Logo

Lembutnya Bakso Kalkun yang Menyehatkan

Reporter:,Editor:

Rabu, 20 February 2019 09:35 UTC

Lembutnya Bakso Kalkun yang Menyehatkan

Brilian Ariza memamerkan kalkun yang siap dipotong untuk dijadikan daging bakso. Foto: Gayu Satria.

JATIMNET.COM, Ponorogo – Kalkun (Meleagridinae) cukup populer sebagai masakan di belahan dunia. Sejumlah negara telah menjadikan kalkun sebagai sajian maupun suguhan di berbagai acara.

Dalam peringatan Thanksgiving Day atau peringatan hari libur di Amerika Utara misalnya. Sajian daging kalkun utuh disajikan sebagai ucapan rasa syukur di akhir musim panen.

Perayaan Hari Raya Natal di Belanda, kalkun panggang atau kalkub oven disuguhkan lengkap dengan saus apel maupun salad nanas, kismis serta buah ceri. Sementara di Indonesia kalkun juga bisa disajikan dalam bentuk soto, sup, panggang, oven, goreng, hingga bakso.

BACA JUGA: 2.062 Penari Jathil Asal Ponorogo Pecahkan Rekor Muri

Menu terakhir inilah yang kini dikembangkan Brilian Ariza, warga Ponorogo. Dia baru saja menjalani bisnis bakso kalkun. Sebab mengolah daging kalkun untuk dijadikan bakso cukup mudah. Persis seperti membuat bakso lain, daging dicampur dengan bumbu kemudian digiling.

Riza, sapaannya mengaku sempat bingung dengan ternaknya. Jika diolah, mau dijadikan apa. Jika dijual juga susah laku, jika dipelihara pekarangannya makin sempit. Berbekal hobi memasak, ia beruji coba untuk memotong salah satu kalkun untuk dijadikan bakso.

“Awalnya saya iseng melihara sepasang kalkun. Pada saat bertelur dan terus berkembang biak saya mulai mencoba mengembangkan untuk dijadikan masakan,” kata Brilian Ariza di warungya Jalan Halim Perdana Kusuma, Desa Mrican, Kecamatan Jenangan, Ponorogo, Rabu 20 Februari 2019.

Setelah beberapa kali mencoba dengan berbagai bumbu, ia memberanikan diri untuk membuka bisnis kuliner dengan bahan dasar olahan daging kalkun. “Ayam kalkun itu kalau salah bumbu rasanya hambar, jadi pemilihan bumbu yang kuat menjadi kunci saat mengolah daging kalkun,” terangnya.

Kalkun yang ia masak tidak sembarangan. Hanya kalkun dengan umur enam sampai delapan bulan yang diolah menjadi masakan. Untuk mengolah daging kalkun menjadi bakso menurutnya cukup mudah.

Bapak dua anak ini menerangkan jika daging kalkun sangat rendah lemak dan rendah kolesterol. Oleh sebab itu daging kalkun berwarna putih pucat. Hal ini juga yang membuat daging kalkun memiliki banyak manfaat. Utamanya bagi orang dengan kadar kolesterol tinggi dan penyakit jantung.

“Untuk yang berdiet, tetapi tetap ingin merasakan daging ayam, olahan kalkun bisa menjadi pilihan dan sangat cocok,” imbuhnya.

Warung makan yang baru buka tiga bulan ini selalu ramai pengunjung. Mayoritas pelanggannya adalah para ibu-ibu dan remaja yang ingin mencicipi bakso daging kalkun. Dalam satu bulan ia bisa mengantongi omzet mencapai Rp 25 juta hingga Rp 30 juta.

BACA JUGA: Berebut Nasi Pecel Tumpuk Dan Kepleh Di Ponorogo

“Satu porsi bakso kalkun saya jual Rp 15 ribu, selain itu menu di sini juga ada kalkun panggang, bakar, maupun goreng,” imbuhnya.

Untuk rasa, Riza mengaku tidak terlalu berbeda dengan bakso pada umumnya. Bakso kalkun miliknya memiliki tekstur yang lebih lembut jika dibandingkan dengan bakso dengan bahan daging sapi.

Usaha yang baru dirintisnya ini bukan tanpa halangan. Riza mengaku kewalahan menjaga stok kalkun di peternakannya. Permintaan yang mulai meningkat membuatnya harus membeli kalkun sampai Tulungagung, Blitar, bahkan Kediri.

“Untuk mengamankan stok kalkun saya harus berburu kalkun dewasa dan anakan, apalagi saat ini sedang banyak permintaan,” Brlian memungkasi wawancara.