JATIMNET.COM, Surabaya - Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur Suban Wahyudiono menyebut penyebab banjir di Madiun dan sekitarnya disebabkan curah hujan yang tinggi dan dalam waktu lama.

"Hulu daerah seperti Wonogiri, Pacitan, Ponorogo dan Solo mengalami curah hujan tinggi, sebesar 150 milimeter per hari dan lama. Jadi yang paling berdampak memang daerah Madiun," ujar Suban saat dikonfirmasi melalui ponselnya, Jumat 8 Maret 2019.

BACA JUGA: Rendam 48 Desa, Bojonegoro Waspadai Bengawan Solo Meluap Lagi

Meskipun Madiun curah hujan tidak terlalu tinggi, namun air Sungai Bengawan Madiun tidak bisa masuk ke Bengawan Solo. Begitu juga dengan Sungai Jeroan, tak dapat keluar ke Bengawan Madiun. "Walaupun Madiun curah hujannya rendah, tapi di hulu curah hujannya tinggi sama saja. Teorinya seperti itu," urainya.

Suban melihat selain karena curah hujan tinggi, hasil navigasi di beberapa daerah ditemukan perlunya sudetan akibat berkurangnya resapan air. Seperti di Bojonegoro, menurutnya yang ditakutkan masyarakat adalah bukit perbatasan Bojonegoro Selatan dengan Nganjuk. Di Kecamatan Temayang dahulu ada bukit lebat hutan, kini sudah gundul.

BACA JUGA: Banjir Madiun Rendam 497 Hektare Lahan Pertanian

Akibatnya setiap tahun terjadi banjir bandang. Artinya diperlukan sudetan untuk antisipasi banjir bandang. "Gubernur sudah membuat surat rekomendasi untuk memakai lahan Perhutani dibuat sudetan ke waduk pacal, sehingga kalau terjadi banjir tidak sampai kena pemukiman," urainya.

Mitigasi non struktural untuk reboisasi, menurut Suban perlu dilakukan lebih luas lagi. Hasil kajian sejumlah pakar tentang kebencanaan juga menyebutkan hutan di daerah Batu dan Malang perlu segera direboisasi. Banyak pohon yang ditebang menyebabkan berkurangnya resapan air.

BACA JUGA: Jatim Darurat Banjir, ACT-MRI Buka Posko dan Lakukan Pendataan

Terpisah, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengatakan, masalah banjir perlahan sudah mulai ditangani. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) telah turun untuk melakukan penyelesaian baik jangka pendek maupun panjang.

"Di hulunya ada titik-titik sungai dari mulai Bengawan Solo ke Kali Jeroan itu ada tanggul-tanggul yang jebol. Saya meminta yang jebol di sini apa yang bisa dilakukan, dalam jangka pendek 3 jam berikutnya datang alat berat mereka untuk membetulkan," kata Khofifah usai rapat di DPRD Jawa Timur.

Pembenahan tanggul ini, lanjut Khofifah merupakan penanganan jangka pendek. Sedangkan untuk jangka panjang ia menginginkan sungai sudetan seperti di Bogor, Puncak dan Cianjur (Bopuncur).

BACA JUGA: Banjir Lumpuhkan Aktivitas di 15 Kota

Mantan menteri Sosial itu mengaku telah berkomunikasi dengan Menteri PUPR tentang sudetan di Bengawan Solo. "Format Bopuncur (Bogor, Puncak, dan Cianjur) bisa menjadi solusi jangka panjang karena kalau banjir dengan intensitas hujan tinggi, luapanya itu tidak menjadi banjir yang besar," urainya.

Pembangunan sudetan, masih menurut Khofifah diperlukan kerjasama dengan berberapa pihak. Pemerintah kabupaten berperan membebaskan lahan, sedangkan Kementerian PUPR melalui APBN membangun sungai sudetannya.