Menikmati Fasilitas Alam di Segara Anakan Rinjani

Khoirotul Lathifiyah

Minggu, 24 Maret 2019 - 12:45

JATIMNET.COM, Surabaya – Mendaki Gunung Rinjani serasa tak lengkap sebelum menginap di Danau Segara Anakan. Danau ini berada di ketinggian kurang lebih 2.000 meter di atas permukaan laut dengan luas 1.100 hektare.

Di tulisan sebelumnya, kami telah menyinggahi Puncak Dewi Anjani. Tentu setelah berjuang sekuat tenaga untuk menuju ke sana. Setelah puas di puncak, kami berencana turun ke Pos Pelawangan lalu menuju Segara Anakan.

Tempat ini oleh banyak pendaki disebut sebagai puncak kedua Gunung Rinjani. Para pendaki yang singgah di sini seperti dimanjakan dengan fasilitas alam yang sempurna. Hamparan danau yang menawan dan lokasi mandi air hangat yang disediakan alam menambah pendaki betah berlama-lama.

Tak sedikit dari mereka yang membawa pancing untuk mencoba keberuntungan mendapat ikan segar. Beberapa pendaki lain menyibukkan diri dengan swafoto serta membidik obyek-obyek yang menakjubkan.

BACA JUGA: Puncak Dewi Anjani yang Menggoda

Untuk menuju Segara Anakan dari Pos Pelawangan biasanya ditempuh selama lima jam. Kami membagi menjadi dua kelompok dan saya berada di kelompok pertama yang berangkat lebih dulu. Saya memang paling suka dan bisa berjalan cepat saat trek turunan. Medan kali ini memang lebih banyak trek yang menurun dari pada naik.

Saking asiknya, kami berdua sempat tersesat usai melewati jembatan kecil lalu ada jurang yang memotong jalan. Di situ ada dua pilihan jalur, satu turun kemudian naik ke ujung batu untuk bisa ke seberang. Sedangkan jalur satunya jalurnya menurun dan kami pun memilih yang kedua.

Setelah 30 menit perjalanan, kami menyadari kalau tersesat. Dan di ujung jalur kami mendengar suara pecikan air dan selebihnya jurang. Saat itu juga terbayang betapa capeknya melihat jalur kembali yang lumayan menanjak.

Dengan kepayahan kami terpaksa kembali ke persimpangan di atas. Setelah sampai, saya memutuskan istirahat dengan perasaan campur aduk antara kesal dan pegal. Belakangan kuketahui kalau jalur yang kami lewati adalah mnuju sumber mata air yang biasanya dimanfaatkan para porter untuk mengambil air.

Hampir setengah jam kami melepas penat. Tiba-tiba rombongna kedua kami datang dengan mimik wajah kaget karena kami ternyata masih duduk-duduk saja. Padahal Segara Anakan jaraknya sudah dekat. Mereka baru tertawa usai kami bercerita memilih jlaur yang salah.

Tepat pukul 15.30 WIB kami akhirnya tiba di Danau Segara Anakan. Rasa takjub langsung terlintas di benakku. Sebagian teman mendirikan tenda sementara saya berencana menuju pemandian air hangat.

Setiba di lokasi, kami mencari tempat yang agak sepi dengan jumlah rombongan kami delapan orang. Pukul 17.00 WIB kami bergegas kembali setelah puas mandi air hangat di ketinggian 2.000 mdpl.

Malam pertama menginap di Danau Segara Anakan kami habiskan dengan lebih banyak istirahat.

BACA JUGA: Kisah Rinjani dan Suku Sasak

Esok paginya kami mencoba keberuntungan memancing di danau, karena banyak pendaki yang sudah memasak ikan mujaer hasil tangkapannya. Berjam-jam saya menunggu, dan hasilnya nihil, ya maklum saya tidak berbakat dalam soal ini.

Akhirnya rombongan kami tidak ada yang mendapatkan ikan, putus asa mendera kami dan terpaksa memasak logistik yang masih tersisa.

Di tengah memasak, ternyata seorang kenalan kami memberikan lima ekor ikan mujaer. Aku pun langsung mencuci dan mengolahnya sebagai santapan sebelum perjalanan turun. Ya, seperti yang diduga, menyantap ikan segar di tepi Danau Segara Anakan sangat nikmat.

Perut kenyang, energi sudah pulih. Kami mempersiapkan diri untuk perjalanan turun. Ada dua jalur, yakni jalur Torean treknya menurun atau jalur Senaru yang treknya sedikit menanjak sebelum akhirnya turun. Akhirnya kami semua sepakat untuk memilih jalur Torean.

Jalur Torean ini merupakan jalur yang banyak digunakan oleh porter, tetapi waktu itu belum dibuka secara resmi oleh Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), karena memang jalur turunnya sangat curam.

Meskipun begitu, jalur ini menyuguhkan pemandangan yang sangat luar biasa, mulai dari air terjun, bantaran sungai, hingga bukit-bukit indah.

Oh ya, di perjalanan pulang ini kami juga bersama dengan dua pendaki dari Makasar, ya sejak di Segara Anakan kami menjadi satu rombongan.

Melewati jalur Torean adalah pengalaman baru untuk kami semua, akhirnya kami memutuskan untuk jarang beristirahat agar sampai di pos terakhir sebelum petang.

Namun karena kaki teman saya masih sakit sehingga lebih banyak istirahat dan sembari dipijat porter.

Target tiba di pos terakhir sebelum petang pun kandas. Kami tiba pukul 21.45 WIB. Perjalanan di malam hari yang membuat pikiran aneh-aneh muncul di benak kami masing-masing.

Kami merasa lega setelah melihat pemandangan ladang jagung milik warga seabgai pertanda sudah dekat dengan perkampungan.

Kami tak beristirahat lama-lama di pos terakhir, kami bergegas ke Mataram dengan menyewa pick up seharga Rp 600 ribu untuk sembilan orang. Kondisi lelah membuat kami tak banyak berbicara.

Saya pun lebih banyak tidur selama perjalanan, hanya sesekali melihat langit yang dipenuhi bintang, dan menyimpan semua kenangan selama pendakian.

Baca Juga

loading...