Beras Organik Banyuwangi Tembus Pasar Italia

Ahmad Suudi

Kamis, 21 Maret 2019 - 16:55

JATIMNET.COM, Banyuwangi – Petani Banyuwangi binaan Bank Indonesia (BI) Jawa Timur telah mengekspor beras organik ke Italia. Mereka adalah kelompok tani dan petani perorangan yang bermitra dengan Pusat Pelatihan Pertanian Swadaya (P4S) Sirtanio, Desa Sumberbaru, Kecamatan Singojuruh.

Ketua P4S Samanhudi, yang juga merupakan penggerak awal penanaman padi organik di Kecamatan Singojuruh mengatakan sebelumnya mereka rutin mengirimkan beras organik ke Australia 100.000 kilogram per bulan. Namun belum tercatat sebagai ekspor karena masih terlalu sedikit dan pengiriman menggunakan jasa ekspedisi.

“Yang termasuk ekspor pertama pada dua minggu lalu sebanyak 2,8 ton. Nantinya pengiriman akan dilakukan rutin setiap bulan,” kata Samanhudi, Kamis 21 Maret 2019.

Dalam mengelola pemasaran mereka membangun PT Sirtanio Organik yang bekerja sama dengan PT Kampung Kreatif Lokal yang berlokasi di Jakarta sebagai eksportir. PT Kampung Kreatif Lokal ini membeli beras petani Rp 15 ribu per kilogram, kemudian diekspor ke Italia, yang selama ini dikusai Vietnam dan Thailand.

BACA JUGA: Jatim Ekspor Daun Kelor ke Korsel Rp 13 Miliar

Padahal beras organik ini jika dijual ke Australia dibanderol sekitar Rp 70.000 per kilogram. Namun penjualan ke Negeri Kanguru itu nilainya terlalu kecil.

Saat ini petani Banyuwangi memiliki 14 hektar tanah bersertifikat organik internasional dari total 70 hektar sawah yang tersertifikasi nasional. Namun saat ini terdapat 200 hektar yang masih dalam masa konversi dari sawah konvensional menjadi sawah organik.

Dengan produktivitas empat sampai lima ton gabah sekali panen, dan dua sampai tiga kali panen dalam setahun, mereka mampu menghasilkan 12 sampai 15 ton gabah per hektar. Samanhudi menargetkan bisa menambah luas lahan organik 10 hektar per bulan karena besarnya permintaan pasar internasional pada beras organik Banyuwangi.

“Kami berharap bisa mengekspor ke AS. Ada juga permintaan dari Cina sebesar 80 ton per bulan. Saat ini kami tidak bisa melayani karena terlalu minimnya lahan serta besarnya permintaan dan harus kontinyu,” kata dia lagi.

BACA JUGA: Ngawi Ekspor 7 Ton Daun Nilam Ke India

Pembinaan BI ini dilakukan dengan memberikan bantuan mesin vacum sealer untuk kemasan plastik pada tahun 2013. Tujuannya agar bisa menjaga kualitas beras bertahan hingga dua tahun.

Adapun Kepala Kantor Perwakilan BI Jawa Timur Difi Ahmad Johansyah, mengatakan kesulitan utama pembinaan pada petani organik adalah mengubah pola pikir yang terbiasa bekerja dengan bahan kimia.

Dia mengatakan di Sumatera saja masih 12 hektare luas sawah yang telah mendapatkan sertifikat organik. Setelah petani mau konsisten meninggalkan obat-obatan kimia, BI berusaha memberikan pengetahuan tentang pertanian organik.

“Produktivitas sawah organik lebih rendah dari konvensional, itu harus diakui. Tapi kelanggengan tanah (lebih terjaga), dan produk organik jauh lebih tinggi daripada yang beras biasa,” kata pria yang pernah bertugas sebagai Kepala Kantor Perwakilan BI Sumatera Utara itu.

Baca Juga

loading...