Upacara adat "metik" dilakukan menjelang panen padi pertama.

"Metik" Padi dan Wujud Syukur Petani Ponorogo

Gayuh Satria Wicaksono
Gayuh Satria Wicaksono

Jumat, 12 April 2019 - 11:18

JATIMNET.COM, PonorogoAda tradisi unik saat menyambut panen padi, yang dilakukan oleh para petani di Ponorogo, di Desa Glinggang, Kecamatan Sampung. Penduduk setempat meyebutnya “metik”.

Saat metik, warga desa, baik itu petani atau bukan, ramai-ramai membawa ingkung atau buceng, dengan berbagai macam lauk-pauk, untuk dikumpulkan di Rumah adat desa.

Buceng ini, kemudian dikirab atau diarak sepanjang jalan desa sejauh 2 kilometer, menuju persawahan desa guna mengikuti upacara adat metik padi, yang dikemas oleh warga glinggang dengan nama Glinggang Village Festival 2019.

Tampak dalam arak-arakan paling depan, kepala desa memimpin rombongan dengan membawa hasil bumi dan sesaji berupa pisang, kelapa, telur ayam, bunga 7 rupa, dan rokok klobot, dalam wadah berupa baskom.

BACA JUGA: 258 Siswa Ikuti Ekstrakurikuler Khusus Tinggal di Kampung

Pada barisan belakang, nampak ratusan warga dengan pakaian adatnya, membawa buceng dan ingkung.

Sesampainya di area persawahan, sesepuh desa akan mengambil sejumput tanaman padi untuk melakukan upacara “wiwit metik”, dengan membacakan doa dan selanjutnya melakukan prosesi “boyong mentenan”, dengan membawa sejumput padi tadi, kembali ke rumah adat desa.

“Ini adalah festival yang kami gelar untuk ketiga kalinya, dengan jumlah 200 ingkung dan ini lebih banyak dari tahun sebelumnya,” kata Kepala Desa Glinggang Riyanto, Jumat 12 April 2019.

Riyanto menuturkan, jika semua ingkung adalah hasil swadaya dan kreativitas dari para warga desa. Pada akhir upacara metik, ingkung akan disantap warga dan pengunjung bersama-sama, sebagai wujud syukur atas melimpahnya hasil bumi di Desa Glinggang.

BACA JUGA: AMAN Banyuwangi Dorong Pariwisata Tak Menggerus Adat

Pegiat budaya Purbo Sasongko menerangkan, jika tradisi metik memang sudah jarang dilakukan oleh para petani.

Dulunya, tradisi ini lazim dilakukan menjelang panen sebagai wujud syukur atas limpahan rezeki, berupa tanaman padi yang bagus.

“Dalam upacara ini juga ada prosesi tarian umbul dungo, yang menggambarkan bapak tani yang menghalau hama,” terangnya.

Ia menjelaskan, ini juga sebagai bentuk ikhtiar menjaga “dewi sri/padi”, agar selalu terbebas dari serangan hama dan penyakit, yang menyerang tanaman padi.

BACA JUGA: Pasangan Iran Ditahan Akibat Melamar di Dalam Mal

 “Semoga tradisi seperti ini tetap lestari agar para petani padi memiliki hasil panen yang melimpah dan berkah,” pungkasnya.

Baca Juga

loading...