Jatim Darurat Banjir, ACT-MRI Buka Posko dan Lakukan Pendataan

Muhammad Taufiq
Muhammad Taufiq

Jumat, 8 Maret 2019 - 16:45

JATIMNET.COM, Surabaya-Hujan dengan intensitas tinggi mengguyur sejumlah wilayah Jawa Timur beberapa hari ini. Akibatnya, aliran air sungai dan drainase meluap hingga menyebabkan banjir parah. Kondisi ini dilaporkan terjadi di 15 kabupaten di provinsi paling timur Pulau Jawa itu.

Data sementara, banjir di 15 kabupaten tersebut telah menyebabkan lebih dari 12.495 kepala keluarga (KK) terdampak. Sebagian dari mereka sudah mengungsi ke tempat yang lebih aman.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho, merinci daerah-daerah yang mengalami banjir yakni Kabupaten Madiun, Nganjuk, Ngawi, Magetan, Sidoarjo, Kediri, Bojonegoro, Tuban dan Probolinggo. Kemudian Kabupaten Gresik, Pacitan, Tranggalek, Ponorogo, Lamongan, lalu Blitar. Daerah paling parah dialami Kabupaten Madiun.

BACA JUGA: Banjir, Hujan dan Salju Tewaskan 59 Orang di Afghanistan

Koordinator Program dan Penanganan Bencana Aksi Cepat Tanggap (ACT) Jawa Timur, Dipo Hadi Waskito, melaporkan langsung dari lokasi terdampak banjir di Madiun. ACT kini telah berkoordinasi dengan Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) di beberapa daerah yang terdampak untuk segera melakukan tindakan darurat. 

"Kami telah berkoordinasi dengan semua jejaring MRI dan BNPB di daerah-daerah yang terdampak. Karena banjir yang terjadi di Jatim ini terjadi hampir bersamaan dengan tingkat kedaruratan yang berbeda-beda, maka kami membuka pos komando (posko) kemanusiaan di daerah terdampak yang paling parah. Saat ini kami prioritaskan untuk penanganan di Madiun," kata Dipo.

Banjir akibat meluapnya sungai Jeroan yang merupakan anak sungai Madiun. Sebanyak 39 desa, 8 kecamatan di Kabupaten Madiun terendam banjir sehingga menyebabkan 4.317 kepala keluarga atau 17.268 jiwa terdampak banjir. Rumah rusak berat  2 unit, sawah tergenang  253 hektare, tanggul rusak 3 titik, jembatan rusak 2 unit, gorong-gorong rusak 1 unit, dan ribuan ternak terdampak. Bupati Madiun telah menetapkan masa tanggap darurat banjir selama 14 hari, mulai 6 hingga 19 Maret 2019.

Selain melakukan aksi evakuasi pada masa emergency, tim ACT-MRI yang turun ke lokasi bencana juga melakukan assessment terkait kerusakan dan kebutuhan warga yang diperlukan saat ini. Kebutuhan darurat warga saat ini diantaranya, Tikar, selimut, makanan siap saji, air minum, personal hygiene (pembalut, popok, alat mandi, pakaian dalam), obat-obatan, makanan bayi.

Sementara itu, ACT-MRI Ponorogo juga telah membuka Posko di Jalan Diponegoro 79, Tambakbayan, Ponorogo. Sebanyak 9 personel ACT-MRI yang turun ke lokasi bencana juga membagikan bantuan yang disalurkan melalui ACT-MRI Ponorogo.

Koordinator Daerah MRI Ponorogo Haris Danur, mengatakan bantuan dari masyarakat Ponorogo masih terus mengalir melalui posko ACT. "Posko ini akan terus kami buka sepanjang banjir situasinya belum kondusif," ujar Haris. Banjir terjadi di wilayah Kecamatan Balong. Di sana ruas jalan dan permukiman di terendam banjir.

Di Bojonegoro, seperti yang dilaporkan Sunhaji Gholib, Koordinator Daerah MRI Bojonegoro, banjir akibat meluapnya air Sungai Pacal yang berdampak pada 23 desa, 8 kecamatan di Kabupaten Bojonegoro dengan ketinggian air 30 - 40 centi meter. Sebanyak 1.382 rumah dan 121 hektare sawah terendam banjir.

"Saat ini tim Disaster Emergency Respon ACT-MRI Bojonegoro sudah bergerak untuk mengevakuasi dan melakukan pendataan. Semoga kondisi di lokasi bias segera membaik," kata Gholib.

Aksi Cepat Tanggap Jawa Timur masih terus berkoordinasi dengan BPBD, TNI, Polri, Basarnas, SKPD, PMI, Tagana, relawan dalam melakukan penanganan darurat. Evakuasi, pemberian bantuan permakanan, pendirian tenda dan lainnya masih dilakukan.

Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah melaporkan adanya aktivitas Madden Julian Oscillation (MJO) di Samudera Hindia. Hal ini menyebabkan curah hujan tinggi di kawasan Indonesia. 

MJO adalah fenomena gelombang atmosfer yang bergerak merambat dari barat (Samudera Hindia)  ke timur dengan membawa massa udara basah. Masuknya aliran massa udara basah dari Samudera Hindia ini meningkatkan potensi curah hujan bagi daerah-daerah yang dilalui, dalam hal ini beberapa wilayah di Jawa Timur termasuk wilayah yang dilalui MJO.

Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah melaporkan adanya aktivitas Madden Julian Oscillation (MJO) di Samudera Hindia. Hal ini menyebabkan curah hujan tinggi di kawasan Indonesia, termasuk di wilayah Jawa Timur.

MJO adalah fenomena gelombang atmosfer yang bergerak merambat dari barat (Samudera Hindia)  ke timur dengan membawa massa udara basah. Masuknya aliran massa udara basah dari Samudera Hindia ini meningkatkan potensi curah hujan bagi daerah-daerah yang dilalui.

Baca Juga

loading...