Dreamsea Digitalisasi 22 Naskah Kuno di Banyuwangi

Ahmad Suudi

Selasa, 19 Maret 2019 - 15:20

JATIMNET.COM, Banyuwangi - Tim program Digital Repository of Endangered and Affected Manuscript in Southeast Asia (Dreamsea) melakukan digitalisasi naskah kuno di Kabupaten Banyuwangi, mulai 19-29 Maret 2019.

Proses digitalisasi menggunakan kamera dengan merekam lembar demi lembar naskah kuno. Program ini dibiayai pusat kajian manuskrip budaya Universitas of Hamburg Jerman bersama Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat Universitas Islam Negeri (PPIM UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

Digitalisasi naskah kuno dari 5 kecamatan di Banyuwangi itu disertai kuliah umum oleh Dick Van Der Meij dari Leiden University di Universitas PGRI Banyuwangi.

BACA JUGA: Keraton Yogyakarta Bangun Perpustakaan Digital Khusus Naskah Kuno

Dia mengatakan, penyimpanan digital naskah kuno lebih ekonomis dan mudah diakses daripada merawat bentuk fisiknya. Selain itu banyak individu yang menguasai naskah kuno tidak mau menyerahkan sepenuhnya pada pihak lain.

"Asia Tenggara memiliki iklim tropis yang lembab. Naskah yang disimpan cepat rusak, sehingga harus ditulis ulang. Tapi sulit menemukan orang yang bisa menulis persis aksara naskah-naskah sebelumnya," kata peneliti warga negara Belanda itu, Sabtu 19 Maret 2019.

NASKAH KUNO. Sejumlah naskah kuno di Banyuwangi yang akan didigitallisasi agar memudahkan semua orang untuk mengaksesnya. Foto: Ahmad Suudi

Dipaparkannya kerusakan naskah kuno karena iklim tidak bisa dipersalahkan dan dianggap wajar. Yang diperlukan adalah merekamnya dalam data digital sehingga bisa diakses secara terbuka dalam waktu lebih lama.

Peneliti yang aktif di PPIM UIN Syarif Hidayatullah itu juga mengatakan digitalisasi Dreamsea telah dilakukan di Laos dan Indonesia yang akan dikembangkan ke negara-negara lain di Asia Tenggara. Di Indonesia sendiri sudah dilakukan di beberapa daerah, di antaranya Aceh, Malang, Banyuwangi, Bali dan Lombok.

"Keunikan di Indonesia (naskah kuno) disimpan orang pribadi. Di Eropa disimpan di kearsipan, tidak ada pribadi yang menyimpan naskah sendiri kecuali yang sangat kaya," kata Dick Van Der.

BACA JUGA: Lukisan tentang Babad Diponegoro Dipamerkan di Yogyakarta

Ketua Komunitas Pegon Ayung Notonegoro yang turut terlibat dalam program digitalisasi naskah kuno meminjamkan 7 naskah untuk didigitalkan. Komunitas yang bergerak di Banyuwangi itu fokus mendokumentasikan naskah pesantren kuno berupa rangkuman, surat atau catatan kiai-kiai kuno yang sudah meninggal dunia.

Salah satunya catatan-catatan Kiai Soleh di Kelurahan Lateng yang turut dalam perjuangan kemerdekaan RI. Cukup sulit untuk mengakses catatan-catatan kiai yang masyhur di Banyuwangi itu karena ahli waris enggan mengganggu lemari arsip almarhum.

"Kita perlu pendekatan yang cukup lama agar keluarga mau buka lemari, karena belasan tahun tertutup dan kuncinya hilang. Dan ternyata memang tersimpan banyak arsip dan  surat yang cukup penting untuk kajian Islam di Banyuwangi," kata Ayung.

Baca Juga

loading...