Jumat, 01 May 2026 10:00 UTC

Petani sedang memanen padi di areal persawahan Desa Klecorejo, Kecamatan Mejayan, Kabupaten Madiun beberapa waktu lalu. Foto: Nugroho
JATIMNET.COM, Madiun – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Madiun memetakan empat wilayah kecamatan rawan kekeringan saat musim kemarau seiring berlangsungnya fenomena El Nino tahun ini.
Wilayah tersebut meliputi Kecamatan Dagangan, Wungu, Saradan, dan Pilangkenceng. Lokasinya, terutama di daerah pinggiran dengan kemiringan tinggi dan sumber air terbatas.
“Wilayah tersebut menjadi perhatian utama kami,” ujar Kepala Bidang Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Madiun Zainul Aripin,” Kamis, 30 April 2026.
Guna meminimalisasi dampak kekeringan, Pemkab Madiun mengajukan bantuan pembangunan sumur sibel di 20 titik ke Kementerian Pertanian.
BACA: 11 Desa di Ponorogo Berpotensi Kekeringan saat Kemarau Mendatang
Permintaan itu karena keberadaan sumur sibel atau pompa submersible/satelit dinilai lebih efisien untuk mengambil air tanah. Sebab, dirancang khusus untuk direndam di dalam sumur bor dalam yang umumnya 2-4 inchi.
Dari 20 sumur sibel yang diajukan pembangunannya, lanjut Zainul, 10 titik di antaranya telah masuk tahap pemberkasan. Sementara, 10 sisanya masih dalam proses identifikasi calon petani calon lokasi (SPCL).
“Kami juga mengusulkan perbaikan jaringan irigasi ke pemerintah pusat. Harapannya, usulan ini bisa disetujui untuk memperkuat ketahanan air di sektor pertanian,” katanya.
Usulan perbaikan ke pemerintah pusat dijalankan karena alokasi anggaran daerah dinyatakan Zainul terbatas dan menjadi kendala utama realisasinya.
Berdasarkan kemampuan keuangan daerah, menurut dia, hanya enam titik jaringan irigasi tersier yang bisa terakomodasi.
BACA: Proyek Irigasi Pompa Pertanian di Sampang Disinyalir Tak Sesuai Bestek
Namun, keterbatasan anggaran daerah menjadi kendala utama. Tahun ini, APBD Kabupaten Madiun hanya mampu mengakomodasi rehabilitasi jaringan irigasi tersier di enam titik. Lokasi perbaikan tersebut tersebar di Kecamatan Dagangan, Nglandung, Purworejo, Kaibon, dan Pagotan.
“Kami juga mengusulkan perbaikan jaringan irigasi ke pemerintah pusat. Harapannya, usulan ini bisa disetujui untuk memperkuat ketahanan air di sektor pertanian,” katanya.
Dalam hal ini, petani juga diminta untuk beradaptasi dengan cuaca ekstrem. Terutama, dalam penerapan pola tanam agar tetap bisa mendapatkan keutungan dari budidaya tanaman pangan yang dilakukan pada musim kemarau.
“Disarankan menggunakan benih padi berumur pendek dan penerapan pola tanam padi, padi, palawija,” ujar Zainul.
