Menapak Puncak Tambora, Menikmati Kaldera

Khoirotul Lathifiyah

Minggu, 14 April 2019 - 09:45

JATIMNET.COM, Surabaya - "Kalemboade". Begitu sapa ramah yang sering dilontarkan warga kaki Gunung Tambora Sumbawa Nusa Tenggara Barat (NTB), baik warga Dompu khususnya desa Pancasila, atau Bima dan warga desa Kawindatoi.

Meskipun sangat penasaran, saya memutuskan untuk tidak menanyakan lebih jauh maksud ucapan "Kalemboade" itu. Aku memilih untuk menanyakan kepada teman-teman pendaki lain pada saatnya nanti.

Juli 2018 lalu, akhirnya saya bisa menapakkan kaki di ketinggian 2.850 Mdpl puncak Gunung Tambora. Perjalanan kali ini sangat mengesankan. Ini pertama kali saya menjadi minoritas di tengah-tengah etnis Samawa.

Melangkah keluar Pulau Jawa momen langka bagiku. Waktu itu, bersama dua rekan dari Surabaya, yang juga teman mendaki ke Gunung Rinjani, saya meneruskan perjalanan ke Tambora setelah sempat istirahat selama dua hari.

Kami ingin menyaksikan secara langsung kaldera terbesar di Indonesia. Konon, ketika meletus pada 1815, menimbulkan banyak korban. Bahkan, tahun itu berlalu tanpa musim di beberapa negara.

BACA JUGA: Rute Internasional Dibuka, Banyuwangi Incar 100.000 Turis Malaysia

Kami memulai pendakian dari jalur Dompu, Desa Pancasila dengan terlebih dulu mengurus perizinan di rumah Bang Ipul dengan harga tiket Rp 5 ribu perharinya.

Berdasarkan informasi dari basecamp Bang Ipul, perjalanan ke puncak Tambora membutuhkan waktu kurang lebih sembilan jam tanpa perlu berkemah atau istirahat meski sejenak.

Ada empat pos yang harus kami lalui dari Desa Pancasila menuju puncak Gunung Tambora dengan trek lebih dominan landai ditambah terdapat 2-3 shelter antar pos.

Waktu itu pukul 14.10 WIT, ketika kami memulai perjalanan dengan tujuan pertama berkemah di pos 1. Karena masih terasa capek setelah perjalanan dari Lombok, kami bertiga berjalan santai, dan lebih sering istirahat di shelter.

BACA JUGA: Puncak Dewi Anjani yang Menggoda

Oh ya. Sebelum sampai ke Pos 1, para pendaki akan melewati spot yang disebut dengan Forest Gate. Di sini terdapat kayu yang cukup besar dan membentuk seperti pintu. Setelah melewati jalur itu, pendaki akan memasuki jalur hutan. Dan pastinya sudah cukup rimbun.

Setelah dua jam, kami akhirnya sampai di Pos 1. Pos ini tidak cukup luas untuk dibuat berkemah. Tapi, di sini ada sumber air yang sangat bening dan jernih dari sumur.

Esoknya, kami bergegas melanjutkan perjalanan, mengingat pesan bang Ipul kalau ada beberapa warga yang sedang bekerja membangun shelter di Pos 2 dan 3. Dan ternyata jarak antata Pos 1 ke Pos 2 hanya bisa ditempuh dalam waktu satu jam.

Di pos 2 ini ada sumber air, tapi kurang bersih. Selain itu, di pos ini tidak digunakan untuk berkemah, tapi untuk istirahat saja pada dua shelter yang disediakan.

BACA JUGA: Menikmati Fasilitas Alam di Segara Anakan Rinjani

Di Pos ini, kami bertemu dengan pekerja yang sedang memperbaiki dan membuat shelter di jalur pendakian. Kebetulan juga hari itu para pekerja akan turun karena kehabisan bekal. Saya senang bertemu dengan warga asli Pancasila.

Di sana saya membantu para pekerja yang sedang memasak nasi goreng menggunakan wajan kecil dan perapian dari kayu.
Dari interaksi ini pula, akhirnya saya mengetahui, apa makna kata 'Kalemboade' yang sering diucapkan warga setempat untuk menyapa.

Kata para pedagang, kata kalemboade mempunyai arti silahkan, sabar hati, atau tetap kuat. Jadi kata tersebut merupakan bentuk sapaan dan memotivasi pendaki agar kuat melanjutkan perjalanan. Kata Kalemboade bisa digunakan ketika menyuguhkan makanan atau minuman kepada tamu.

Setelah itu, kami melanjutkan perjalan ke Pos 3, dan kami berencana berkemah di sana karena lokasinya landai dan sangat luas. Faktor kedua, di pos ini kami bersamaan dengan rombongan dari warga Bima.

BACA JUGA: The Canopi Bintan, Mencecap Konsep Nomadic Tourism Kepulauan Riau

Di pos ini para pendaki harus waspada menjaga barang bawaanya. Jangan sampai makanan atau sepatu berada di luar tenda. Bukan khawatir ada orang yang mau mencurinya, tapi lebih tepatnya babi hutan yang suka keliling untuk mencari makanan.

Jadi, kalau bisa barang bawaan atau tas diikat di atas shelter atau di atas pohon, agar tetap aman. Perlu diketahui, pos ini ada sumber air yang cukup jernih, dan lokasinya berada kurang lebih 3 meter ke bawah dari pos perkemahan.

Dan perjalanan terakhir adalah ke puncak. Waktu itu kami bergegas mulai mendaki sekitar pukul 02.35 WIT dengan harapan bisa melihat matahari terbit (sunrise). Namun ternyata kami terlalu lambat berjalan karena beberapa faktor.

Pertama karena kelelahan, dan kedua kami harus waspada dengan banyaknya daun jelatang, yang bisa menyebabkan gatal-gatal pada kulit kalau tersentuh.

Mengejar sunrise kami tiba pukul 06.40 WIT. Agak menyesal dan juga kesal, tapi bagi saya itu tidak masalah, karena di puncak saya dapat menikmati luasnya kaldera di puncak Gunung Tambora.

Baca Juga

loading...