Logo

Kebiasaan Konsumtif yang Sulit Dilepaskan Generasi Digital

Kemudahan membeli sering membuat seseorang lupa mempertimbangkan apakah sebuah barang benar-benar dibutuhkan.
Reporter:,Editor:

Sabtu, 13 June 2026 11:30 UTC

Kebiasaan Konsumtif yang Sulit Dilepaskan Generasi Digital

Ilustrasi: Belanja dengan sadar. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Kebiasaan konsumtif menjadi salah satu fenomena yang semakin dekat dengan kehidupan generasi digital. Berbagai kebutuhan kini dapat dipenuhi hanya melalui beberapa sentuhan di layar. Belanja tidak lagi membutuhkan perjalanan ke pusat perbelanjaan atau waktu khusus di akhir pekan.

 

Perubahan tersebut membawa banyak manfaat. Masyarakat dapat menghemat waktu, membandingkan harga dengan cepat, dan memperoleh akses terhadap produk yang sebelumnya sulit ditemukan.

 

Namun di balik kemudahan itu, muncul tantangan baru. Semakin mudah proses pembelian, semakin besar pula potensi seseorang melakukan konsumsi yang tidak direncanakan.

 

Fenomena inilah yang membuat topik gaya hidup minimalis semakin sering dibicarakan, terutama oleh anak muda yang mulai mencari keseimbangan antara kebutuhan dan keinginan.

 

 

Teknologi Membuat Proses Belanja Semakin Instan

 

Dalam satu dekade terakhir, perkembangan ekonomi digital Indonesia berlangsung sangat cepat. Data dari laporan e-Conomy SEA 2024 yang disusun Google, Temasek, dan Bain & Company menunjukkan nilai ekonomi digital Indonesia mencapai sekitar 90 miliar dolar AS pada 2024, terbesar di Asia Tenggara.

 

Pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat semakin terbiasa melakukan berbagai aktivitas secara digital, termasuk berbelanja.

 

Promo harian, diskon kilat, gratis ongkir, hingga notifikasi personal membuat proses pembelian berlangsung hampir tanpa hambatan.

Akibatnya, keputusan membeli sering dilakukan dalam hitungan menit tanpa evaluasi yang cukup mengenai kebutuhan sebenarnya.

 

 

Efek Psikologis di Balik Pembelian Impulsif

 

Banyak orang mengira konsumsi berlebihan hanya berkaitan dengan kondisi finansial. Padahal ada faktor psikologis yang cukup kuat di baliknya.

 

Ketika seseorang memperoleh barang baru, otak menghasilkan respons yang memunculkan rasa senang dan kepuasan sementara. Sensasi inilah yang membuat aktivitas belanja terasa menyenangkan.

 

Masalahnya, efek tersebut biasanya tidak bertahan lama. Setelah beberapa waktu, muncul keinginan untuk mendapatkan pengalaman serupa melalui pembelian berikutnya.

 

Karena itu, tidak sedikit orang yang akhirnya memiliki banyak barang tetapi jarang benar-benar menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari.

 

Di era media sosial, tekanan tersebut semakin besar karena masyarakat terus melihat gaya hidup, produk, dan tren yang ditampilkan oleh orang lain.

 

 

Media Sosial Mengubah Cara Memandang Kebutuhan

 

Sebelum era digital, seseorang umumnya mengetahui tren dari lingkungan terdekat atau media massa. Kini, rekomendasi produk muncul hampir setiap saat melalui video pendek, konten kreator, hingga iklan yang disesuaikan dengan minat pengguna.

 

Laporan DataReportal Digital 2025 Indonesia menunjukkan jumlah pengguna media sosial di Indonesia mencapai lebih dari 143 juta akun aktif. Angka tersebut menggambarkan besarnya paparan masyarakat terhadap berbagai bentuk promosi dan tren konsumsi setiap hari.

 

Paparan yang terus-menerus membuat batas antara kebutuhan dan keinginan menjadi semakin tipis. Barang yang sebelumnya tidak terpikirkan untuk dibeli dapat berubah menjadi sesuatu yang terasa penting hanya karena sering muncul di lini masa.

 

 

Dampaknya Terhadap Keuangan Anak Muda

 

Kebiasaan konsumtif sering kali tidak langsung terasa berbahaya karena pengeluarannya berlangsung dalam nominal kecil. Namun ketika pembelian impulsif terjadi berulang kali, total pengeluaran bulanan dapat meningkat tanpa disadari.

 

Bagi mahasiswa, pekerja muda, maupun penghuni kos, kondisi ini berpotensi mengganggu tujuan keuangan jangka panjang seperti membangun dana darurat, investasi, atau menyiapkan biaya pendidikan lanjutan.

 

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan tingkat literasi keuangan nasional mencapai 65,43 persen pada Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2025.

 

Meski meningkat dibanding beberapa tahun sebelumnya, angka tersebut menunjukkan masih ada sebagian masyarakat yang perlu memperkuat kemampuan mengelola keuangan secara bijak.

 

Kesadaran finansial menjadi semakin penting ketika pilihan konsumsi tersedia dalam jumlah yang hampir tidak terbatas.

 

 

Mengubah Pola Konsumsi Tanpa Harus Menolak Kenyamanan

 

Mengurangi kebiasaan konsumtif bukan berarti menolak teknologi atau berhenti menikmati hasil kerja keras. Yang lebih penting adalah membangun kesadaran sebelum mengambil keputusan membeli.

 

Banyak praktisi keuangan menyarankan metode sederhana seperti membuat daftar kebutuhan, menetapkan anggaran belanja bulanan, atau memberi jeda 24 hingga 72 jam sebelum membeli barang yang tidak mendesak.

 

Langkah kecil tersebut membantu seseorang menilai apakah sebuah produk benar-benar diperlukan atau hanya menarik karena faktor promosi dan tren sesaat.

 

Pada akhirnya, tantangan terbesar generasi digital bukanlah kurangnya akses terhadap barang, melainkan kemampuan memilih dengan bijak di tengah pilihan yang hampir tidak terbatas.

 

Dengan memahami pola konsumsi sendiri, seseorang dapat menikmati kemudahan teknologi tanpa terjebak dalam kebiasaan konsumtif yang merugikan dalam jangka panjang.