Neraca Perdagangan Industri Furnitur Surplus

Rochman Arief

Minggu, 17 Maret 2019 - 19:51

JATIMNET.COM, Jakarta – Kementerian Perindustrian mencatat neraca perdagangan industri furnitur surplus pada bulan Januari 2019, dengan nilai ekspor sebesar 113,36 juta dolar AS.

“Kemajuan industri furnitur dan kerajinan Indonesia bukan hanya usaha dari pemerintah semata, namun juga semua pihak dari hulu ke hilir,” kata Direktur Jenderal Indusri, Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian, Gati Wibawaningsih, Minggu 17 Maret 2019.

Dia menyatakan nilai ekspor tersebut, naik 8,2 persen dibanding capaian pada Desember 2018. Sepanjang tahun lalu, nilai ekspor furnitur nasional menembus hingga 1,69 miliar dolar AS atau naik 4 persen dibanding 2017.

Selanjutnya, nilai ekspor dari produk kriya nasional pada Januari-November 2018 mencapai 823 juta dolar AS, naik dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar 820 juta dolar AS.

BACA JUGA: Kemenperin Fasilitasi Ribuan Program Pendidikan Vokasi

Industri kerajinan di Indonesia jumlahnya cukup banyak, yakni lebih dari 700 ribu unit usaha dengan menyerap tenaga kerja sebanyak 1,32 juta orang.

Untuk itu, lanjut Gati, pihaknya berharap agar sektor industri kecil dan menengah (IKM) yang menjadi produsen furnitur dan kerajinan agar tetap menjaga kualitas bahan baku dan produknya serta selalu berinovasi.

“Yang tidak kalah penting adalah after sales service kepada para buyer agar mereka menjadi loyal customer,” ungkapnya.

Potensi pengembangan industri furnitur dan kerajinan di dalam negeri, tercermin dari Indonesia sebagai penghasil 80 persen bahan baku rotan dunia. Sementara daerah penghasil rotan di Indonesia tersebar di berbagai provinsi, seperti di Kalimantan, Sulawesi dan Sumatera.

BACA JUGA: Kemenperin Dorong Hilirisasi Industri Agro

“Indonesia memiliki 312 jenis spesies rotan, yang perlu dimanfaatkan untuk industri furnitur dan kerajinan,” tutur Gati.

Selain itu, sumber bahan baku kayu juga sangat besar, mengingat potensi lahan hutan di Indonesia yang sangat luas dengan total hingga 120,6 juta hektare, terdiri dari hutan produksi seluas 12,8 juta Ha.

Guna menghasilkan produk yang kompetitif di kancah global, industri furnitur dan kerajinan perlu memanfaatkan teknologi terkini. Hal ini seiring dengan implementasi peta jalan Making Indonesia 4.0.

“Melalui penggunaan teknologi digital, diharapkan industrinya semakin produktif dan inovatif, sekaligus memperluas pasar,” imbuhnya. (ant)

Baca Juga

loading...