JATIMNET.COM, Surabaya – Seorang guru dan orang tua harus memahami dan bertindak tepat ketika terjadi penyimpangan sosial yang dilakukan anak di usia awal remaja atau masa-masa di Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Psikolog Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya Amanda Pascarini menyebut, anak pada usia 13 tahun (tahap pertama memasuki remaja) sedang menjalani fase badai topan.

“Fase badai topan merupakan tahap dalam proses mencari jati dirinya. Sehingga, anak akan lebih kritis dan ingin selalu mencoba hal-hal yang baru diketahui,” kata Amanda saat dihubungi Jatimnet.com, Minggu 10 Februari 2019.

Menurutnya, di usia ini, anak-anak sedang mencari nilai maupun norma yang sesuai dengan dirinya, atau sedang mencari kenyamanannya. Sehingga jika tidak menemukan apa yang dia cari, atau dia mendapatkan perlawanan atas rasa ingin tahunya, Ia akan bertindak secara tidak terduga.

Biasanya perilaku menyimpang yang dilakukan merupakan salah satu dampak pada cara bertindak seorang anak ketika mendapatkan stimulus dari lingkungannya. Tindakan yang dilakukan pun biasanya dipengaruhi oleh faktor internal (keluarga) maupun eksternal (sekolah, kelompok bermain, dunia maya, dan tempat lainnya.

BACA JUGA: Siswa Yang Melecehkan Gurunya di Kelas Minta Maaf

Amanda mengatakan, faktor internal misalnya seperti kurangnya kasih sayang, maupun menanamkan nilai dan norma kepada anak untuk cara bertindak. Selain itu, bisa juga dipengaruhi karena pengalaman yang diperolehnya selama anak masih usia dini.

“Misalnya dia dilarang memaki, tetapi orang tuanya masih memaki jika menasehati,” tambahnya.

Sedangkan faktor eksternal misalnya seperti kebiasaan mendengar cacian, bullying maupun melihat kekerasan di lingkungan, akan tetapi tidak ada yang menasehati bahwa hal tersebut salah. Sehingga anak akan cenderung menyimpan kejadian yang sudah dilihatnya.

“Biasanya dia cenderung mempraktikkan hal tersebut,” kata Amanda.

Menurutnya, jika sudah terjadi seperti itu, hal yang perlu dilakukan oleh pihak sekolah adalah memberikan pendampingan dan konseling. Pendampingan tersebut sangat dibutuhkan untuk mengembalikannya pada norma dan nilai yang benar. Konseling tersebut harus bersifat membimbing dan mengarahkan, bukan malah menginterogasi.

BACA JUGA: 94 Kekerasan Anak di Sekolah Terjadi Di Jawa Timur

“Metode dalam membimbing anak juga sangat diperlukan, agar tidak merasa terpojok maupun depresi,” kata Amanda.

Disamping itu, peran orang tua sangat dibutuhkan dalam mengevaluasi dan pendampingan konseling. Jadi pihak sekolah, anak dan orang tua harus melakukan kontrak dan kesepakatan untuk saling berkomitmen dalam berperilaku. Dalam menyampaikan permasalahan yang terjadi pun, guru harus dengan benar memberikan pengarahan kepada orang tua.

“Jadi guru harus bisa mengarahkan orang tua, bukan malah memprovokasi agar anaknya dihukum atau dipukuli karena kesalahannya,” ungkapnya.

Selanjutnya, kata Amanda, jika sudah dilakukan pendampingan konseling tetapi masih tidak berubah, harus dilakukan psikotes. Karena kemungkinan anak tersebut mengalami kelainan maupun psikopat.

Jika hal tersebut terjadi, peran orang tua dan guru belum memadai. Dalam menangani hal tersebut bisa mengikutsertakan dokter dalam penanganannya, karena permasalan tersebut masuk dalam psikologis dan kesehatan anak.

BACA JUGA: Psikotes Guru Untuk Hindari Kekerasan Terhadap Siswa

Namun perlu diingat, tindakan pendampingan harus diutamakan karena bisa jadi penyimpangan yang terjadi kemungkinan salah satu masalah yang sedang dihadapi anak ketika memasuki fase badai topan tersebut.

“Anak ini kan masa depannya masih panjang, jangan sampai dengan salah bertindak kita menjadikannya sebagai anak yang gagal dan tidak mempunyai masa depan cerah. Mungkin saja dengan hal tersebut anak akan merasa tidak diterima dimanapun dan merasa dipojokkan,” ungkap Amanda.

Amanda berharap agar media maupun masyarakat tidak menghakimi kenakalan remaja tersebut, seperti dengan mengedarkan video kekerasan dan mencaci maki anak tersebut. Karena muatan kekerasan tersebut bukan hanya berdampak negatif pada anak yang melakukan, tetapi juga anak yang melihat.