Kamis, 10 September 2026 11:00 UTC

Ilustrasi: Jeda dari Terik. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Kelelahan akibat panas dapat muncul ketika tubuh kesulitan mengimbangi panas yang diterima dan dihasilkan selama beraktivitas. Kondisi ini bukan sekadar rasa gerah atau lelah setelah berada di luar rumah.
Perhatian terhadap panas tetap relevan pada September 2026. BMKG menyebut awal September masih berlangsung dengan kondisi panas dan kering di sejumlah wilayah Indonesia. Pada pemantauan 2 September, bahkan ditemukan 463 titik panas berkepercayaan tinggi di Kalimantan dan 264 titik di Sumatra.
Panas juga merupakan persoalan kesehatan publik. WHO memperkirakan sekitar 489.000 kematian terkait panas terjadi setiap tahun berdasarkan studi periode 2000–2019. Sekitar 45 persen di antaranya terjadi di Asia.
Angka tersebut bukan alasan untuk takut beraktivitas. Namun, mengenali tanda tubuh kelelahan akibat panas dapat membantu seseorang menentukan kapan waktunya berhenti dan memulihkan diri.
Kelelahan Akibat Panas Bukan Capek Biasa
Tubuh memiliki sistem alami untuk mempertahankan suhu internal. Salah satunya melalui keringat yang kemudian menguap dari permukaan kulit.
Masalah dapat muncul ketika tubuh menerima panas lebih cepat daripada kemampuannya melepaskan panas. Aktivitas fisik yang berat ikut meningkatkan produksi panas dari dalam tubuh.
WHO menjelaskan heat stress merupakan penyebab utama kematian terkait cuaca. Panas juga dapat memperburuk penyakit kardiovaskular, diabetes, asma, serta sejumlah kondisi kesehatan lainnya.
Kondisi yang perlu dikenali salah satunya adalah heat exhaustion atau kelelahan akibat panas. NIOSH menjelaskan kondisi tersebut berkaitan dengan kehilangan air dan garam secara berlebihan, biasanya melalui keringat.
Gejalanya dapat berupa keringat berlebihan, tubuh sangat lemah, pusing, mual, muntah, mudah tersinggung, napas cepat dan dangkal, hingga peningkatan suhu tubuh.
Karena gejalanya cukup umum, seseorang bisa saja menganggapnya sebagai kelelahan biasa. Padahal, tubuh mungkin sedang membutuhkan pendinginan dan cairan.
Pusing dan Lemas Menjadi Sinyal untuk Berhenti
Keinginan menyelesaikan pekerjaan terkadang membuat orang mengabaikan perubahan kecil pada tubuh. Pola seperti ini perlu dihindari saat bekerja atau bergerak di lingkungan panas.
CDC menyarankan orang yang mulai merasa lemas atau seperti akan pingsan ketika bekerja di luar segera menghentikan aktivitas dan berpindah ke tempat yang sejuk.
Langkah sederhana ini penting karena paparan panas tidak hanya dialami pekerja lapangan. Pengendara motor, pedagang, orang yang berolahraga, hingga mereka yang berjalan kaki cukup jauh dapat mengalaminya.
Risiko juga dipengaruhi durasi aktivitas, kelembapan, paparan matahari, jenis pakaian, intensitas pekerjaan, dan kemampuan tubuh beradaptasi dengan panas.
WHO mencatat kelompok berusia di atas 65 tahun menghadapi risiko yang perlu diperhatikan. Secara global, kematian terkait panas pada kelompok usia tersebut meningkat sekitar 85 persen antara periode 2000–2004 dan 2017–2021.
Artinya, perhatian terhadap orang tua dan anggota keluarga yang lebih rentan menjadi penting ketika hari terasa sangat panas.
Istirahat di Tempat Sejuk Membantu Tubuh Pulih
Ketika tanda kelelahan akibat panas mulai muncul, memaksakan diri bukan pilihan yang tepat. Tubuh membutuhkan kesempatan untuk menurunkan beban panasnya.
NIOSH menyarankan orang dengan gejala heat exhaustion beristirahat di area sejuk, mengonsumsi air atau minuman dingin, serta mendinginkan tubuh dengan mandi atau membasuh tubuh menggunakan air sejuk.
Pencegahan bahkan dapat dimulai sebelum tubuh terasa lelah. CDC menyarankan pekerja luar ruangan menggunakan pakaian longgar, ringan, dan berwarna terang, serta mengambil waktu istirahat untuk mendinginkan tubuh dan minum.
Untuk aktivitas sedang dalam kondisi panas, NIOSH memberikan gambaran yang cukup konkret. Pekerja dianjurkan minum sekitar satu cangkir air setiap 15–20 menit sebelum rasa haus muncul.
Jadwal aktivitas juga dapat diubah. Pekerjaan yang fleksibel sebaiknya dilakukan lebih pagi atau lebih sore agar paparan panas tengah hari dapat dikurangi.
BMKG pada awal September turut mengimbau masyarakat menjaga kecukupan cairan, terutama bagi mereka yang beraktivitas di luar pada siang hari. Penggunaan pelindung dari paparan matahari juga dianjurkan.
Heat Stroke Membutuhkan Pertolongan Segera
Kelelahan akibat panas perlu dibedakan dari heat stroke. Kondisi terakhir jauh lebih serius karena kemampuan tubuh mengendalikan suhu dapat terganggu.
WHO menyebut heat stroke sebagai keadaan darurat medis dengan tingkat fatalitas kasus yang tinggi. Kondisi ini membutuhkan penanganan segera, bukan sekadar beristirahat dan melanjutkan aktivitas beberapa menit kemudian.
Karena itu, perubahan kesadaran pada seseorang yang kepanasan harus dipandang serius. Kebingungan, kehilangan kesadaran, atau kondisi tubuh yang memburuk cepat membutuhkan pertolongan medis.
Orang di sekitar juga memiliki peran penting. Rekan kerja atau keluarga sering kali lebih cepat menyadari ketika seseorang mulai kehilangan koordinasi atau berperilaku tidak seperti biasanya.
NIOSH bahkan menganjurkan sistem rekan atau buddy system bagi pekerja yang menghadapi panas. Rekan kerja dapat saling memastikan ketersediaan air, penggunaan tempat teduh, serta munculnya gejala gangguan akibat panas.
Prinsip tersebut sebenarnya mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Ketika bepergian bersama, tidak ada salahnya saling mengingatkan untuk berhenti apabila seseorang mulai terlihat pucat, lemas, atau tidak fokus.
Kelelahan akibat panas tidak harus menunggu suhu mencapai angka ekstrem. Kombinasi matahari, aktivitas fisik, kelembapan, pakaian, dan lamanya paparan dapat membuat beban panas berbeda pada setiap orang.
Karena itu, mengenali tanda tubuh kelelahan akibat panas sama pentingnya dengan membawa air minum atau mencari tempat teduh. Pusing, lemas, mual, dan keringat berlebihan adalah sinyal yang layak diperhatikan.
Aktivitas selalu bisa dilanjutkan setelah kondisi membaik. Kesehatan tubuh justru lebih terjaga ketika kita tahu kapan harus bergerak dan kapan harus berhenti sejenak.
