Pesantren di Blitar Rutin Gelar Tarawih Kilat

7-9 menit untuk 23 rakaat, jemaahnya datang dari luar daerah.
Yosibio

Jumat, 10 Mei 2019 - 19:07

JATIMNET.COM, Blitar – Pesantren Mamba’ul Hikam di Kabupaten Blitar punya tradisi unik tiap Ramadan. Pesantren di Desa Mantenan Kecamatan Udanawu itu selama bertahun-tahun menggelar salat tarawih berjemaah secara kilat.  

Disebut kilat karena hanya membutuhkan waktu 7-9 menit untuk merampungkan 23 rakaat salat tarawih. Meski sempat mengundang kontroversi, jemaah salat terus bertambah. Bahkan mereka datang dari luar daerah.

Kamis 9 Mei 2019 malam, Jatimnet.com berkunjung ke pesantren itu. Dua ribuan jemaah menunaikan salat tarawih pada malam keempat Ramadan 1440 hijriah itu. Masjid seluas kira-kira 50 meter persegi dipenuhi jemaah. Bahkan saf salatnya meluas hingga halaman dan jalan raya.

BACA JUGA: Mie Pendalungan, Menu Berbuka Khas Probolinggo

Secara administratif, Pesantren Mamba’ul Hikam berada di Blitar. Tapi secara geografis, posisinya berbatasan dengan wilayah Tulungagung dan Kediri. Maka banyak di antara jemaah tarawih kilat juga datang dari dua wilayah itu. Agar tak tertinggal salat bersama, sebagian besar jemaah datang sesaat setelah berbuka.

Bagus, jemaah asal Kandat, Kediri misalnya. Pemuda berusia 30 tahun itu rela menempuh jarak 5 kilometer untuk bergabung dengan jemaah tarawih di pesantren itu. Malam itu, ia datang bersama sejumlah temannya.

Ia mengatakan, mulanya penasaran setelah menonton pemberitaan di televisi tentang tarawih kilat di pesantren ini. Tiap tahun kini, ia menjadi jemaah tetap tarawih kilat. “Satu bulan ini rencananya tarawih di sini,” katanya, usai tarawih.

Tubuh pemuda tambun itu tampak basah oleh keringat.

BACA JUGA: Sensasi Menanti Berbuka dengan Pesawat Terbang di Atas Kepala

Meski santri pesantren terdiri dari lelaki dan perempuan, mayoritas jemaah di sana lelaki, baik berusia muda maupun tua. Pengelola pesantren membagi jemaah salat tarawih pada empat hingga lima lokasi. Umumnya, tiap jemaah terpisah antara lelaki dan perempuan dengan imam salat tersendiri.

Baik di kelompok lelaki maupun perempuan, salat tarawih tetap berlangsung secara kilat.

Pengelola pesantren, KH.M Dliya'uddin Azzamzami mengatakan tradisi tarawih kilat berlangsung sejak pesantren didirikan oleh KH.Abdul Ghofur pada pada 1907. “Tarawih seperti ini sudah dilakukan oleh mbah saya, jadi sudah lebih satu abad,” katanya.

Menurut kiai yang biasa disapa dengan Gus Dliya' itu, meski berlangsung cepat, salat tak boleh melupakan tuma’ninah. Rukun salat pun tak boleh ditinggalkan, sehingga salat berlangsung sesuai dengan syariat.

“Batasan tuma’ninah itu biqodri subhannallah, sekiranya kita membaca subhanallah,” katanya.

Baca Juga

loading...