Logo

Momen Perawat asal Jember Tangani Persalinan Darurat di Pesawat Jeddah-Jakarta

Reporter:

Selasa, 17 March 2026 02:26 UTC

Momen Perawat asal Jember Tangani Persalinan Darurat di Pesawat Jeddah-Jakarta

Febrian (kemeja dengan motif hitam-coklat) saat foto bersama setelah proses persalinan darurat. Foto: Dok Febrian

JATIMNET.COM, Jember — Tangisan bayi tiba-tiba pecah di dalam kabin pesawat yang sedang terbang ribuan kaki di udara. Di tengah keterbatasan alat medis, seorang perawat asal Jember harus berpacu dengan waktu membantu persalinan darurat seorang penumpang perempuan.

Perawat tersebut adalah Febrian Rahmatulloh dari Rumah Sakit Bina Sehat (RSBS) Jember yang sedang dikirim bekerja di sebuah rumah sakit militer milik pemerintah Arab Saudi. Ia mendadak dihadapkan pada situasi kemanusiaan yang menuntutnya segera membantu seorang ibu yang hendak melahirkan di dalam pesawat.

Peristiwa itu terjadi dalam penerbangan dari Jeddah menuju Jakarta pada Kamis, 12 Maret 2026. Saat itu Febrian sedang dalam perjalanan pulang ke Indonesia untuk mengambil cuti tahunan dari pekerjaannya di Arab Saudi.

Sekitar satu jam setelah pesawat lepas landas, awak kabin mengumumkan melalui pengeras suara dan menanyakan apakah ada dokter atau tenaga kesehatan di dalam pesawat. Mendengar pengumuman tersebut, Febrian yang merupakan alumnus Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jember segera melapor dan memperkenalkan diri sebagai perawat.

BACA: Dari Usaha Rumahan, Rengginang Tiga Generasi Asal Mojokerto Tembus Pasar Asia

Awak kabin kemudian mengarahkannya ke area salat di dalam pesawat. Di lokasi itu, seorang penumpang perempuan sudah dalam kondisi hendak melahirkan.

“Saat saya sampai di sana, posisi kepala bayi sudah keluar,” kenang Febrian.

Melihat kondisi tersebut, ia langsung mengambil tindakan untuk membantu proses persalinan. Febrian meminta sarung tangan kepada awak kabin serta meminta agar ibu tersebut diberikan oksigen dan dipasangi alat pemantau kadar oksigen dalam darah.

Beberapa menit kemudian, bayi tersebut lahir dengan selamat meski proses persalinan berlangsung di dalam pesawat yang masih berada di ketinggian ribuan kaki. Dalam proses itu, pakaian Febrian bahkan sempat terkena cipratan air ketuban.

BACA: Dari Hobi Jadi Eksportir, Kisah Nico Membawa Bumbu Instan ke Pasar Global

Untuk mencegah bayi mengalami hipotermia, Febrian segera meminta selimut dari awak kabin untuk membungkus tubuh bayi yang baru lahir. Tidak lama kemudian, dua dokter dan seorang perawat lain yang berada di dalam pesawat turut datang membantu penanganan.

Dengan peralatan medis yang sangat terbatas, mereka bersama-sama memotong tali pusar bayi dan memastikan kondisi ibu serta bayi tetap stabil.

Setelah berkoordinasi dengan kapten pesawat, awak kabin memutuskan melakukan pendaratan darurat kembali di Bandara Jeddah.

Setibanya di bandara, tim medis langsung mengambil alih penanganan. Mereka membantu proses pengeluaran plasenta sebelum membawa ibu dan bayi tersebut ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.

Setelah proses penanganan selesai, penerbangan kembali dilanjutkan menuju Jakarta pada pukul 08.00 pagi dan seluruh penumpang akhirnya tiba dengan selamat.

Berdasarkan informasi dari awak kabin, penumpang perempuan tersebut merupakan warga negara Indonesia asal Lombok yang sedang melakukan perjalanan pulang seorang diri. Ia bahkan mengaku tidak mengetahui bahwa dirinya sedang hamil.

Bagi Febrian, kejadian tersebut menjadi pengalaman pertama sekaligus momen paling menegangkan selama ia berprofesi sebagai tenaga kesehatan.

“Jujur saya kaget, cemas, dan deg-degan karena ini pengalaman pertama membantu persalinan di dalam pesawat. Tapi sebagai tenaga kesehatan kita harus tetap profesional dan melakukan yang terbaik dengan ilmu yang kita punya,” ujarnya.

BACA: Warga Tuban Ini Mendaftar Haji dengan Uang Koin Senilai Rp 60 Juta

Ia mengakui keterbatasan alat medis menjadi tantangan terbesar dalam situasi tersebut.

“Kalau di fasilitas kesehatan tentu alat sudah lengkap dan steril. Tapi di atas pesawat berbeda, kita hanya punya peralatan seadanya. Jadi harus bisa berpikir cepat dan tetap menjaga kebersihan dalam setiap tindakan,” jelasnya.

Febrian merupakan alumnus Program Studi Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jember. Ia memulai pendidikan pada 2015 dan menyelesaikan program Sarjana Keperawatan serta Profesi Ners pada 2021.

 Saat ini ia juga bekerja di RS Bina Sehat Jember. Pada 2025, Febrian mendapat kesempatan bekerja di Armed Forces Hospital – Taif Region, Arab Saudi, sebuah rumah sakit pemerintah di bawah Kementerian Pertahanan Arab Saudi.

Di sana ia bertugas di Psychiatric Center yang menangani pasien dengan gangguan kesehatan mental serta kasus kecanduan obat-obatan.

“Sebagai perawat, di mana pun dan kapan pun kita harus siap membantu orang yang membutuhkan pertolongan medis. Ilmu yang kita miliki bisa sangat bermanfaat bahkan menyelamatkan nyawa orang lain,” katanya.

Ia juga menyampaikan rasa terima kasih kepada para dosen di Universitas Muhammadiyah Jember yang telah membekalinya dengan ilmu serta nilai profesionalisme selama menempuh pendidikan.

“Saya bisa berada di posisi sekarang karena jasa para dosen yang telah mendidik kami menjadi tenaga kesehatan yang profesional,” ujarnya.

Bagi Febrian, profesi perawat tidak hanya menuntut keahlian medis, tetapi juga menekankan nilai kemanusiaan dalam setiap pelayanan kepada pasien.

“Menjadi tenaga kesehatan harus profesional, tetapi tetap mengedepankan nilai-nilai Islami dalam melayani pasien dan masyarakat,” tutupnya.