Lepas Jabatan Rektor ITS, Joni Tak Ambisi Jadi Menteri

Nani Mashita

Kamis, 11 April 2019 - 15:55

JATIMNET.COM, Surabaya – Prof Joni Hermana akan mengakhiri jabatannya sebagai Rektor Institut Teknologi Sepuluh November, Jumat 12 April 2019. Sebagai seorang akademisi, dia mengaku tak berambisi menjadi menteri atau berkarir di kementerian.

“Saya ingin menghasilkan karya keilmuan dari bidang saya sendiri, ya paling tidak ada peninggalan atas apa yang saya tekuni selama ini,” kata Joni saat bercengkrama dengan wartawan, Rabu 10 April 2019 malam.

Pria kelahiran Bandung 18 Juni 1960 itu terlihat sumringah menjelang akhir kepemimpinannya di ITS. Peraih gelar doktor dari University of Newcastle, Inggris ini punya kisah yang sangat panjang dan berliku sebelum menjabat sebagai rektor.

Joni sempat mencicipi jabatan sebagai Dekan FTSP 2007-2011 dan menjalankan berbagai program untuk FTSP. Dia juga menjadi Guru Besar dalam Bidang Ilmu Perencanaan Bangunan Air Limbah.

BACA JUGA: Presiden Jokowi Jajal Motor Listrik Bikinan ITS

Di luar ITS, Joni berkontribusi menjadi anggota Badan Pengawas PDAM Surabaya saat wali kota dijabat Bambang DH. Setelah itu, ia melanjutkan posisi sebagai Penasihat Teknis untuk Wali Kota Kota Surabaya untuk Kerjasama Sektor Sanitasi dan Air Minum, Surabaya sejak 2011 hingga sekarang.  Tahun 2015, Joni terpilih menjadi rektor ITS.

Kepada Jatimnet.com, Joni mengingat soal komitmennya menjabat sebagai rektor hanya satu periode saja. Bapak empat orang anak ini juga menegaskan sudah siap lahir batin menjadi dosen biasa, tanpa ada embel-embel pangkat atau jabatan apapun. Dia juga tidak ingin menjabat apapun saat kembali ke Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP). 

"Karena saya menyadari rektor kan hanya jabatan tambahan, sebetulnya saya adalah dosen. Jadi kalau kembali lagi jadi dosen ya insya Allah tidak ada perubahan signifikan. Saya tidak merasa berbeda selama menjadi rektor dengan ketika saya menjadi dosen biasa," katanya panjang lebar.

Lebih lanjut, Joni mengungkap dirinya punya ambisi yang ingin dicapai yaitu melahirkan penelitian atas karya keilmuannya. Berkutat di urusan administratif membuatnya ketinggalan dalam aspek keilmuan.

BACA JUGA: GESITS Diproduksi Massal 2019 dengan Harga Kompetitif

Dia juga siap mendobrak tradisi bahwa mantan rektor harus duduk di jajaran Senat Akademik (SA) maupun Majelis Wali Amanat (MWA). “Kalau saya lebih baik off dari manajemen kampus agar rektor yang baru punya keleluasaan dan bebas berkreasi dengan keinginannya. Kalau saya di situ malah kurang produktif,” tuturnya.  

Memang selama kepemimpinan Joni, tidak terdengar adanya gesekan maupun faksi-faksi yang muncul di kampus tersebut. ITS relatif tenang dan jauh dari kabar seteru di internal ITS.

Sebaliknya, banyak sekali prestasi yang dicapai ITS selama kepemimpinannya. Salah satu yang paling fenomenal adalah kelahiran motor listrik Gesits yang akhirnya diproduksi secara komersial. Selain itu, catatan kemenangan mahasiswa ITS di perlombaan bertaraf internasional seolah tak pernah berhenti diberitakan.

Dia pun berpesan agar penggantinya, Prof Mochamad Ashari meneruskan tradisi ini. “Sebetulnya yang perlu dilakukan adalah memelihara momentum. Bahwa anak-anak sudah menggelora (berprestasi), tinggal dipertahankan supaya api lebih besar dan semangatnya dijaga,” ujarnya.

Hal lain yang dia sampaikan kepada rektor yang baru adalah meningkatkan peringkat ITS sehingga bisa diakui sebagai salah satu world class university. Dia berharap Ashari bisa mengerek posisi ITS ke jajaran 500 besar universitas dunia versi QS World University Rankings.  

BACA JUGA: Doktor di Rusia, Pemulung Sampah di Blora

Di bawah kepemimpinan Joni, ITS juga terlihat kalem menghadapi panasnya even pemilihan presiden. Banyaknya alumni yang mendukung dan mendeklarasikan dukungan ke salah satu capres tertentu tidak menggelisahkannya.

Baginya, ITS yang sudah melahirkan 100 ribu alumni sangat terbuka dengan perbedaan dalam memberikan hak suara. Joni hanya memastikan agar para dosen tidak ikut-ikutan terseret arus panas pilpres. Adapun para mahasiswa, kata Joni, juga tidak terlalu terpengaruh dengan ajang ini dan tidak terlihat kegiatan politik praktis di kampusnya. 

“Yang ribut kan yang tua-tua, alumni-alumni itu yang ribut sendiri. Hahaha... saya tidak mau menanggapi. Yang jelas saya menjaga agar dosen jangan sampai terlibat karena secara prinsip kan ASN. tidak boleh terlibat politik,” tegasnya.

Dia juga tidak  mau berandai-andai soal kabar yang menyebutkan dia akan ditarik ke jajaran dirjen di Kemenristekdikti. Ia cuma tersenyum menanggapinya, termasuk peluangnya menjadi Menteri Pendidikan di pemerintahan terbaru nanti.

“Hahaha itu canda saja, tidak usah berandai-andai. Itu terlalu jauh lah. Kita syukuri apa yang ada, biarkan mengalir,” pungkasnya.  

Baca Juga

loading...