Berkunjung ke Masjid Tua Sewulan di Kabupaten Madiun

Nd. Nugroho

Kamis, 9 Mei 2019 - 17:59

JATIMNET.COM, Madiun – Masjid tua di wilayah Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun ini memiliki nama yang identik dengan Ramadan. Berdasarkan sejarah berdirinya, tempat ibadah ini mulai dibangun pada bulan puasa yang pada salah satu malamnya memiliki kemulian sama dengan seribu bulan atau Lailatul Qadar.

“Karena dibangun pada bulan suci, maka masjid ini diberi nama Sewulan (dari kata sewu wulan; bahasa Jawa) yang artinya seribu bulan,” kata Muhammad Baidowi, pemerhati budaya di Desa Sewulan, Kecamatan Dagangan, Kamis (9/5).

Menurutnya, masjid itu didirikan oleh RM Bagus Harun atau Kiai Ageng Basyariyah sekitar tahun 1742 Masehi. Bagus Harun merupakan Keturunan ke-13 Prabu Brawijaya V yang diberi hadiah oleh Paku Buwono II di Kartosuro karena berhasil merebut kekuasaan dari tangan pemberontak tentara Tionghoa.

Berkat keberhasilan itu, Bagus Harun mendapatkan hadiah berupa tanah perdikan (bebas pajak) dari Paku Buwono II dengan luas sekitar 1.000 hektare.

BACA JUGA: Kota Madiun Gelar Pawai Obor Sambut Bulan Ramadan

“Karena beliau (Bagus Harun) seorang ulama, maka bangunan yang didirikan pertama adalah masjid,” ujar Baidowi sembari menyatakan bahwa Bagus Harun merupakan murid Kiai Ageng Besari dari Pondok Pesantren Tegalsari, Ponorogo.

Masjid Sewulan memiliki bentuk bangunan yang tidak mengalami banyak perubahan sejak awal dibangun hingga sekarang. Dari sisi atap, berbentuk limas bertingkat tiga yang sama dengan masjid kuno Islam nusantara lain, seperti masjid Agung Demak.

TIDAK PERNAH SEPI. Masjid Sewulan di Desa Sewulan, Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun yang memiliki nilai sejarah tinggi. Nd Nugroho

Adapun nilai filosofis dari limas berundak tiga, dikatakan Baidowi merupakan penggambaran dari iman, Islam, dan ihsan.

Ketiganya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Menurutnya, iman adalah keyakinan yang menjadi dasar akidah. Keyakinan itu kemudian diwujudkan melalui pelaksanaan kelima rukun Islam. Sedangkan pelaksanaan rukun Islam dilakukan dengan cara ihsan, sebagai pendekatan diri kepada Allah SWT.

BACA JUGA: Bawang Putih Turun Drastis di Hari Ketiga Ramadan

Sedangkan dari sisi tiang atau pilar penyangga berjumlah empat di bawah atap merupakan kiasan dari level perjalanan spiritual dalam Islam, yakni Syariat, Tarekat, Hakekat, dan Makrifat. “Sebagian besar bangunan ini masih asli dan yang sudah diganti hanya pada bagian genteng saja,” ujar Baidowi.

Disinggung tentang tingkat kunjungan di Masjid Sewulan pada bulan Ramadan dikatakannya terus meningkat. Selain untuk beribadah, mereka juga berziarah ke Makam M Bagus Harun atau Kiai Ageng Basyariyah dan keturannya di samping masjid. Sejak tahun 2004, kompleks itu masuk ke dalam cagar budaya.

“Ada kelompok pengajian yang setiap malam Jumat ke sini untuk salat kemudian ziarah. Tapi, ada pula yang punya niat pribadi seperti caleg sebelum pemilu lalu,” ujar pria yang mengaku sebagai penulis buku sejarah Masjid Sewulan, Kabupaten Madiun ini.

Baca Juga

loading...