JATIMNET.COM, Banyuwangi - Kapal Layar Motor (KLM) Nur Salsabila berhasil berlayar menerobos cuaca buruk Laut Bali menuju Pelabuhan Boom Banyuwangi. Berangkat dari Kepulauan Sapeken, Kabupaten Sumenep pada Minggu 27 Januari 2019 sekitar pukul 02.00 dinihari, kapal pengangkut barang ini tiba dengan selamat di Banyuwangi pada Senin 28 Januari 2019 menjelang tengah malam.  

Mengarungi laut dengan muatan ikan beku seberat 20 ton, kapal ini terlambat 5 jam dari jadwal dan bahkan sempat hilang kontak. "Karena ikan terlanjur dimuat, dan awalnya cuaca bagus jadi kami jalan," kata Nuhun (55), kapten KML Nur Salsabila, di Pelabuhan Boom, Selasa 29 Januari 2019.

Nuhun bersama 5 anak buah kapal (ABK) berangkat dari Pulau Sapeken dengan dokumen izin layar lengkap yang diterbitkan oleh Kesyahbandaran Pulau Sapeken. Izin layar diterbitkan karena cuaca dianggap aman.

Selain itu, Maklumat Pelayaran dari Dirjen Perhubungan Laut (Hubla) Kemenhub terkait imbauan peningkatan kewaspadaan terhadap cuaca ekstrim berlaku pada 20-26 Januari 2019.

BACA JUGA: Ratusan Penumpang Terlantar di Pelabuhan Tanjungwangi Berangkat Besok

Namun, cuaca berkehendak lain. Badai mulai menerpa setelah KML Nur Salsabila berlayar menjauh 1 mil dari dermaga Pulau Sapeken. Ombak naik hingga setinggi 3 meter mengombang-ambingkan perahu bercat kuning itu.

Namun, Nuhun mengatakan badai yang dihadapinya masih kecil, sehingga tak perlu membuang separuh muatan perahunya.

"Kalau badai besar saya harus buang 10 ton muatan perahu. Perahu kecil juga lebih cepat menyeimbangkan badan pada gelombang, daripada perahu besi yang besar," ujar Nuhun.

KLM Nur Salsabila sampai di Pelabuhan Boom Senin 28 Januari 2019, menjelang tengah malam. Muatan kapal berupa ikan dengan es di dalam kota-kota besar itu dibongkar Selasa 29 Januari 2019 pagi.

Kepala UPT Pelabuhan Pengumpan Regional Banyuwangi Dinas Perhubungan Jatim Septantya Asmoro mengatakan selama 10 hari terakhir tidak ada perahu lain yang sandar. Ia kaget ketika kemudian ada KML Nur Salsabila sandar Senin menjelang tengah malam.

BACA JUGA: Puluhan Warga Sapeken Telantar di Pelabuhan Tanjung Wangi

Di Pelabuhan Boom, ada 3 kapal pengangkut barang serupa yang tertahan 10 hari terakhir karena tidak mendapatkan izin melaut. Akibatnya, ketiga kapal harus membayar biaya sandar per 15 hari Rp 75 ribu, seperti yang telah tercantum dalam Peraturan Daerah (Perda) Provinsi Jawa Timur.

"Biasanya sandar 3 sampai 4 hari mereka langsung berangkat ke Sapeken, sekarang menunggu sudah 10 hari. Malah ada yang datang," kata Asmoro.

Prakirawan Cuaca Stasiun BMKG Banyuwangi Benny Gumintar menjelaskan gelombang air laut ke Sapeken pada Rabu 30 Januari 2019, diperkirakan setinggi 0,3 hingga 0,7 meter.

Sejak Senin 28 Januari 2019 hingga Selasa 29 Januari 2019, tinggi gelombang air laut jalur ke Sapeken berkisar 1 hingga 2 meter.

"Tapi ini signifikan atau rata-rata, bukan tinggi maksimum. Tinggi maksimum gelombang di laut yang dihadapi nelayan mungkin setinggi 4 meter. Walau muncul saat-saat tertentu saja, tidak sepanjang hari," kata Benny.