Rabu, 24 November 2021 23:40 UTC

Manajer Human Capital ITS Anandre Forastero. Dok: Humas ITS
JATIMNET.COM, Surabaya – Seiring dengan menurunnya kasus Covid-19 di Indonesia, beberapa kampus telah mulai menggelar kuliah tatap muka. Seperti Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya yang sudah melakukan perkuliahan secara hibrid atau kombinasi online dan tatap muka (offline) sejak September lalu.
Manajer Human Capital ITS Anandre Forastero menyatakan bahwa perkuliahan secara tatap muka juga otomatis akan mengembalikan aktivitas organisasi para mahasiswa di kampus.
Terlebih, beberapa mahasiswa telah menjadikan organisasi sebagai sebuah kegemaran. Karena berorganisasi memiliki segudang manfaat, mulai dari mengasah jiwa kepemimpinan, hingga memperluas jaringan pertemanan maupun profesional.
"Di masa pandemi ini, mahasiswa perlu untuk lebih mengerti mengenai leadership (kepemimpinan) di dalam sebuah organisasi. Agar mahasiswa bisa memetik hasil dalam berorganisasi secara optimal, di tengah keterbatasan yang kita miliki saat ini akibat pandemi," kata Anandre.
Berdasar itulah, ia membagikan beberapa tips cerdas dalam berorganisasi. Pertama, lakukan manajemen meeting dengan baik.
BACA JUGA: Gelar Aksi, Mahasiswa Beri Rapor Merah untuk Pemkot Mojokerto
"Dalam sebuah organisasi, kamu akan lebih mudah melakukan sebuah kegiatan dengan meeting management yang bagus. Nah, meeting management ini akan dibagi menjadi dua, yaitu intensitas dan set-up," ia menjelaskan.
Intensitas yang dimaksud di sini yaitu harus diperhatikan rutinitas meeting, pembagian tugas, dan koordinasi.
“Pastikan meeting yang kalian lakukan tepat sasaran. Pahami goals-nya (tujuannya) dan siapa yang perlu ikut. Ada beberapa hal yang lebih baik dikoordinasikan secara personal daripada dalam grup ataupun pertemuan langsung. Terlebih di masa pandemi, sebisa mungkin pertemuan tatap muka hanya untuk aktivitas yang urgent (penting) dan jangan lupakan protokol kesehatan,” ia menerangkan.
Sementara terkait set-up, menurut Anandre, itu merupakan pembagian acara dalam sebuah meeting. Menurutnya, mahasiswa harus benar-benar memperhatikan ini dengan sangat baik.
“Dalam sebuah meeting itu sebaiknya ada tiga bagian, yaitu prolog, isi, dan penutup. Prolog ini bertujuan untuk menentukan arah tujuan meeting kalian biar tak ngalor ngidul (tak tentu arah atau tak fokus). Kemudian lanjutkan dengan isi dan akhiri dengan say thanks (terima kasih) ke mereka yang sudah hadir,” ia mengungkapkan.
Kedua, jaga manajemen emosi. Manajemen emosi juga menjadi salah satu hal terpenting dalam ilmu leadership. Mengatur emosi benar-benar sangat penting. Terlebih di masa pandemi ini, komunikasi akan lebih banyak dilakukan secara elektronik seperti lewat chat, telepon, maupun video call. Sehingga sangat wajar salah paham rentan terjadi jika komunikasi tak dilangsungkan secara tatap muka.
BACA JUGA: Mendikbud Minta Mahasiswa Aktif Berkegiatan di Kampus
“Dalam sebuah organisasi, marah yang berlebihan justru akan membawa dampak yang buruk. Di sini pentingnya manajemen emosi dalam kepemimpinan. Kita perlu memilah mana situasi yang butuh rasa amarah dengan porsi yang secukupnya dan mana situasi yang sebenarnya tidak perlu rasa marah,” ia memaparkan.
Terakhir, menjaga pola pikir positif. Mengikuti organisasi harus diikuti dengan perubahan pola pikir dalam diri. Mindset (pola pikir) utama yang harus diubah adalah ‘Kamu tak akan bisa menyenangkan semua orang’. Jadi tanpa rasa sungkan kalian harus menegur tim kalian sendiri jika melakukan sebuah kesalahan.
“Dalam berorganisasi, kamu tak boleh sungkan dan tidak enakan ketika harus menegur teman dekat kita yang melakukan kesalahan dalam bekerja. Semakin kamu berusaha menyenangkan semua orang, kamu tidak akan menyenangkan siapapun. Ini harga yang pasti harus dibayar sebagai seorang leader. Tugas kita adalah memastikan setiap anggota bertumbuh dan berkembang sesuai dengan porsinya masing-masing,” ia menegaskan.
Menurutnya, memang tak mudah menjadi seorang leader. Namun, semakin kamu belajar dengan baik, kamu akan lebih mudah dalam mengatasi berbagai permasalahan dalam sebuah organisasi.
"Meskipun tak jarang pilihan yang kamu ambil akan membuat orang lain kecewa. But it’s okay, itulah namanya seni dalam memimpin," ia menekankan.
