Minggu, 22 March 2026 03:39 UTC

Sultan Hasanal Bolkian, pemimpin Brunei Darussalam, saat menerima kunjungan rakyatnya di Istana Nurul Iman, dalam rangka tradisi "Junjung Ziarah" seusai pelaksanaan salat id di negara tersebut. Foto: Jabatan Penerangan Brunei Darussalam
JATIMNET.COM — Hari raya Idulfitri atau lebaran selalu dirayakan dengan tradisi yang berbeda di setiap negara atau komunitas masyarakat muslim. Ajaran agama berpadu dengan tradisi lokalitas untuk menyambut hari spesial tersebut.
Salah satunya adalah di Brunei Darussalam, negara Islam dengan jumlah penduduk hampir setara dengan jumlah warga Kabupaten Bondowoso, Jatim.
Perayaan Idulfitri di Brunei Darussalam berlangsung dalam suasana yang relatif tenang, tertib, dan sarat makna sosial. Tidak hanya menjadi momen religius setelah Ramadan, Lebaran di negara monarki ini juga memperlihatkan perpaduan kuat antara nilai Islam, budaya Melayu, serta tradisi kerajaan yang masih terjaga hingga kini.
Berbeda dengan sebagian negara Asia Tenggara lain yang identik dengan kemeriahan jalanan, perayaan Lebaran di Brunei justru lebih menonjolkan kekhusyukan dan kedisiplinan sosial.
Salat Id dan Penetapan Hari Raya
Seperti di negara Muslim lainnya, Idulfitri di Brunei diawali dengan salat Id berjemaah di masjid maupun lapangan terbuka. Penetapan 1 Syawal dilakukan melalui rukyat hilal yang disahkan otoritas keagamaan resmi negara, termasuk Ketua Hakim Syarie dan Kementerian Agama.
Pelaksanaan salat Id berlangsung tertib dan khusyuk. Bahkan, kegiatan serupa yang digelar diaspora Indonesia di Kedutaan Besar RI di Bandar Seri Begawan menunjukkan antusiasme tinggi, dengan ribuan jamaah hadir dalam suasana religius yang kondusif.
Pemimpin Brunei, Sultan Hasanal Bolkiah kemudian berpidato yang disiarkan oleh stasiun televisi resmi pemerintah, RTB.
Dalam pidato pada Sabtu, 21 Maret 2026 sesaat setelah salat id, sultan menghimbau rakyat Brunei untuk tetap bersolidaritas atas penderitaan masyarakat muslim di belahan bumi lain, seperti Palestina.
“Open House”, Tradisi Kunci Lebaran Brunei
Salah satu ciri paling menonjol dari Lebaran di Brunei adalah tradisi open house. Dalam tradisi ini, masyarakat membuka rumah untuk menerima tamu dari berbagai kalangan, baik keluarga, tetangga, hingga kolega lintas latar belakang.
Konsep ini serupa dengan silaturahmi Lebaran di Indonesia, tetapi tanpa istilah “halalbihalal”. Di Brunei, praktik ini lebih dikenal sebagai Hari Raya Open House dan menjadi bagian penting dalam mempererat hubungan sosial.
Open House oleh Sultan Brunei ini dikenal dengan nama “Junjung Ziarah” dan digelar di Istana Nurul Iman.
Yang menarik, tradisi ini juga dilakukan oleh keluarga kerajaan. Setiap Idulfitri, Sultan Brunei, Hassanal Bolkiah, membuka Istana Nurul Iman bagi masyarakat umum. Warga dapat bersalaman langsung, menikmati jamuan, bahkan menerima bingkisan.
Fenomena ini menjadi simbol kedekatan antara pemimpin dan rakyat, sekaligus memperkuat legitimasi sosial dalam sistem monarki.
Nuansa Budaya Melayu yang Kuat
Lebaran di Brunei juga identik dengan busana tradisional Melayu. Pria mengenakan baju Melayu lengkap dengan songkok, sedangkan perempuan memakai baju kurung dengan warna cerah dan motif elegan.
Pilihan busana ini bukan sekadar estetika, tetapi bagian dari identitas nasional yang dijaga secara konsisten, terutama dalam momen keagamaan dan kenegaraan.
Dalam setiap open house, tamu akan disuguhi berbagai hidangan khas seperti ketupat, rendang, hingga aneka kue tradisional. Tradisi menjamu tamu ini menjadi bagian dari budaya berbagi yang kuat di masyarakat Brunei.
Jamuan tersebut tidak hanya bersifat simbolis, tetapi juga mencerminkan nilai keramahan dan keterbukaan sosial yang dijunjung tinggi.
Lebaran yang Tertib dan Minim Euforia
Hal lain yang mencolok adalah suasana Lebaran yang cenderung tertib dan tidak berlebihan. Tidak ada tradisi takbir keliling besar-besaran atau pesta jalanan. Aktivitas masyarakat lebih berpusat pada keluarga, ibadah, dan kunjungan sosial.
Karakter ini sejalan dengan kultur Brunei yang dikenal disiplin dan menjunjung tinggi norma kesopanan publik.
Tradisi Lebaran di Brunei Darussalam memperlihatkan wajah perayaan Idulfitri yang berbeda: lebih tenang, terstruktur, namun tetap hangat dan inklusif. Tradisi open house, keterlibatan keluarga kerajaan, serta kuatnya identitas Melayu menjadikan Lebaran di negeri ini tidak sekadar ritual tahunan, melainkan praktik sosial yang terus hidup dan relevan.
