JATIMNET.COM, Surabaya – Kemolekan  Puncak Dewi Anjani sudah tak asing di mata para pendaki maupun penikmat alam. Baik dari nusantara dan mancanegara. Puncak gunung setinggi 3.726 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini bagai seorang dewi yang menggoda mereka untuk "ditaklukkan".

Maklum, Puncak Dewi Anjani, nama dari puncak tertinggi Gunung Rinjani merupakan gunung tertinggi ketiga setelah Puncak Jaya, dan Kerinci dalam kategori 7 summit di Indonesia. Keindahan Danau Segara Anak yang berada di ketinggian sekitar 2.000 mdpl juga menjadi salah satu favorit para pendaki untuk menyegarkan mata.

Juli 2018 lalu, saya menjadi salah satu perempuan yang beruntung bisa menggapai puncak Dewi Anjani. Rasa syukur bercampur haru tak bisa dibendung setelah memacu adrenalin dan menepis segala bisikan untuk menyerah menggapai puncak.

BACA JUGA: Kisah Rinjani dan Suku Sasak

Masih terngiang di benakku waktu berada di ketinggi 3.600 mdpl kondisi fisikku sangat lelah. Kaki mulai gemetaran. Di batinku terbersit penyesalan mendaki gunung ini. “Ngapain mau-maunya naik ke sini, di rumah lebih enak,” celetukku waktu itu ketika berada di trek terakhir, sebuah tanjakan yang dikenal dengan istilah naik satu langkah mundur tiga langkah.

Bersama dua teman laki-laki dari Surabaya, Hakim dan Andik, saya berangkat naik KMP Legundi meninggalkan Pulau Jawa. Dengan biaya Rp 97 ribu per orang, kami menumpang transportasi kapal Ferry RoRo (Roll on Roll of) terbesar Indonesia dengan kecepatan 17 knots.

Ada empat dek di kapal ini, dek paling bawah untuk parkir, dek dua tempat duduk dari yang kelas biasa hingga VIP, dek ketiga cafetaria, musala, dan juga tempat duduk umum, dan yang keempat dek terbuka.

Saya naik kapal pukul 13.00 WIB, dan sudah banyak penumpang yang berada diatas kapal. Maklum, perjalananku bertepatan dengan arus mudik lebaran sehingga kami tidak kebagian tempat duduk di dalam dan terpaksa duduk luar dek tiga di samping musala.

Menumpang kapal dan pergi ke Nusa Tenggara Barat adalah pengalaman baru bagi saya, tak kubiarkan diri ini hanya duduk santai saja. Mulailah kujelajahi semua dek kapal dan menyapa banyak orang. Tak lupa juga saya ke dek paling atas untuk melihat senja sore dan pemandangan laut lepas.

22 jam berlalu, dan kami sudah menapakkan kaki di Pelabuhan Lembar, Lombok, NTB. Sebelum mendaki gunung, kami menuju Mataram menemui teman-temanku. Ada empat teman baru dari Lombok; Mahmul, Anas, Yayak, dan Santa.

Dari Lembar ke Mataram saya mendapatkan tumpangan mobil saat kenalan di kapal. Tapi jika menggunakan jasa angkutan umum di pelabuhan bisa naik dengan tarif Rp 25 ribu.

BACA JUGA: Panjebar Semangat Masih Bersemangat

Setelah berjumpa dengan mereka, kami mempersiapkan kembali segala perlengkapan mendaki, termasuk logistik, kamera juga obat-obatan yang akan kami bawa.

Setelah siap, kami menuju pos perizinan pendakian via Sembalun dengan menyewa mobil di Basecamp Rinjani dengan biaya Rp 500 ribu.

Persyaratan administrasi perizinan pendakian diselesaikan di Pos Sembalun. Usai membayar tiket masuk sebesar Rp 5 ribu perhari, sekitar pukul 16.00 WIB kami mulai perjalanan dari Sembalun, dengan target waktu dua setengah jam sampai di Pos 2 untuk mendirikan tenda.

Kami pilih Pos 2 karena di tempat ini terdapat sumber air yang dapat dimanfaatkan untuk masak maupun minum. Jadi dari bawah kami tak perlu banyak-banyak membawa air minum.

Prediksi kami ternyata meleset. Perjalanan menuju Pos 2 lebih lambat satu jam dari perkiraan. Pukul 19.35 WIB kami baru tiba dan bergegas mendirikan tenda. Karena esok harus melanjutkan perjalanan lagi. Di sini, kami hanya makan bersama sebentar lalu masuk ke tenda masing-masing untuk istirahat.

Menuju Pos Pelawangan–Melewati Tanjakan Asu

Setelah sarapan dan packing, pukul 09.22 WIB kami mulai perjalanan menuju camp tujuan, yakni Pelawangan.

Kami melewati Pos 3 dengan waktu tempuh kurang lebih dua jam, Pos 4 dengan waktu tempuh dua setengah jam, dan Pos Pelawangan membutuhkan waktu dua setengah jam. Trek di jalur ini dikenal dengan Tanjakan Asu, karena jalur pendakian ini menanjak sepanjang kurang lebih 300 meter.

Di jalur ini kami sering istrirahat, sesekali kami termotivasi untuk terus naik tanpa istirahat karena melihat porter (seorang bapak-bapak) yang menyunggi barang bawaan tamu-tamunya. Juga melihat para turis yang tidak pernah istirahat untuk duduk-duduk walau hanya sejenak. Dalam perjalanan ini kami penasaran, mengapa turis-turis ini jalannya selalu cepat dan jarang istirahat.

Pukul 16.30 WIB kami tiba di Pos Pelawangan. Masih sore, dan senja sore menyambut kedatangan kami. Usai bersantai, kami bergegas mencari lapak untuk mendirikan tenda. Dan selama mencari lapak, ternyata semua porter yang tadi mendahului kami sudah memasak pisang keju, roti, dan hidangan lainnya untuk tamu-tamunya. Semakin laparlah perut ini, dan ingin segera membuka nesting untuk mulai memasak.

Kami istrirahat lebih sore, karena pukul 02.00 WIB harus mulai perjalanan menuju puncak. Para pendaki lebih sering menyebutnya dengan “Summit”.

BACA JUGA: Kisah Seniman Lekra dan Sketsanya

Summit – Puncak Rinjani

Waktu menunjukkan pukul 02.00 WIB dan hampir semua pendaki sudah terjaga. Jalur pendakian ke puncak surah dipenuhi dengan kerlip headlamp para pendaki. Begitu juga kami, yang sudah melingkar untuk berdoa untuk memulai perjalanan menuju puncak. Oh ya, sebelum melakukan perjalanan, kami meminum air teh dan memakan roti sebagai bekal. Agar kuat untuk berjalan.

Trek pendakian menuju pucak ini curam, berpasir, dan jalan berbatu. Jadi, jika fisik dan niat tidak benar-benar kuat, kami tidak akan sampai di puncaknya. Estimasi waktunya 5 jam, namun baru satu jam perjalanan salah satu rombongan kami sakit. Dan terpaksa istirahat dan menunggu matahari terbit, agar kondisi pulih kembali.

Pukul 07.00 kami mulai perjalanan lagi, salah satu teman kami sudah mulai pulih, dengan santai kami berjalan mengimbanginya. Setelah satu jam berjalan, teman yang sakit memutuskan untuk turun dan ia ditandu oleh porter karena kakinya sakit.

Dengan berat hati kami melanjutkan perjalanan, kami menyayangkan salah satu rombongan tidak bisa mencapai puncak. Selama perjalanan, para pendaki lain sudah turun, dan perasaan ingin turun pun melanda.

Akhirnya pukul 12.10 WIB saya berhasil menapakkan kaki di Puncak Dewi Anjani. Rasa syukur dan takjub membuat air mata mengalir. Penyesalan ditanjakan terakhir sudah tidak terasa, niat yang ingin turun ke tenda terhempaskan semua. Rasa pegal hilang seketika melihat kemolekan alam semesta.