Kamis, 10 September 2026 08:30 UTC

Ilustrasi: Pilih Jam Lebih Teduh. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Aktivitas luar saat cuaca panas membutuhkan pengaturan waktu yang lebih cermat. Jalan kaki, olahraga, berkendara, bekerja di lapangan, hingga sekadar menyelesaikan urusan harian dapat terasa berbeda ketika suhu dan paparan matahari meningkat.
Kondisi tersebut relevan pada September 2026. BMKG mencatat suhu maksimum tertinggi pada Dasarian III Agustus mencapai 37,9 derajat Celsius di Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat. Pada 31 Agustus hingga 2 September, suhu lebih dari 37 derajat Celsius juga terpantau di beberapa wilayah Indonesia.
BMKG turut memprakirakan awal September masih didominasi kondisi panas dan kering di sejumlah daerah. Masyarakat pun perlu menyesuaikan aktivitas, terutama ketika harus berada cukup lama di luar ruangan.
Mengatur waktu bukan berarti takut terhadap matahari. Tujuannya sederhana, yaitu mengurangi beban panas tubuh dan paparan ultraviolet ketika kondisinya sedang tinggi.
Tengah Hari Membutuhkan Perhatian Lebih
Intensitas sinar ultraviolet berubah sepanjang hari. Posisi matahari, tutupan awan, ketinggian wilayah, serta kondisi atmosfer ikut menentukan tingkat paparannya.
WHO menjelaskan radiasi ultraviolet matahari paling kuat selama sekitar empat jam di sekitar tengah hari. Dalam panduan perlindungan UV, rentang pukul 10.00 hingga 16.00 menjadi periode yang perlu mendapatkan perhatian lebih.
Hal ini tidak berarti setiap orang harus berada di dalam ruangan selama enam jam tersebut. Namun, aktivitas yang fleksibel dapat dipindahkan ke pagi atau menjelang sore.
Misalnya, olahraga ringan bisa dilakukan sebelum rutinitas kerja dimulai. Belanja kebutuhan rumah dapat dimajukan ke pagi, sementara jalan santai dapat menunggu ketika matahari mulai lebih rendah.
Kebiasaan sederhana tersebut juga membantu mengurangi paparan panas kumulatif. Tubuh tidak perlu menghadapi kondisi terik pada saat intensitas matahari sedang tinggi.
Indeks UV Lebih Berguna daripada Sekadar Melihat Langit
Langit berawan terkadang membuat orang merasa aman berada di luar lebih lama. Padahal, keberadaan awan tidak otomatis membuat paparan ultraviolet menjadi rendah.
Karena itu, indeks ultraviolet atau UV Index dapat menjadi informasi tambahan sebelum merencanakan aktivitas luar saat cuaca panas.
Skala UV Index yang digunakan secara internasional dimulai dari 1 dan dapat mencapai 11 atau lebih. Nilai 1–2 dikategorikan rendah, 3–5 sedang, 6–7 tinggi, 8–10 sangat tinggi, sedangkan 11 ke atas termasuk ekstrem.
WHO merekomendasikan perlindungan terhadap matahari ketika UV Index mencapai angka 3 atau lebih. Perlindungan tersebut dapat berupa mencari tempat teduh, mengenakan pakaian pelindung, memakai topi, serta menggunakan tabir surya pada bagian kulit yang terbuka.
Informasi indeks UV juga tersedia dalam prakiraan harian BMKG. Kebiasaan mengeceknya sebelum keluar rumah bisa sama praktisnya dengan melihat prakiraan hujan.
Pendekatan ini membuat keputusan aktivitas lebih berbasis kondisi nyata. Hari yang tampak sedikit mendung belum tentu memiliki indeks UV yang rendah.
Panas Tidak Hanya Datang dari Suhu Udara
Angka suhu pada aplikasi cuaca bukan satu-satunya faktor yang menentukan seberapa berat panas dirasakan tubuh.
Kelembapan udara, angin, radiasi matahari, pakaian, serta tingkat aktivitas fisik ikut memengaruhi beban panas. Orang yang berjalan cepat membawa barang tentu menghasilkan panas metabolik lebih banyak dibanding orang yang duduk di tempat teduh.
WHO menjelaskan heat stress dipengaruhi kombinasi panas lingkungan, aktivitas fisik, dan pakaian. Ketika tubuh kesulitan melepaskan panas, risiko gangguan kesehatan dapat meningkat.
Pekerja luar ruangan menjadi kelompok yang perlu memberikan perhatian khusus. NIOSH merekomendasikan jadwal kerja dan istirahat yang disesuaikan dengan kondisi panas, terutama untuk pekerjaan berat.
Lembaga tersebut juga menyarankan pekerjaan berat dijadwalkan pada bagian hari yang lebih sejuk bila memungkinkan. Pekerja baru atau mereka yang belum terbiasa dengan panas memerlukan proses aklimatisasi secara bertahap.
NIOSH menggunakan skema aklimatisasi hingga 7–14 hari bagi pekerja untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungan panas. Untuk pekerja baru, paparan pada hari pertama disarankan sekitar 20 persen dari durasi kerja dalam panas, kemudian ditambah tidak lebih dari 20 persen setiap hari.
Angka tersebut menunjukkan tubuh membutuhkan waktu untuk beradaptasi. Memaksakan aktivitas berat mendadak saat hari terik bukan pilihan yang bijak.
Cari Teduh dan Beri Tubuh Waktu Pulih
Memindahkan jadwal tidak selalu memungkinkan. Pengemudi, kurir, pedagang, petugas lapangan, hingga pekerja konstruksi sering tetap harus beraktivitas saat matahari sedang tinggi.
Dalam situasi tersebut, tempat teduh dan jeda menjadi semakin penting.
WHO menyebut berada di tempat teduh dapat membuat panas yang dirasakan lebih rendah lebih dari 10 derajat Celsius dalam kondisi tertentu. Perbedaannya cukup besar untuk menjadikan pohon, kanopi, halte, atau ruangan sejuk sebagai tempat istirahat sementara.
Bagi orang yang berolahraga, intensitas juga perlu disesuaikan. CDC menyarankan aktivitas luar dijadwalkan ketika kondisi lebih sejuk, seperti pagi atau malam, serta meningkatkan intensitas secara bertahap.
Jangan lupa cairan. NIOSH menyarankan pekerja dengan aktivitas sedang dalam kondisi panas kurang dari dua jam mengonsumsi sekitar 8 ons atau 237 mililiter air setiap 15–20 menit.
Jeda tidak harus menunggu tubuh benar-benar kelelahan. Berhenti beberapa menit di tempat teduh, minum, dan menurunkan intensitas aktivitas dapat menjadi bagian normal dari rutinitas.
Sinyal Tubuh Lebih Penting daripada Jadwal
Jam terbaik untuk beraktivitas bukan aturan mutlak. Kondisi cuaca dapat berubah, sementara toleransi panas setiap orang juga berbeda.
Karena itu, jadwal tetap harus disertai kemampuan mengenali sinyal tubuh.
CDC mencatat sakit kepala, mual, pusing, lemas, haus, berkeringat banyak, serta peningkatan suhu tubuh dapat muncul pada heat exhaustion. Gejala tersebut tidak seharusnya dianggap sekadar rasa capek biasa.
Heat stroke jauh lebih serius. CDC menyebut kebingungan, perubahan kesadaran, kejang, serta suhu tubuh yang sangat tinggi sebagai tanda kondisi darurat yang membutuhkan pertolongan segera.
WHO memperkirakan sekitar 489.000 kematian terkait panas terjadi setiap tahun berdasarkan data periode 2000–2019. Sekitar 45 persen dari jumlah tersebut terjadi di Asia.
Angka itu menjadi pengingat bahwa panas bukan hanya persoalan kenyamanan. Meski kebanyakan aktivitas harian dapat berjalan normal, pencegahan tetap penting ketika paparan berlangsung lama.
Mengatur aktivitas luar saat cuaca panas pada akhirnya tidak membutuhkan perubahan besar. Memajukan jadwal, mengecek UV Index, memilih tempat teduh, menjaga cairan, dan memberikan waktu istirahat sudah menjadi langkah berarti.
Rutinitas tetap bisa berjalan tanpa harus menantang teriknya hari. Kadang, keputusan paling sederhana adalah memilih waktu yang lebih bersahabat bagi tubuh.
