Kamis, 10 September 2026 00:00 UTC

Ilustrasi: Nyaman di Hari Panas. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Cuaca panas membuat pilihan pakaian terasa lebih penting dari biasanya. Bukan hanya soal penampilan, bahan pakaian juga memengaruhi kemampuan tubuh melepas panas ketika beraktivitas.
Memasuki September 2026, perhatian ini cukup relevan. BMKG mencatat suhu maksimum tertinggi pada Dasarian III Agustus mencapai 37,9 derajat Celsius di Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat. Pada 31 Agustus hingga 2 September, suhu di atas 37 derajat Celsius juga teramati di beberapa wilayah Indonesia.
BMKG turut memprakirakan curah hujan September di bawah 50 milimeter per bulan berpeluang tinggi terjadi di Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, serta sejumlah wilayah lainnya. Kondisi kering membuat pakaian yang nyaman untuk cuaca panas layak menjadi bagian dari persiapan aktivitas harian.
Bahan Pakaian Ikut Menentukan Kenyamanan
Tubuh manusia menghasilkan panas dari proses metabolisme. Ketika lingkungan ikut panas, tubuh harus bekerja lebih keras untuk mempertahankan suhu internal yang aman.
Keringat menjadi salah satu mekanisme pendinginan alami. Karena itu, pakaian yang terlalu tebal, ketat, atau menghambat pelepasan panas dapat membuat tubuh terasa semakin gerah.
World Health Organization atau WHO menjelaskan bahwa panas yang tersimpan dalam tubuh dipengaruhi beberapa faktor. Selain kondisi lingkungan dan panas metabolik, pakaian yang menghambat pelepasan panas turut berperan.
National Institute for Occupational Safety and Health atau NIOSH juga memasukkan pakaian dan alat pelindung sebagai komponen yang dapat menambah beban panas tubuh. Prinsip tersebut terutama penting bagi pekerja yang banyak bergerak di lingkungan panas.
Itulah alasan pakaian longgar sering terasa lebih nyaman dibanding pakaian yang menempel rapat. Ruang di antara kulit dan pakaian membantu tubuh menghadapi panas dengan lebih nyaman.
Katun dan Linen Bisa Menjadi Pilihan
Tidak ada satu bahan yang otomatis cocok untuk semua orang dan semua aktivitas. Namun, bahan ringan dan memiliki sirkulasi udara baik menjadi pilihan praktis saat suhu meningkat.
CDC merekomendasikan pakaian yang longgar, ringan, dan berwarna terang bagi orang yang harus bekerja atau beraktivitas di luar ketika cuaca panas. Rekomendasi serupa juga diberikan WHO, terutama mengenai pakaian ringan dan longgar.
Katun menjadi bahan yang familiar karena nyaman untuk penggunaan sehari-hari. Linen juga menarik karena relatif ringan dan banyak digunakan pada pakaian berpotongan longgar.
Cancer Council Australia mencatat linen, katun, dan hemp yang ringan serta ditenun rapat dapat membantu tubuh terasa lebih sejuk dibanding sejumlah serat sintetis. Struktur kain tetap penting karena menentukan perlindungan terhadap radiasi ultraviolet.
Untuk kegiatan dengan intensitas tinggi, kebutuhan bisa berbeda. Pakaian olahraga yang dirancang mengelola kelembapan dapat lebih praktis dibanding kaus katun yang menjadi berat setelah menyerap banyak keringat.
Jadi, jangan menilai bahan hanya dari namanya. Ketebalan kain, konstruksi, potongan, dan jenis aktivitas tetap perlu dipertimbangkan bersama.
Nyaman dan Terlindungi Perlu Diseimbangkan
Ada dilema kecil ketika memilih pakaian untuk cuaca panas. Semakin terbuka pakaian, kulit memang terasa bebas, tetapi paparan sinar matahari menjadi lebih besar.
Pakaian dapat menjadi salah satu penghalang fisik terhadap ultraviolet. Namun, kemampuan perlindungannya berbeda menurut struktur kain, warna, kondisi kain, serta seberapa banyak bagian tubuh yang tertutup.
Pada pakaian berlabel UPF, angkanya memberikan gambaran lebih terukur. Standar Australia mencatat UPF 15 memblokir sekitar 93,35 persen radiasi UV, UPF 30 sekitar 96,7 persen, sedangkan UPF 50 mencapai sekitar 98 persen.
Artinya, pakaian lengan panjang tidak selalu identik dengan pakaian panas. Kemeja tipis dan longgar bisa menjadi kompromi ketika seseorang harus berada di luar cukup lama.
Pilih potongan yang memberi ruang gerak, terutama pada bahu, dada, dan lengan. Saat kain tidak terlalu menempel, sirkulasi udara terasa lebih leluasa.
Pakaian Bukan Satu-satunya Perlindungan
Mengganti bahan pakaian saja tidak cukup untuk menghadapi hari yang sangat panas. Tubuh tetap membutuhkan cairan dan kesempatan untuk berada di tempat lebih sejuk.
WHO menyarankan minum air secara teratur, sekitar satu cangkir setiap jam dengan total setidaknya 2–3 liter sehari dalam panduan menghadapi cuaca panas. Kebutuhan setiap orang tentu dapat berbeda menurut aktivitas dan kondisi kesehatannya.
WHO juga menyebut berada di tempat teduh dapat mengurangi panas yang dirasakan lebih dari 10 derajat Celsius dalam kondisi tertentu. Ini menunjukkan kenyamanan saat cuaca panas merupakan gabungan pakaian, hidrasi, aktivitas, dan lingkungan.
BMKG sendiri mengimbau masyarakat menjaga kecukupan cairan dan menggunakan pelindung dari paparan matahari ketika beraktivitas di luar pada masa kemarau. Imbauan itu menjadi relevan ketika kondisi panas dan kering masih berlangsung pada awal September.
Jika mulai merasa lemas, pusing, mual, haus berlebihan, atau berkeringat sangat banyak, jangan sekadar menyalahkan pakaian. OSHA memasukkan sejumlah gejala tersebut sebagai tanda yang dapat muncul pada heat exhaustion atau kelelahan akibat panas.
Pada akhirnya, bahan pakaian nyaman untuk cuaca panas tidak harus mahal atau mengikuti tren tertentu. Prioritaskan kain ringan, potongan tidak terlalu ketat, perlindungan kulit yang memadai, serta kesesuaian dengan aktivitas.
Pakaian mungkin terlihat sebagai keputusan kecil sebelum keluar rumah. Namun, pada hari yang terik, keputusan sederhana itu dapat membuat perjalanan, pekerjaan, dan aktivitas harian terasa jauh lebih nyaman.
