Jumat, 04 September 2026 11:25 UTC

Area kebakaran hutan di kawasan Gunung Ijen yang terus meluas. Foto: BBKSDA
JATIMNET.COM, Banyuwangi – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan Pegunungan Ijen, Banyuwangi, semakin meluas. Api yang sebelumnya membakar kawasan Gunung Merapi Ungup-ungup kini merambat hingga memasuki wilayah Taman Wisata Alam (TWA) Kawah Ijen.
Kondisi tersebut membuat Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur mengambil langkah tegas dengan menutup sementara TWA Kawah Ijen dari seluruh aktivitas kunjungan wisatawan maupun pendakian dan penambangan belerang.
Kepala BBKSDA Jawa Timur, Nur Patria Kurniawan, mengatakan keputusan itu diambil untuk mengutamakan keselamatan wisatawan dan para penambang belerang. Terlebih, titik api kini mendekati Pondok Bunder yang menjadi salah satu lokasi vital di kawasan tersebut.
"Kami lebih mementingkan keselamatan para wisatawan dan penambang blerang sehingga Kawah Ijen kami tutup total dari aktifitas pendakian maupun penambangan blerang," ujar Nur Patria, Jumat, 4 September 2026.
Nur Patria menjelaskan, Pondok Bunder berfungsi sebagai pos pemantauan sekaligus titik penimbangan belerang terakhir bagi para penambang. Lokasi tersebut berada sekitar tiga kilometer dari pintu masuk Pos Paltuding.
"Hari ini api tambah membesar dan dekat, sudah masuk ke TWA dekat Pondok Bunder," tambahnya.
BACA: Karst Ijen Jalani Revalidasi UNESCO Global Geopark
Ia meminta masyarakat mematuhi keputusan penutupan yang dikeluarkan BBKSDA Jawa Timur bersama para pemangku kepentingan. Menurutnya, kondisi karhutla di kawasan Gunung Ijen masih terus berkembang sehingga aktivitas di area tersebut berisiko membahayakan keselamatan.
"Penutupan ini berlaku untuk semuanya baik wisatawan maupun penambang blerang. Mohon untuk dipatuhi karena cukup berbahaya," tegasnya.
Tim gabungan juga berupaya mengendalikan kebakaran setelah menggelar aksi bersih-bersih Ijen Rijig. Upaya pemadaman darurat melibatkan komunitas pencinta alam, pelaku usaha wisata, dan masyarakat setempat.
Namun, kondisi cuaca di kawasan puncak Gunung Ijen menjadi kendala. Hembusan angin kencang membuat kobaran api sulit dikendalikan menggunakan peralatan pemadaman yang tersedia.
"Cuaca ekstrem dan hembusan angin kencang di puncak gunung membuat kobaran api sulit dijinakkan dengan peralatan seadanya, sehingga pergerakan tim di lapangan terpaksa dibatasi," tambah Nur Patria.
Hingga Jumat, 4 September 2026, otoritas belum dapat memastikan kapan seluruh titik api dapat dipadamkan. Jika kebakaran terus meluas dan upaya pemadaman melalui jalur darat tidak lagi efektif, BBKSDA Jawa Timur mempertimbangkan meminta bantuan pemadaman dari BPBD Provinsi Jawa Timur melalui udara.
"Jika api semakin meluas dan sulit untuk dilakukan pemadaman melalui medan darat, tidak menutup kemungkinan kami akan minta bantuan ke BPBD Provinsi Jawa Timur untuk dilakukan pemadaman via udara atau water bombing," paparnya.
Nur Patria menegaskan keselamatan personel dan masyarakat tetap menjadi prioritas di tengah meningkatnya potensi bahaya akibat karhutla. Ia juga mengimbau masyarakat sekitar ikut mencegah penyebaran api.
Sementara itu, wisatawan diminta menunda kunjungan ke kawasan TWA Kawah Ijen sampai otoritas memastikan kondisi kawasan benar-benar aman.
