangan basket yang menjadi halaman masjid, dengan bangunan utama seluas 11x9 meter itu.

TAK MEMBEDAKAN. Panitia buka bersama di Masjid Cheng Hoo Surabaya tak membedakan peserta buka bersama khusus orang Islam saja, kaum duafa non Muslim juga diperbolehkan ikut. Foto: Dyah Ayu

Barisan makmum laki-laki mengisi bagian dalam masjid hingga meluber ke halaman di depan saf perempuan. Di belakang barisan Dila, beberapa anak kecil dengan riang berlarian di atas terpal yang disediakan panitia, sementara orang tua mereka mengikuti Tarawih, dan juga memantau anak dari dekat.

“Kalau salat di sini rasanya seperti di luar (tanah lapang),” kata Iis, warga asal Kupang yang datang lebih awal untuk berbuka puasa bersama.

BACA JUGA: Pesantren di Blitar Rutin Gelar Tarawih Kilat

Buka Bersama

Sejak puasa pertama hingga hari terakhir, masjid yang mengadopsi arsitektur masjid Niu Jie di Beijing itu menyediakan buka puasa bersama.

Iis adalah satu dari sekitar 700 peserta buka puasa bersama sore itu. Mereka duduk berjajar, berbaur di halaman masjid, sambil menunggu azan Magrib tiba.

Takjil berupa kurma dan air keluar lebih dahulu kemudian disambung dengan salat Magrib berjemaah. Setelah itu, peserta buka bersama kembali duduk berjajar di atas tikar untuk menerima nasi bungkus atau nasi kotak.

Bila tak kebagian, panitia memberikan kupon untuk ditukarkan aneka makanan di pujasera samping masjid. “Di sini yang berbuka macam-macam orangnya,” kata Iis yang beberapa tahun terakhir sering berbuka di Cheng Hoo.

BACA JUGA: Ramadan, Santri Ponorogo Berselawat dan Menabuh Bedug Usai Tarawih

Buka bersama tidak hanya dihadiri warga muslim saja. Panitia mengenali banyak kaum duafa non muslim yang juga ikut dalam acara tersebut.

SALAT TARAWIH. Jemaah perempuan melaksanakan salat Tarawiih di halaman luar Masjid Muhammad Cheng Hoo Surabaya. Foto: Dyah Ayu

“Yang datang ke sini uniknya banyak yang tidak puasa, tapi kami lihat mereka duafa. Kami posisikan pada kemanusiaanya saja, mereka juga kami kasih makan sama dengan yang berpuasa,” kata Hasan Basri, Ketua Pelaksana Harian Masjid Cheng Hoo.

Tak jarang, di antara peserta juga ada yang nakal, mengambil nasi lebih dari satu. Panitia pun mengingatkan mereka. Satu, dua orang berubah perilakunya, meskipun ada pula yang tetap nakal.

BACA JUGA: Tren Belanja di Bulan Puasa

“Namanya manusia ada yang nakal. Panitia ingatkan dan mengawasi agar tidak mengulangi lagi,” kata pemilik nama Tionghoa Liem Fuk Shan ini.

Panitia menghimpun dana sebesar Rp 330 juta untuk kebutuhan sahur dan buka selama Ramadan tahun ini. Donaturnya beragam, mulai dari pelaku industri di seputar Surabaya dan Jawa Timur, hingga personal yang tidak seluruhnya muslim.

Dana yang terhimpun beserta donaturnya dilaporkan secara terbuka. “Sejak awal dibangun dananya berasal dari beragam donatur, bahkan dari luar negeri juga ada. Dalam ibadah, kami juga tidak membeda-bedakan aliran, apakah NU atau Muhammadiyah semuanya diterima,” imbuhnya.

Baca Juga

loading...