DINI hari 22 Juni 1966 menjadi titik balik hidup seorang Gregorius Soeharsojo Goenito. Tepat pukul 02.00 WIB, Ia ditangkap sepasukan tentara bersenjata lengkap. Dituduh menyembunyikan orang-orang dari Jakarta dalam Gerakan 30 September 1965. Sejak malam itu, kehidupan seniman yang tergabung dalam Lembaga Kesenian Rakya (Lekra) ini dimulai dari satu penjara ke penjara tanpa proses peradilan.

Sampai pada tahun 1969, dirinya bersama tahanan politik lainnya diberangkatkan ke pembuangan di bawah proyek Instalasi Rehabilitasi (Inrehab) di Pulau Buru. Hingga tahun 1979, ribuan tahanan politik di Buru dipulangkan.

Tak mudah bagi seorang bekas tahanan politik kembali hidup di tengah masyarakat umum. Cap sebagai “orang buangan”, komunis, dan lain-lain melekat. Pak Greg, sapaan akrab Gregorius, adalah segelintir dari ribuan bekas tahanan politik yang mau terbuka dengan siapa saja, terutama generasi muda untuk mengetahui sejarah kelam masa itu.

Kepada Jatimnet yang menyambangi galerinya di kawasan Trosobo, Sidoarjo, awal Oktober lalu, ia menyambut ramah. Di teras rumahnya terpampang beberapa lukisannya seperti “Presiden RI ke-1 Ir.Soekarno”. Di ruang tamunya yang luasnya sekitar 3x4 meter juga dihiasi lukisan yang merekam peristiwa di Pulau Buru.

“Silakan duduk dulu, biar saya buatkan teh atau kopi,” katanya menyambut kedatangan Jatimnet.

Dinding ruang tamu ada dua buah lukisan berukuran sekitar 1,5 meter panjangnya. Lukisan pertama tentang awal kedatangan 500 tahanan politik di Pulau Buru sebagai barometer proyek Inrehab. Lukisan kedua mengenai kehidupan para tahanan politik yang menanam padi di sana.

Pak Greg lalu menyodorkan buku tamu kepada kami, tertulis deretan nama dan alamat para para tamu yang sudah berkunjung ke rumahnya. Rata-rata mahasiswa, jurnalis, juga ada peneliti. Semua tercatat. “Kebiasaan saya dari dulu memang mencatat aktivitas sehari-hari. Di Pulau Buru saya tuangkan dalam sketsa atau gambar,” ujarnya.

Sembari membolak-balik beberapa buku atau dokumen berupa sketsa-sketsa asli yang tertumpuk di sudut ruang tamu. Pak Greg mengaku kalau kehadiran kami membuatnya gembira, karena bisa menjadi terapi untuk kembali mengingat-ingat masa lalu. Meski ada penderitaan di sana, ada kegetiran dan perjuangan hidup yang berat.

Tak terbersit sedikitpun rasa dendam, marah, atau kecewa di wajahnya meski memorinya diajak kembali mengingat pembuangan di Buru. Lebih banyak tertawa di sela-sela ceritanya. Memang, banyak hal-hal unik dan lucu dari sekian “sketsa” kehidupan selama di Pulau Buru.

Salah satu yang membuatnya tertawa terpingkal-pingkal adalah kenangan pada seorang tentara yang tak bisa naik sepeda onthel. “Kalau naik dan jatuh, saya pura-pura tidak lihat saja. Ya kalau ketahuan bisa dipukuli,” ucapnya sambil tertawa.

Lukisan-lukisannya juga menggambarkan keindahan Pulau Buru yang dibelah Sungai Wai Apo, ladang-ladang yang sudah digarap para tahanan juga dilukisnya dengan indah. Hampir tak ada lukisan yang menggambarkan kekejaman di sana.

Lembar demi lembar sketsa asli yang kami buka juga demikian, tergambar peristiwa sehari-hari seperti apel yang dilakukan setiap pagi dan sore selama pembuangan. Juga suasana istirahat dengan gambar-gambar tahanan yang menghibur diri dengan memegang gitar atau biola. Wajah-wajah rekan-rekannya juga banyak dituangkan dalam sketsa.

Setahun setelah pulang ke Jawa dan menetap di Surabaya. Ia menikah pada tahun 1980 dan dikaruniai satu anak pada tahun 1983. “Waktu itu kerja di mana masih bingung, sak sak e ae pokok sehat,” ujarnya.

Sebagai seniman, ia lalu kembali melukis dan berjualan di rumahnya. Pernah menjadi pengawas di Ubaya mulai 1989 hingga 1991. Jadi buruh pabrik juga dilakoninya.

Perjalanan hidupnya selama di Pulau Buru juga menjadi objek lukisan. “Jadi harus kuat mempunyai imajinasi. Dulu sketsa saya sembunyi-sembunyikan sampai ada yang tercecer dan hilang,” katanya.

Belasan lukisan mengenai jejak pembuangan di Pulau Buru kemudian dipamerkan di beberapa lokasi seperti di Balai Pemuda Surabaya, dan Jakarta. Hingga ada yang mengapresiasi sketsa-sketsa sejarahnya untuk diterbitkan menjadi sebuah buku.

Lukisan orang bekerja di sawah, para tahanan sedang istirahat, keindahan Sungai Wai Apo, serta kondisi tahanan di rumah-rumah tahanan dituangkannya dalam sketsa. Greg ingin mengenangnya dengan sesuatu indah.

“Aku tak ingin mengenang Pulau Buru sebagai kenangan pahit, nyatanya setiap jalan menuju cita-cita tak selalu indah,” tuturnya seperti tertulis di sampul belakang buku yang ditulisnya berjudul “Tiada Jalan Bertabur Bunga” Memoar Pulau Buru dalam Sketsa.

Buku setebal 248 halaman yang ditulisnya ini memang berisi sketsa yang dia gambar di kertas-kertas yang ditemukan di sana. Mungkin, sketsa Pak Greg merupakan salah satu bukti sejarah dari kisah ribuan anak bangsa yang dibuang di sana. Bertahun-tahun terpisah dari keluarga dan tanah kelahiran. Tanpa proses peradilan.