LANGKAH Indah Wulandari mantap. Tangannya menenteng sebuah kresek berwarna putih ukuran sepuluh kilogram-an. Tak canggung dia menyapa dan mendekati jatimnet.com yang bermaksud mewawancarainya. Dibukanya kresek itu yang ternyata berisi 10 porsi ayam geprek “Pelopor”. Sebuah brand bisnis franchise yang digelutinya setelah keluar dari perusahaan sekitar empat tahun lalu.

“Silakan Mbak, dicicipi,” katanya ramah membuka obrolan.

Sebelum menjadi bisnis franchise, Indah Wulandari jatuh bangun mengembangkan usahanya, yang memang sedari awal sengaja tidak membuka gerai maupun warung untuk menjual produk ayam gepreknya. Indah hanya bermodal mendaftar UMKM di sebuah aplikasi transportasi online. Berkat kegigihannya, kini Indah memiliki sebelas cabang franschise di enam wilayah di Indonesia, yaitu Papua 5 buah, Kalimantan ada 3 buah, Makassar ada 1 buah, di Bekasi ada 1 dan masing-masing satu franchise di Surabaya dan Sidoarjo.

Ya, di era digital saat ini memang dituntut untuk kreatif. Berbekal skill yang dimiliki, tak sedikit orang bisa sukses mengembangkan bisnisnya. Indah salah satunya. Perempuan yang hobi memasak ini memang memaksimalkan potensinya dengan membuka bisnis sendiri pascaressign sebagai project marketing di sebuah perusahaan empat tahun lalu.

“Saya suka memasak, jadi kemampuan itu saya manfaatkan,” ujar perempuan berjilbab ini sumringah.

Sebelum menggunakan brand dengan nama Ayam Geprek Pelopor, Indah menamainya Ayam Geprek Mozarella. Namun, karena kurang begitu populer di Surabaya, dirinya memutuskan untuk mengganti nama produknya dengan Ayam Geprek Pelopor. 

Nama berganti, bisnisnya pun perlahan diminati. Banyak pesanan dari pelanggan yang ingin menikmati. Lagi-lagi kreativitas dibutuhkan untuk membuat terobosan. Indah yang berasal dari Klitren, Gondokusuman, Jogjakarta itu mengaku terinspirasi dengan ayam penyet yang banyak dijual di warung-warung. Menu itupun dimodifikasi sedemikian rupa sehingga jadilah ayam geprek.

Bedanya dengan ayam penyet pada umumnya hanya terletak pada sambalnya. Jika ayam penyet sambalnya dipisah, maka ayam geprek sambalnya dicampur. Sambalnya pun sambal mentah, bukan sambal tomat seperti pada umumnya di warung penyetan

Sekitar empat tahun lalu memang belum begitu booming seperti sekarang menu ayam geprek. “Waktu saya keluarkan produk ini, langsung meledak,” ujarnya bangga. 

Kala itu, Indah yang hanya berkutat di dapur saja untuk mengolah pesanan, bisa menerima orderan antara 200 hingga 300 porsi setiap hari. Harganya Rp 15 ribu per porsi. Jadi setiap hari omzetnya antara Rp 3 juta hingga Rp 4,5 juta.

Produknya meledak dan dikenal banyak kalangan. Indah pun memberi banyak varian menu. Ada ayam geprek mozarella, pizza geledek, susshi geprek dan telor geprek. 

Hanya bermodal mendaftar sebagai salah satu UMKM di sebuah aplikasi transportasi online, Indah ternyata bisa sukses mengembangkan bisnisnya. Tak ada gerai/toko, zonder warung atau depot sebagai tempat promosi. Dapur rumahnya benar-benar jadi pusat bisnisnya.

Alasan Indah tidak membuka warung karena akan menambah biaya lagi, sehingga cukup menggunakan aplikasi agar bisa fokus mengerjakan orderan. Tips ini ternyata cukup manjur bagi dirinya.

Banyak tawaran untuk membuka franchise saat itu. Namun karena belum siap dan belum ada konsep yang matang, indah belum berfikir ke arah sana. Memang, untuk membuka franchise produknya memang harus memiliki rasa yang sama dan tingkat kepedasan sama.

“Banyak juga kustomer saya yang akhirnya bikin ayam geprek kayak saya. Secara pribadi saya tidak masalah karena rezeki diatur Allah,” ujarnya berlapang dada.

Sempat Terpuruk dan Bangkit Lagi

Perjalanan kehidupan diibaratkan banyak orang seperti roda berputar. Kadang di bawah kadang di atas. Begitu juga dengan usaha yang digeluti Indah. Setelah booming dan banjir orderan, masa-masa susah menghampirinya.

Ceritanya, bermula dari orderan yang diterimanya ke 24 alamat, yang masing-masing memesan 10 porsi. Tanpa curiga, Indah pun semangat belanja bahan-bahan yang dibutuhkan. Ayam, dan cabe tak lupa dibelinya di pasar. Dengan penuh semangat, pesanan itu dirampungkannya.

Selesai memasak dan mengemas, dia meminta kurir untuk mengirim orderan ke alamat pemesan. Apa yang terjadi?, usai barang orderan terkirim, seluruh pembeli komplain. Alasannya, nasi basi. Terpaksa dirinya mengembalikan uang yang sudah dikantongya kepada konsumen. 

Indah mengaku terkejut karena selama ini tidak pernah ada komplain nasi basi dari pelanggan. Anehnya, peristiwa ini berlangsung dua minggu berturut-turut. Padahal ia sudah ganti merk beras dan ganti teknik menanak nasi. Pemilihan ayam juga dilakukan dengan teliti dan benar-benar ayam segar.

“Kalau ingat-ingat kasus itu, sampai sekarang belum saya temukan apa penyebabnya. Saya masih ngeri kalau ingat peristiwa itu,” katanya. 

Dampaknya, bisnisnya langsung sepi. Indah juga sempat terpukul karena terbelit utang di bank titil. Ibarat pepatah, sudah jatuh tertimpa tangga. Ceritanya, dia saat itu gencar ikut pameran makanan sehingga nekat pinjam uang di bank titil yang bunganya bikin tercekik. “Waktu itu saya gak berani bilang ke suami karena untuk bisnis ayam geprek dia memberi kebebasan untuk mengelola sendiri,” katanya.

Karena situasinya sudah tidka memungkinkan, Indah akhirnya angkat tangan dan meminta bantuan suami untuk memberikan solusi atas masalahnya. Meski kaget, sang suami yang bekerja di dunia perbankan tak ragu mengulurkan tangan. Indah langsung diajari mengelola uang dan menekan keinginan pinjam uang. “Saya akhirnya merasakan sendiri bagaimana riba itu menyusahkan,” katanya berpesan.

Sedikit-demi sedikit bisnisnya mulai bangkit dari keterpurukan. Ayam Geprek Pelopor perlahan bangkit dan mulai tersohor. Seluruh rekanannya dia kontak kembali untuk diajak kerjasama. Indah fokus untuk pengembangan bisnis dengan membuka franchise. Resep standard Rasa ayam geprek juga sudah ia temukan. 

Rasa yang tetap atau terjaga memang menjadi salah satu kunci jika ingin membuka franchise. Dia membagikan sedikit resep soal pemilihan cabe yaitu jenis cabe cangkring yang diberi di Pasar Keputran.

Kini, Indah bisa menghabiskan 50 kilogram ayam, 70 kilogram cabe cangkring, dan 100 kilogram tepung dalam sehari. Takaran gula dan bumbu sambal juga sudah dipersiapkan. Jadi mitranya hanya bertugas mengulek sambal ketika ada order sehingga selalu segar.

Indah juga mengklaim jika sambal geprek buatannya berbeda dengan produk sejenis. Ia menegaskan produknya dijamin non-MSG (Monosodium Glutamate) atau yang lebih dikenal dengan sebutan micin.

Ia mengaku memiliki teknik rahasia agar sambal tetap pedas dengan rasa bumbu tetap menggoda lidah.

Dalam pengolahannya, Indah memberi standar cabe sebanyak lima buah. Jika pembeli suka pedas, dia menyediakan porsi ayam geprek super pedas dengan 25 cabe. Indah juga menyediakan porsi pedes ndower dengan jumlah 50 cabe. “Pernah ada yang pesan 100 cabe, tapi itu untuk isi kegiatan lomba di sebuah kampus,” katanya.

Usaha franchise Ayam Geprek Pelopor nya kini semakin tersohor. franchise-nya sudah tersebar di enam wilayah, Papua 5 buah, Kalimantan ada 3 buah, Makassar ada 1 buah, di Bekasi ada 1 dan masing-masing satu franchise di Surabaya dan Sidoarjo.

Semua produknya dikirim melalui bandara sehingga tetap bisa fresh meski dikirim ke berbagai provinsi. “Saya kirim dalam bentuk frozen food,” jelasnya. 

Fokusnya saat ini memang memenuhi order dari franchise yang dimilikinya. Ia tetap konsisten tidak ingin buka gerai karena sudah sibuk menangani pemesanan bahan baku franchise dan ingin memperluasnya ke berbagai wilayah. Jadi, jualan tanpa buka warung bisa sukses, kan?