Mahasiswa UKWMS Membuat Inovasi Penggorengan Otomatis untuk UMKM

Khoirotul Lathifiyah
Khoirotul Lathifiyah

Jumat, 8 Februari 2019 - 06:53

JATIMNET.COM, Surabaya - Mahasiswa Universitas Khatolik Widya Mandala Surabaya membuat inovasi berupa alat penggorengan otomatis yang cocok untuk usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Inovasi tersebut sebagai solusi terhadap lambatnya produksi kerupuk.

"Mesin ini awalnya dirancang untuk penggorengan kerupuk," kata Dosen Fakultas Teknik, Andrew Juono saat diwawancarai usai acara Pameran rangkaian inovasi teknologi tepat guna (TTG) di Kampus UKWMS, Rabu 7 Februari 2019.

Ia terinspirasi pengusaha kerupuk yang dijumpainya di Mojokerto, tepatnya produsen kerupuk singkong. Pengusaha kerupuk tersebut juga mengajak masyarakat sekitarnya untuk ikut memproduksi. Namun, proses penggorengannya cukup lama.

BACA JUGA: Mahasiswa ITS Sulap Ampas Tebu Cegah Bahaya Mercuri

Dengan adanya mesin ini, Andrew mengatakan bisa memudahkan masyarakat menjalankan bisnisnya, khususnya usaha jajanan yang digoreng. "Mesin ini bisa mempercepat produksi, sehingga menjadi kerupuk siap makan, karena ada modifikasi elektrik,” kata Andrew.

Andrew mengungkapkan, mesin tersebut terdiri dari mesin pemanas minyak, yang menggunakan bahan bakar gas elpiji, yang dikendalikan melalui sistem relay untuk menjaga sensornya.

Cara menggunakannya pun sangat sederhana, yakni dengan menuangkan kerupuk mentah ke dalam minyak yang telah dipanaskan hingga 180 derajat Celcius dalam mesin.

BACA JUGA: Mantan Buruh Pabrik Sulap Limbah Jadi Karya Seni

Kemudian tunggu beberapa saat hingga ada bunyi yang menandakan bahwa kerupuk telah matang.

"Langkah terakhir, dengan menekan tombol di panel atas untuk mengangkat tirisan kerupuk dan dituangkan pada sebuah wadah secara manual," tambahnya.

Agar lebih efektif, lanjut Andrew, bagian bawah mesin terdapat penyaring yang digunakan untuk memisahkan minyak dan kerupuk secara keseluruhan, agar didapatkan hasil kerupuk yang maksimal dan benar-benar siap konsumsi.

Setelah beberapa tahapan uji coba, kerupuk ini dapat bertahan hingga paling dua bulan. Ia mengatakan mesin tersebut memiliki dua mode, yaitu otomatis saat menggoreng dan manual saat proses penirisan.

BACA JUGA: Indah Wulandari, Sukses Bisnis Ayam Geprek Tanpa Buka Warung

“Perancangannya sejak tahun 2017, karena kami mengevaluasi permasalahan di masyarakat ini apa, dan apa yang bisa kami lakukan dan coba aplikasikan,” lanjut Andrew.

Bersama dengan timnya, Ia sudah mengujinya di Situbondo, karena kepala desa ingin masyarakatnya berkembang di bidang usaha. Ia juga ingin menggugah masyarakat untuk membuat unit produksi dan pendampingan sehingga masyarakat bisa mandiri selain untuk mengentas kemiskinan.

"Tidak ada kesulitan serius ketika mesin tersebut digunakan, bahkan untuk orang awam sekali pun," tambahnya.

BACA JUGA: Kafe Menjamur, Rezeki Mengucur

Andrew berharap inovasi ini tidak hanya menjadi advanced technology. I berharap alat ini bisa dikembangkan kelompok UMKM yang mau membangun atau memaksimalkan usaha.

"Kelebihannya, selain untuk produksi kerupuk, mesin ini juga bisa digunakan untuk mengolah ikan dan tempe, sesuai potensi usahanya," kata Andrew.

Bila dilihat di bagian bawah, ada kotak panel pengontrol waktu penggorengan. Seperti alat untuk menyalakan kompor gas. Jadi, tinggal memutar untuk menentukan pilihan waktu sesuai kebutuhan. "Semoga seluruh elemen masyarakat dapat menggunakan mesin sederhana ini dengan maksimal dan tidak bingung. Karena alatnya memang simpel," tutupnya.

Baca Juga

loading...