Menikmati Hutan Kota yang Teduh dan Pantai di Banyuwangi

Ahmad Suudi

Sabtu, 23 Maret 2019 - 13:49

JATIMNET.COM, Banyuwangi - Tidak lebih dari 6 kilometer ke selatan dari Kota Banyuwangi, Jawa Timur, ada hutan kota rindang yang selalu ramai  wisatawan. Lokasinya berada di Lingkungan Rowo, Kelurahan Pakis, Banyuwangi, Jawa Timur. Pohon-pohon cemara udang setinggi belasan meter tertata rapi membentuk lorong-lorong alami yang hijau.

Selat Bali menghembuskan angin berhembus hingga menggoyang pucuk cemara hingga daunnya tampak melamba-lambai. Hembus angin itu tak begitu terasa karena dipecah oleh rimbun pohon cemara. Kendati demikian, pengunjung tetap merasakan keteduhan di pinggir pantai karena naungan lengan-lengan cemara dedaunannya.

Jalan ke destinasi yang dahulu biasa disebut Pantai Rejo itu bisa dilalui motor maupun mobil. Tersedia jasa parkir yang dikelola warga kampung nelayan setempat dengan tarif Rp 2 ribu hingga Rp 5 ribu. Setelah membayar karcis masuk, pengunjung harus berjalan kaki sekitar 50 meter hingga menyeberangi sungai lewat jembatan.

BACA JUGA: Beras Organik Banyuwangi Tembus Pasar Italia

Lingkungan Pantai Cemara ini seperti membentuk pulau sendiri yang dikelilingi sungai, muara, dan Selat Bali. Banjir rob pernah terjadi pada awal tahun 2016. Saat itu, air laut terdorong gelombang ke darat melewati pantai, sungai, tambak, hingga masuk ke pemukiman warga.

Namun, deretan cemara sepanjang sepanjang 2,5 kilometer yang saat itu telah berusia 4 tahun, mampu menurunkan daya rusak gelombang tinggi sehingga tidak ada rumah warga yang rusak. "Manfaat yang sudah kami rasakan udara lebih segar, lebih aman dari banjir rob dan angin kencang, dan membantu perekonomian warga yang sebagian berjualan," kata Mokhammad Muhyi, inisiator penanaman cemara di Pantai Rejo itu, Sabtu 23 Maret 2019.

Sampai di dalam, berjajar penjual makanan yang siap melayani pesanan berbagai makanan dan minuman, dari bakso, rujak, es krim, kopi, berbagai varian es hingga kudapan-kudapan tradisional seperti tahu walik.

BACA JUGA: Dreamsea Digitalisasi 22 Naskah Kuno di Banyuwangi

Wisatawan bisa berjalan-jalan di lorong-lorong cemara yang berpasir hitam, atau duduk di tikar-tikar yang telah disediakan penjual, dan menikmati hidangan sambil merasakan teduhnya pantai.

Ulah, salah satu penjual makanan mengaku berhasil membiayai sekolah putranya hingga tamat SMK Pelayaran berkat berdagang di Pantai Cemara. Sedangkan hasil melaut suaminya tidak lagi banyak. "Dulu harus bayar PSG (praktik kerja) Rp 4 juta, sempat mau berhenti sekolah. Tapi dari jualan bisa sampai lulus," kata Ulah.

Selain itu ada juga pusat edukasi penyu. Pengunjung mulai dari anak-anak hingga dewasa, bisa melihat anak penyu atau tukik yang
dirawat dari rumah penetasan semi alami. Akan nampak tukik-tukik berenang dengan di bak berisi air asin dalam ruangan pusat edukasi.
Sedangkan telur penyu yang ditetaskan biasanya didapat dari sarang-sarang di zona inti yang ditinggalkan induknya. Zona inti hutan kota Pantai Cemara ini seluas 4 hektare yang tidak boleh secara sembarangan dijamah.

BACA JUGA: Pariwisata Banyuwangi Dipromosikan di Bandara KLIA Malaysia

Pagar dari tegakan beton dan penghalang besi dibangun mengelilinginya untuk mempertahankan keasrian lingkungan di dalamnya yang jadi tempat favorit penyu bertelur. "Itu adalah zona inti hutan kota, kita hanya masuk saat ada penyu bertelur, untuk mengamankan telurnya dengan cara dipindahkan ke penetasan semi alami yang kami bangun," kata Muhyi lagi.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan penataan warung-warung di destinasi 19 ribu pohon cemara itu sudah terbilang rapi. Dia berharap kunjungan wisatawan yang mencapai ribuan orang di akhir pekan bisa ditingkatkan lagi. Pengelola harus menjadikan kerapian dan kebersihan sebagai prioritas.

"Pertahankan kerapian bangunan di sini, jangan berlomba membangun maju ke pinggir pantai. Karena pantai ini bersih dan asri, kelompok nelayan kalau bisa mulai membangun homestay di kawasan ini yang dikelola bersama," kata Anas.

Baca Juga

loading...