Diekspor ke Jepang melalui OISCA

Kopi Mangrove, Minuman Penambah Stamina dari Madura

Hari Istiawan

Selasa, 26 Februari 2019 - 17:38

JATIMNET.COM, Surabaya – Jenis kopi satu belum begitu dikenal di masyarakat. Memang bukan jenis kopi robusta atau arabika, yang sudah umum tersedia di kafe-kafe atau warung.

Kopi mangrove namanya. Atau orang juga menyebutnya sebagai kopi malam Jumat, karena dipercaya bisa menabah stamina pria. Minuman berwarna hitam ini memang dibuat dari biji tanaman mangrove kemudian diolah menjadi bubuk berwarna hitam.

Mengutip situs Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jatim, salah satu kelompok tani yang mengolah biji Mangrove menjadi minuman Kopi Mangrove adalah Kelompok Tani Hutan Sabuk Hijau di Desa Lembung, Kecamatan Galis, Kabupaten Sumenep.

BACA JUGA: Indonesia Peringkat Empat Pasar Ritel Kopi di Dunia

“Minuman unik ini dibuat dari bahan utama buah mangrove yaitu jenis Rhizopora stylosa yang banyak ditemui di pesisir Desa Lembung,” tulis Didik Sutrisno, Penyuluh Kehutanan pada Seksi Konservasi Wilayah IV Pamekasan, di laman resmi BBKSDA Jatim.

Menurutnya, pembuatan Kopi Mangrove dimulai dengan pengumpulan buah dari hutan mangrove yang dilakukan oleh anggota kelompok tani, selanjutnya buah dikeringkan dengan cara dijemur atau dioven sampai benar-benar kering atau remah saat digenggam.

Setelah kering barulah buah mangrove disangrai sampai berwarna kehitaman yang selanjutnya di giling hingga halus menyerupai bubuk kopi. Untuk menambah aroma dan manfaat ditambahkan sedikit Jahe dan Cabe Jamu.

BACA JUGA: Defisit Perdagangan dengan Rusia, Kemendag Dukung Ekspor Olahan Kopi

Minuman yang juga dikenal dengan Kopi Malam Jumat ini memiliki warna seperti kopi, dari segi aroma mirip dengan Kopi Jahe khas Madura namun sedikit ada aroma jamunya. Saat diteguk rasanya agak berbeda dengan kopi pada umumnya karena lebih terasa pahit jamu.

Kopi Mangrove telah mengantongi sertifikasi Pangan Industri Rumah Tangga dari Dinas Kesehatan setempat sehingga dipastikan Aman untuk dikonsumsi.

Kopi ini hanya dipasarkan ketika ada pesanan saja. Setiap bulannya tak kurang 15–50 kilogaram kopi mampu dijual oleh Kelompok Tani Sabuk Hijau. Secara rutin kopi juga dikirim ke Jawa Barat dan diekspor ke Jepang melalui OISCA (Organization for Industrial Spiritual and Cultural Advancement).

BACA JUGA: Kopi Aceh Paling Banyak Diekspor ke Jerman dan AS

Menurut ketua kelompok tani, Salaman, yang juga merupakan Kader Konservasi Jawa Timur, Kopi mangrove diproduksi sejak tahun 2010. Namun produksi skala lebih besar baru dimulai pada tahun 2012 hingga sekarang. Selain Kopi Mangrove produk lain dari hutan mangrove di Desa Lembung adalah madu hutan mangrove.

Kesadaran masyarakat untuk menjaga mangrove kini membuahkan hasil, yang dahulu kayunya ditebang untuk kayu bakar, kini masyarakat berbondong-bondong untuk turut serta menanami kembali hutan mangrove yang dahulu dirusak. Selain karena ada hasil olahan yang sudah mampu diproduksi dan dijual, alasan lainya yaitu hutan mangrove menjadi pelindung Desa Lembung dari ancaman ombak.

Baca Juga

loading...