JATIMNET.COM, Surabaya - Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jatim masih memburu aset yang dimiliki Achmad Nur Chasan dan Bugi Sukswantoro yang telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus korupsi Rp 6,7 miliar di PT Penjaminan Kredit Daerah (Jamkrida) Jatim.

Kajati Jatim, Sunarta mengatakan kedua tersangka yang sudah ditahan itu diduga kuat telah menggunakan aset perusahaan pelat merah ini. “Kami akan telusuri, mana aset yang itu hasil korupsi dan mana yang tidak,” katanya Sabtu, 12 Januari 2019.

Dalam pemburuan asetnya, Kejati Jatim sudah membentuk tim yang secara khusus mendata dan menginventarisir harta benda kedua tersangka.

BACA JUGA: Dua Petinggi Jamkrida Jatim Ditetapkan Tersangka

Penelusuran aset yang dilakukan oleh Kejati Jatim untuk mengantisipasi putusan pengadilan terkait adanya uang pengganti dari terpidana korupsi. "Jadi kami sudah lebih dulu mencatat mana saja aset yang dimiliki tersangka dari hasil korupsi," jelas Sunarta.

Aset yang dimiliki kedua tersangka itu nantinya untuk mengembalikan kerugian negara. "Semuanya kami telusuri, baik itu aset berupa uang maupun bangunan," jelasnya.

Sebelumnya, penyidik Pidana Khusus (Pidsus) Kejati Jatim menetapkan dua tersangka kasus dugaan korupsi di PT Jamkrida Jatim. Kedua tersangka ini adalah mantan Direktur Utama (Dirut) PT Jamkrida Jatim, Achmad Nur Chasan dan Mantan Direktur Keuangan PT Jamkrida Jatim, Bugi Sukswantoro. Para tersangka dijebloskan di Cabang Rumah Tahanan (Rutan) Negara Kelas I Surabaya di Kejati Jatim.

BACA JUGA: Kasus Dugaan Korupsi PT Jamkrida Jatim Masuki Babak Baru

Dalam dakwaan jaksa, kedua tersangka dijerat pasal 2 ayat (1) Jo Pasal 18 UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 tahun 2001 tentang Perubahan UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 55 ayat (1) KUHP.

Seperti diberitakan sebelumnya, Achmad Nur Chasan selaku Dirut PT Jamkrida Jatim dalam rentang waktu 2015 hingga 2017 pernah melakukan kas bon/memo permintaan kas sementara untuk kepentingan pribadi sebanyak 46 kali. Rinciannya, tahun 2015 terdapat lima kali sebesar Rp395 juta.

Tahun 2016 sebanyak 20 kali transaksi sebesar Rp 1,9 miliar, sedangkan tahun 2017 terdapat 21 kali transaksi sebesar Rp 3,6 miliar. Tahun 2018 terdapat dua kali transaksi sebesar Rp 212 juta, dengan total sebesar Rp 6,7 miliar. Permintaan kas bon Nur Chasan ini disetujui Bugi. Sempat diperiksa oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dalam penyelidikannya kemudian ditemukan adanya kerugian negara.