JATIMNET.COM, Surabaya - Jalan Kramat Gantung, Kelurahan Bubutan, Surabaya, nyaris tidak pernah sepi oleh lalu lalang kendaraan. Tidak jarang mobil dan motor yang lewat di jalan ini harus mengurangi kecepatan karena arus padat.

Toko yang berjajar di sepanjang jalan selalu ramai di jam sibuk. Bongkar muat barang jadi pemandangan sehari-hari dan menjadi salah satu penyebab kemacetan.

Ramainya aktivitas perekonomian di Jalan Kramat Gantung seolah menutup kisah lama asal usul penamaan wilayah itu. Ada dua versi terkait nama asal nama Kramat Gantung yang selama ini beredar.

BACA JUGA: Asal Usul Kampung Made Surabaya

Pegiat sejarah Surabaya Chrisyandi mengatakan, versi pertama asal nama Kramat Gantung karena di kawasan tersebut sering terjadi penggantungan pribumi yang dianggap pembangkang, pemberontak atau penjahat.

Cerita pada versi pertama ini berlatar belakang massa Hindia Belanda. Para pelaku kriminal, termasuk orang yang melawan kepada Pemerintah Kolonial Belanda, dihukum dengan digantung di tempat ini.

“Tujuannya, untuk memberikan efek jera kepada masyarakat yang lain,” ujar Chrisyandi dihubungi Jatimnet.com, Rabu 13 Maret 2019.

Salah satu peninggalan bangunan kuno di Jalan Kramat Gantung. Foto: Baehaqi

Sedangkan versi lainnya berkaitan dengan Keraton Surabaya. Kota Pahlawan pernah memiliki keraton, pusat pemerintahan Kadipaten Surabaya. Letaknya diyakini berada di Jalan Kramat Gantung. Di sana terdapat Kampung Kraton dan Kampung Kepatihan.

Beberapa catatan sejarah menyebutkan, Kadipaten Surabaya sudah ada sejak masa akhir Kerajaan Majapahit. Namun ketika masa Kerajaan Demak, Kadipaten Surabaya menyatakan diri sebagai daerah otonom, berdiri sendiri.

Baru sekitar tahun 1625, Kasultanan Mataram berhasil menaklukkannya. Dan tahun 1743 Surabaya beralih ke tangan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), sebuah kongsi dagang asal Belanda.

BACA JUGA: Maspati, Kampung Ramah Anak di Surabaya

"Versi kedua ini, cerita Jalan Kramat Gantung ada kaitkannya dengan sejarah Keraton Surabaya," ungkap Chrisyandi.

Dikisahkan saat itu pemimpin Kadipaten Surabaya bernama Adipati Ario Jayeng Kusumo menentang Belanda dan terjadi pertempuran sengit. Pertarungan tersebut dimenangkan Belanda, dan Adipati Ario Jayeng Kusumo tertangkap.

Belanda kemudian menghukumnya dengan cara digantung di pohon beringin. Tak jelas titik tepat lokasi dan angka tahun terkait peristiwa tersebut. Tempat hukuman gantung Adipati Ario Jayeng Kusumo kemudian dikeramatkan oleh rakyat Surabaya. "Sesaji diberikan tiap tahun untuk menghormati adipati," tutur Chrisyandi.

Kawasan Jalan Kramat Gantung yang kini dipadati pertokoan dan rumah penduduk. Foto: Baehaqi

Tidak ada arsip tertulis yang mereferensikan Adipati Ario Jayeng Kusumo. Namun masyarakat percaya tempat kematiannya kini bernama Kramat Gantung.

Tahun berganti, masa berlalu sekian purnama. Area keramat itu kini menjadi salah satu pusat perekonomian di Surabaya dan dijejali rumah penduduk. Jejak keraton pun lenyap, yang tersisa hanya nama Kramat Gantung.