Kenaikan Tarif Ojol Terlalu Mahal, Konsumen Pilih Kendaraan Pribadi

David Priyasidharta

Kamis, 21 Maret 2019 - 08:36

JATIMNET.COM, Jakarta - Konsumen akan mempertimbangkan untuk memilih kendaraan pribadi jika kenaikan tarif ojek online (ojol) dianggap terlalu mahal. Hasil kajian Research Institute of Socio Economic Development (RISED) menyebutkan sebesar 71 persen konsumen hanya mampu menoleransi kenaikan pengeluaran untuk ojek online (ojol) atau daring kurang dari Rp 5.000 per hari.

Pengamat Ekonomi Digital, Fitra Faisal mengatakan kenaikan yang bisa ditoleransi adalah yang membuat konsumen mengeluarkan tambahan uang kurang dari Rp 5.000 per hari.

"Ini jika melihat faktor willingness to pay dari berbagai sumber riset yang tersedia," kata Fitra dalan keterangan tertulisnya, Kamis 21 Maret 2019.

BACA JUGA: Demonstrasi Pengemudi Daring, Ini Tiga Poin yang Disepakati

Dengan jarak tempuh rata-rata konsumen sebesar 8,8 kilometer per hari, lanjut dia, kenaikan tarif yang ideal ojek online adalah maksimal Rp 600 per kilometer atau maksimal naik menjadi Rp 2.000 per kilometer.

Dan konsumen berpendapat, lebih memilih kendaraan pribadi jika kenaikan tarif ojek daring lebih mahal.

Ramadhan, salah satu konsumen ojek online mengatakan bahwa sebenarnya tarif ojek online saat ini sudah sesuai.

BACA JUGA: Ojol Minta Naikan Tarif dan Hapus Sistem Zonazi Insentif

Namun jika kenaikan tarif ojek online dirasa diperlukan untuk kesejahteraan pengemudi, ia mengaku setuju dengan wacana kenaikan tersebut. Dengan catatan, kenaikannya masih di taraf yang wajar. "Kalau saya setuju-setuju saja selama kenaikannya masih wajar," tutur Ramadhan.

Sebagai informasi, terdapat beberapa usulan terkait tarif batas bawah ojek online. Satu diantaranya dari pihak pengemudi yang mengusulkan agar tarif berada di angka Rp 3.100 per kilometer.

Menurut Ramadhan, angka tersebut masih terbilang mahal. Sebab, jika tarifnya menjadi Rp 3.100 per kilometer itu artinya untuk ke kantor yang jarak tempuhnya 8 kilometer, ia harus merogoh kocek sekitar Rp 25.000.

BACA JUGA: Maraknya Driver di-Suspend, Ojol Siapkan Tim 15

"Kalau Rp 3.100 per kilometer masih terlalu mahal, kalau menurut saya yang ideal Rp 2.000 per kilometer. Jadi kira-kira paling cuma bayar Rp 16.000 buat sampai di kantor," katanya.

Hal senada disampaikan Febry. Ia mengaku akan berhenti menggunakan ojek online dan lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi, jika kenaikan harga tarif ojol di batas wajar.

Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan (Kemenhub) berencana meningkatkan tarif batas bawah ojol. Sampai saat ini, aturan yang akan tertuang dalam Keputusan Menteri (Kepmen) Perhubungan itu masih digodok lantaran menuai berbagai reaksi dari konsumen. (ant)

Baca Juga

loading...